RUBIAKTO/RADAR DEPOK
KREATIF: Dari bongkahan pralon, abah matul membentuk pralon menjadi berbagai bentuk, seperti motif burung, tumbuhan, hingga tokoh kartun. Jika diamati hasil karya Abah Matul mirip patung suku asmay di papua.

Pipa paralon lazimnya dipakai untuk mengalirkan air. Namun di tangan Abah magtul (27), paralon bisa dijadikan kerajinan tangan bernilai tinggi.

Laporan: Rubiakto

Berawal dari iseng, Abah Matul tak pernah menyangka jika buah kreativitasnya dapat menjadi sumber penghasilannya. “Awalnya karena saya menganggur ya. iseng-iseng saya membentuk dan melukis di paralon. Ternyata hasilnya bagus,” katanya kepada Radar Depok.

Setelah terus bereksperimen, akhirnya dia yakin bahwa karyanya memiliki nilai ekonomi. Sekitar setahun lalu, ia pun memutuskan memproduksi lampu hias dari paralon tersebut dalam jumlah banyak.

“Saya pasarkan lampu hias saya lewat media sosial, Facebook dan lainnya. Dari sana mulai ada yang memesan,” katanya.

Pria yang tinggal di Jalan Pekapuran RT01/06, Kelurahan Sukamaju Baru, Kecamatan Tapos itu mengatakan untuk lampu hias paralon dipilih yang tembus. Paralon yang sudah dipilih lalu dipotong dengan ukuran 30-50 cm atau tergantung pesanan.

Setelah dipotong kemudian dilukis motif kupu-kupu, burung bunga. Ada juga bentuk kaligrafi, tokoh wayang maupun kartun.

Setelah dilukis, paralon kemudian dilubangi dengan menggunakan besi panas mengikuti bentuk lukisan. Lalu, pada tahap akhir memasang bola lampu di tengah paralon.

“Semakin rumit motif, pembuatan membutuhkan waktu lebih lama. Pembuatannya butuh ketelitian dan ketelatenan. Butuh kesabaran karena ini karya seni,” terangnya.

Lampu hias karya Abah Matul dijual dengan harga bervariasi. Harga tersebut bergantung pada kerumitan motif yang ada pada lampu hias. Diakui bapak satu anak ini, peminat lampu hiasnya mulai banyak yang memesan.

“Kami jualan via online, jika ada yang pesan langsung kita kerjakan,” tukas Abah Matul.