RUBIAKTO/RADAR DEPOK KREATIF: Untuk memasarkan hasil karyanya, Abah Matul memanfaatkan media sosial Instagram dengan nama @unik_langka_depok.
RUBIAKTO/RADAR DEPOK
KREATIF: Untuk memasarkan hasil karyanya, Abah Matul memanfaatkan media sosial Instagram dengan nama @unik_langka_depok.

Media sosial (medos) tidak melulu digunakan untuk hal negatif. Jika digunakan dengan benar, medsos malah dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah, seperti yang dilakukan Abah Matul.

Laporan: Rubiakto

Awalnya Abah matul kesulitan untuk menjual hasil karyanya. Memulai dengan hanya membuat hasil karya seni dan dibiarkan mangkrak di workshopnya tanpa ada yang menawar untuk dijual, akhirnya Abah Matul menemukan cara menjual melalui media sosial.

Awalnya Abah Matul agak kesulitan menjual hasil karyanya. Dia mengaku hanya menjual kepada teman-teman dan saudara. “Tapi itu kurang efektif,” kata Abah Matul.

Hingga akhirnya dia memanfaatkan media sosial untuk menjual hasil karyanya dan tentunya hasilnya lebih menguntungkan.

“Kami memanfaatkan Instagram, dengan ini masyarakat lebih mudah untuk melihat hasil karya saya. Pengirimannya juga lebih mudah,” katanya.

Berawal dari iseng, Abah Matul tidak pernah menyangka jika buah kreativitasnya dapat menjadi sumber penghasilan tetap.

“Awalnya karena saya menganggur ya. Iseng-iseng saya membentuk dan melukis di paralon. Ternyata hasilnya bagus,” katanya.

Setelah terus bereksperimen, akhirnya dia yakin bahwa karyanya memiliki nilai ekonomi. Sekitar setahun lalu, ia pun memutuskan memproduksi lampu hias dari paralon tersebut dalam jumlah banyak.

“Saya pasarkan lampu hias lewat media sosial, Facebook dan lainnya. Dari sana mulai ada yang memesan,” katanya.

Pria yang tinggal di Jalan Pekapuran RT01/06, Kelurahan Sukamaju Baru, Kecamatan Tapos, mengatakan, untuk lampu hias paralon dipilih yang tembus. Paralon yang sudah dipilih lalu dipotong dengan ukuran 30-50 centimeter atau tergantung pesanan.

Setelah dipotong kemudian dilukis motif kupu-kupu, burung bunga. Ada juga bentuk kaligrafi, tokoh wayang maupun kartun.

Setelah dilukis, paralon kemudian dilubangi dengan menggunakan besi panas mengikuti bentuk lukisan. Lalu, pada tahap akhir memasang bola lampu di tengah paralon.

“Semakin rumit motif, pembuatan membutuhkan waktu lebih lama. Pembuatannya butuh ketelitian dan ketelatenan. Butuh kesabaran karena ini karya seni,” terangnya.

Lampu hias karya Abah Matul dijual dengan harga bervariasi. Harga tersebut bergantung pada kerumitan motif yang ada pada lampu hias.

Diakui bapak satu anak ini, peminat lampu hiasnya mulai banyak yang memesan. “Kami jualan via online, jika ada yang pesan langsung kita kerjakan,” tukas Abah Matul. (*)