SABIK AJI TAUFAN/JAWA POS BERI PENJELASAN: Menko Polhukam, Wiranto ketika memberikan keterangan pers di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat, Jumat Malam (5/10).
SABIK AJI TAUFAN/JAWA POS
BERI PENJELASAN: Menko Polhukam, Wiranto ketika memberikan keterangan pers di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat, Jumat Malam (5/10).

JAKARTA – Jumlah korban jiwa pasca gempa bumi dan tsunami yang melanda kota Palu, kabupaten Donggala dan sekitarnya, jumlah korban jiwa terhitung banyak sekali. Secara bertahap tim SAR gabungan mulai melakukan proses penguburan jenazah.

Menteri Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Wiranto mengatakan sampai H+7 setelah gempa bumi, total 1.648 jenazah dari Palu, Donggala, dan Sigi sudah dimakamkan masal. Sementara itu untuk korban hilang diperkirakan masih lebih dari 500 jiwa.

“Jadi, 1.648 itu yang dimakamkan, yang masih hilang 563 dan yang tertimbun ini ada 162 jiwa. Nah, yang tertimbun ini kan perlu digali, perlu diidentifikasi dulu,” ujar Wiranto di Kemenko Polhukam, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Jumat (5/10).

Keputusan melakukan pemakaman masal ini diambil demi menghindari menumpuknya jenazah, yang bisa memicu timbulnya penyakit. Sehingga penanganan korban harus dilakukan secara cepat.

“Tapi kita sudah memerintahkan jangan ada mayat yang disimpan lagi, nanti bisa timbulkan penyakit. Juga banyak jenazah yang tidak ditanam di kuburan masal, karena diminta keluarganya,” imbuh Wiranto.

Lebih jauh mantan Panglima TNI itu memastikan proses evakuasi akan terus dilakukan. Belum ada keputusan bersama kapan pencarian korban akan dihentikan. “Sekarang masih dilaksanakan pencariam, tapi nggak mungkin semuanya (korban) ditemukan,” tandasnya.

Sementara itu, ribuan warga Palu, Kabupaten Donggala hingga Sigi, memadati anjungan Pantai Talise, Kota Palu, Jumat (5/10). Warga yang merupakan korban selamat dari bencana gempa disusul tsunami ini, melakukan zikir akbar dan doa bersama di kawasan reruntuhan puing-puing bangunan yang hancur.

Mengenakan seragam dan jubah putih, mereka melantunkan Salawat dan kalimat-kalimat Asmaul Husnah. Ribuan warga ini larut dalam suasana haru disela-sela zikir. Tak sedikit dari mereka bahkan menangis merenung bencana meluluhlantakan seisi kota ini.

Zikir bersama ini dipimpin oleh pimpinan Majelis Djikir Nuurul Khairat, Almukarom Al Habib Soleh Bin Abubakar Al Idrus.     “Zikir ini supaya kita bisa lebih merenungkan tentang bencana apa yang sedang terjadi. Kita diberikan ujian tentang apa yang kita lakukan ini bisa jadi adalah sebuah teguran,” jelas Abdul Rahman, salah seorang tokoh masyarakat dalam Majelis Zikir Akbar, di Anjungan Talise, Jumat (5/10).

Gelaran zikir akbar juga sebagai wujud dan rangkaian untuk memperingati dan mendoakan seluruh korban yang meninggal dunia dalam bencana alam itu. Zikir, tersebut diinisiasi oleh seluruh korban selamat. Ini merupakan bentuk kesadaran mereka.

“Kota Palu dicuci karena terlalu banyak sesuatu yang tidak bagus. Makanya warga berinisiatif sendiri untuk melalukan zikir ini. Kita panggil Habib dan akhirnya beliau menyepakati dan memimpin langsung zikir akbar ini,” terangnya.

Zikir diakhiri jelang Salat Magrib sore tadi. Setelah Salat Magrib, mereka melanjutkan dengan agenda salat gaib sebelum akhirnya membubarkan diri dari lokasi, tepat di Anjungan Pantai Talise, pusat Kota Palu. (sat/rul/JPC/gun)