Presiden Joko Widodo saat minum teh bersama Prabowo Subianto di Istana Negara. (jpnn/jawapos.com)
Presiden Joko Widodo saat minum teh bersama Prabowo Subianto di Istana Negara. (jpnn/jawapos.com)

JAKARTA – Sekira lima bulan kurang, rakyat Indonesia akan merayakan pesta demokrasi Pemilihan Presiden (Pilpres), April 2019 mendatang. Pasangan Joko Widodo-Maruf Amin nomor urut 1 dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno nomor urut 2, beberapa bulan ini sudah hilir mudik blusukan demi suara. Tapi, sejauh mana suara kedua calon pilpres tersebut.

Kemarin, Direktur Y-Publica Rudi Hartono memaparkan, elektabilitas Jokowi-Ma’ruf di Jawa mencapai 54,4 persen, sedangkan pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno meraih 28,8 persen. Kemudian di Sulawesi, Jokowi Ma’ruf mendapat 56,3 persen, Prabowo-Sandi 25,5 persen.

“Di Kalimantan, Bali dan Nusa Tenggara, Kemudian Maluku dan Papua, pasangan Jokowi-Ma’ruf terpaut jauh dari Prabowo-Sandi,” katanya saat memaparkan hasil survei di Bakoel Coffee, Cikini, Jakarta Pusat.

Dia menambahkan, pasangan Jokowi-Ma’ruf kalah tipis dari Prabowo-Sandi di Sumatera. Di pulau yang berpenduduk sekitar 50 juta jiwa itu, Prabowo-Sandi mendapat 42,6 persen, sedangkan Jokowi-Ma’ruf 40,8 persen.

Sementara, Alvara Research Center melakukan survei nasional terkait Pilpres. Survei digelar 8-22 Oktober 2018 di 33 provinsi. Hasil survei menyebutkan, elektabilitas pasangan calon Joko Widod-Ma’ruf Amin unggul daripada Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

“Elektabilitas Jokowi-Ma’ruf 54,1 persen, sedangkan Prabowo-Sandi 33,9 persen,” kata CEO Alvara Research Center Hasanuddin Ali di Menteng, Selasa (6/11).

Sedangkan jumlah pemilih yang belum menentukan pilihan sebesar 12 persen. “Sedangkan bila dilihat dari soliditas pemilih, 55 persen pemilih Jokowi tidak akan mengubah pilihannya. Pemilih Prabowo 57,7 persen tidak akan mengubah pilihannya,” ujarnya.

Sebelumnya, elektabilitas pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin mencapai 52,6 persen dalam Pilpres 2019. Sedangkan pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno mendapat 32,7 persen.

Hal itu berdasarkan hasil survei terbaru Litbang Kompas yang digelar 24 September-5 Oktober 2018. Mereka yang belum menentukan pilihan atau merahasiakan pilihannya sebesar 14,7 persen.

“Seandainya 14,7 persen responden ini merapat kepada Prabowo-Sandi, dalam hitungan sederhana, peluang Jokowi- Ma’ruf masih sedikit lebih lebar,” kata Bambang Setiawan dari Litbang Kompas.

Calon Wakil Presiden, Maaruf Amin merasa bersyukur. “Ya, alhamdulillah memang itu yang kita harapkan ya,” ucap Ma’ruf di Rumah Situbondo, Jakarta, Selasa (6/11).

Dia pun berharap semakin hari suaranya semakin meningkat dan terus unggul. “Mudah-mudahan ke depan, unggulnya lebih banyak lagi. Amin ya rabbalamin. Itu harapan ya,” singkat Maruf.

Terpisah, Ketua Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Djoko Santoso meminta timnya bekerja lebih keras dalam pemilihan presiden 2019. Djoko mengatakan, hasil survei dari sejumlah lembaga yang menunjukkan Prabowo-Sandiaga kalah elektabilitas dari Joko Widodo-Ma’ruf Amin harus menjadi peringatan bagi tim pemenangan.

“Ini sudah semakin dekat, maka kami harus bekerja paling enggak dua kali lipat. Kan selalu kami yang namanya survei kalah terus, ya paling itu sebagai warning,” kata Djoko di Media Center Prabowo-Sandi, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa, 6 November 2018.

Sejumlah sigi lembaga survei memang mencatat Prabowo tertinggal dari Jokowi. Survei Indikator pada 1-6 September lalu, misalnya, mencatat elektabilitas Prabowo sebesar 31,1 persen, sedangkan Jokowi unggul dengan 57 persen.

Begitu pula hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting yang dirilis pada awal Oktober lalu. MRC mencatat, berdasarkan survei yang dilakukan pada 7-14 September lalu, elektabilitas Jokowi 60 persen, sedangkan Prabowo 28,7 persen. SMRC juga menyimpulkan bahwa peluang Jokowi untuk memenangi pilpres semakin besar.

Djoko mengatakan timnya juga memiliki sigi internal. Merujuk pernyataan Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Hashim Djojohadikusumo, Djoko mengatakan bahwa selisih suara Jokowi dan Prabowo tak terpaut jauh.

Hashim sebelumnya mengatakan, bahwa Jokowi hanya unggul 6-11 persen dari Prabowo. “Jadi tidak (selisih) 22 persen seperti survei-survei lain,” kata Hashim di Media Center Prabowo-Sandi.

Terkait dengan hasil survei-survei itu, Djoko mengatakan, dia sebenarnya tak terlalu percaya hasil survei. Menurut mantan Panglima Tentara Nasional Indonesia ini, yang terpenting badan pemenangan Prabowo bekerja lebih keras. “Kalau kami dibilang kalah, ya kami harus kerja lebih keras lagi,” tandasnya.(tmp/JPC/trb/hmi)