RUBIAKTO/RADAR DEPOK KREATIF: Abah Matul memanfaatkan barang bekas jenis paralon menjadi barang yang memiliki nilai seni dengan harga jual tinggi.
RUBIAKTO/RADAR DEPOK
KREATIF: Abah Matul memanfaatkan barang bekas jenis paralon menjadi barang yang memiliki nilai seni dengan harga jual tinggi.

Tinggal di kawasan proyek perumahan, banyak sampah proyek yang terbuang sia-sia, terutama paralon. Dengan memaksimalkan kreativitas, Abdul Rohman (27), mengubah barang bekas tersebut menjadi bernilai.

Laporan: Rubiakto

Kreativitas tidak mengenal batas. Kreativitas bisa mendatangkan penghasilan yang menguntungkan.

Seperti yang dilakukan Abdul Rohman (27), salah seorang pemuda yang tinggal di Jalan Pekapuran RT01/06, Kelurahan Sukamaju Baru, Kecamatan Tapos.

Melihat banyaknya pipa paralon berserakan, Abah Matul–nama bekennya-, merasa sayang untuk dibuang. Paralon sisa itu dikumpulkan dan dibawa pulang. Tiba di rumah, tangan terampilnya tidak bisa diam berkreasi.

Hasilnya, karya seni bernilai tinggi. Dari paralon bekas berubah menjadi kap lampu ukiran nan indah, asbak, tempat tidur, dan berbagai macam pajangan.

“Itu cerita satu tahun lalu saat saya mulai berkreasi. Saya pakai sendiri, tapi setiap ada tamu kok mereka senang. Dibawa dan akhirnya muncul banyak pesanan sampai sekarang,” cerita Abah Matul saat ditemui Radar Depok.
Awal berkreasi, Abah Matul hanya mengerjakan beberapa jenis kerajinan seperti asbak dan pajangan.

“Pajangan belum terlalu dilirik. Tapi setelah saya buat tempat lampu, pesanan mulai banyak,” katanya.

Prosesnya pun tidak terlalu rumit. Pipa paralon dibakar dengan flar bersuhu 60-75 derajat celcius. Pembakaran ini, menurutnya, untuk memecah permukaan pipa hingga memunculkan motif atau tekstur.

Bersamaan dengan pembakaran, pembentukan pipa sekaligus dilakukan dengan hati-hati agar tidak pecah.
Harga sangat bervariasi, Abah Matul menjual kerajinannya mulai harga Rp100.000 sampai Rp200.000.

“Kalau harga sangat variatif. Ditentukan dari ukuran dan kesulitan proses pembuatan,” kata Abah Matul. (*)