RUBIAKTO/RADAR DEPOK MELUAP: Sampah kiriman dari Kabupaten dan Kota Bogor menumpuk di jembatan Jalan Masjid Assalafiah RT4/1 Cipayung Jaya, Cipayung. Bahkan sampah juga meluap hingga berserakan di Jalan Raya Cipayung.
RUBIAKTO/RADAR DEPOK
MELUAP: Sampah kiriman dari Kabupaten dan Kota Bogor menumpuk di jembatan Jalan Masjid Assalafiah RT4/1 Cipayung Jaya, Cipayung. Bahkan sampah juga meluap hingga berserakan di Jalan Raya Cipayung.

DEPOK – Kabupaten Bogor dan Kota Bogor yang berada di hulu, wajib mengarahkan warganya tertib buang sampah. Gara-garanya, Kota Depok yang berada di perbatasan, jadi ketiban pulung. Kemarin malam, puluhan ton sampah dari Kota Hujan tersebut, menimbun Kali Baru di Jalan Masjid Assalafiah RT4/1 Kelurahan Cipayung Jaya, Cipayung.

Pantauan Radar Depok di lokasi, sampah yang menumpuk di Kali Baru Cipayung terdiri dari berbagai macam jenis sampah. Mulai dari sterofoam, kayu, dan sampah rumah tangga. Bahkan, sampah yang tertahan jembatan Assalafiah mencapai panjang sekitar satu kilometer.

Ketua RT4/1 Cipayung Jaya, Edi Saputra mengatakan, hujan yang lebat dari sore hari selain membawa air, ternyata juga membawa sampah kiriman dari Kabupaten dan Kota Bogor. “Hujannya dari sore, membawa sampah kiriman,” kata Edi kepada Harian Radar Depok semalam.

Dia mengeluhkan tidak ada upaya dari Dinas Bogor terkait  melakukan pembersihan sampah yang berserak di Jalan Raya Cipayung. “Ini seperti tidak ada yang mau bersihkan, orang Bogor juga ngga ada yang tanggungjawab buang sampah di kali. Kota Depok juga,” tegasnya.

Sampah ini, kata dia bisa berpuluh ton. Bisa dilihat timbunan sampah di Kali Baru bisa mencapai satu kilometer panjangnya. Akibat tertutup sampah, warga harus memutar melalui Masjid Nurul Yakin. Tak hanya itu, air juga sempat membaajiri rumah warga. “Terpaksa warga harus memutar, karena jalan tertutup sampah, bahkan ketinggian sampah diatas jembatan bisa sampai satu meter,” terang Edi.

Saat ini, sambungnya warga bersama-sama mengangkut sampah yang menutup kali. Kalau tidak dibenahi banjir akan meluas. “yang kami bisa hanya mengangkut agar aliran terus mengalir. Sampah kiriman Bogor benar-benar menimbun disini,” ujarnya.

Sementara, Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (DPUPR) Depok, Citra Indah Yulianti menyebutkan, daerah perbasatan memang seperti itu. Seharusnya Bogor memiliki petugas juga yang tipa kali bisa memantau sampah di aliran kali. “Kalau seperti ini kitanya yang kena imbasnya. Padahal sampah dari Bogor. Kami akan minimalisir sampah di lokasi agar aliran air bisa jalan,” tegasnya singkat.

Terpisah, Kepala Bidang Pengelolaan Sampah (DLH) Kabupaten Bogor, Atis Tardiana mengungkapkan, sebelumnya sebanyak 30 truk hanya bisa mengangkut 150 ton sampah dari Kali Baru. Nah, sampah di kali tersebut beratnya mencapai 500 ton.

“Rata-rata satu truk mengangkut 5 ton. Jadi yang berhasil diangkut ada 150 ton. Karena basah jadi berat,” ungkapnya.

Meski membutuhkan armada truk tambahan, sampah di dalam kali tetap diangkut ke darat menggunakan exavator. Terpenting menurutnya sampah rumah tangga itu tidak membuat aliran Kali Baru menjadi tersendat.

Atis mengatakan, kegiatan ini akan tidak ada artinya jika masyarakat abai pada kebersihan. Pasalnya, pengangkutan sampah itu sudah berulang kali dilakukan, tapi selanjutnya tetap dicemari sampah. “Kegiatan ini sudah sering di lakukan oleh DLH, tapi tetap tidak menyelesaikan masalah,” kata Atis.

Ia berharap masyarakat sadar akan lingkungan. Bukan hanya membuat aliran tersendat, sampah yang tertimbun di air kali itu berpotensi menimbulkan penyakit di kemudian hari. “Harus didukung oleh kepedulian warga sekitar bantaran kali baru, untuk tidak membuang sampah ke kali baru,” tukasnya.(rub)