FIB UI FOR RADAR DEPOK WAWANCARA: Tim FIB UI sedang mewawancarai warga Depok lama.
FIB UI FOR RADAR DEPOK
WAWANCARA: Tim FIB UI sedang mewawancarai warga Depok lama.

DEPOK – Depok merupakan wilayah di Jawa Barat yang bertransformasi menjadi kota modern dengan sangat cepat. Akan tetapi pembangunan yang dilakukan seakan melupakan identitas dan sejarahnya.

Pada saat ini banyak bangunan bersejarah (cagar budaya) di daerah Depok Lama yang dihancurkan dan dialihfungsikan tanpa menyisakan bentuk aslinya. Banyak bangunan beralih fungsi menjadi pertokoan, kios, rumah makan, dan fasilitas komersil lainnya. Sebab itu, perkembangan budaya, tradisi, dan heterogenitas masyarakat Depok semakin terkikis oleh perkembangan zaman yang tidak terarah.

Berdasarkan laporan dari Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein, sudah sebanyak 75 persen bangunan bersejarah di Kota Depok tidak berbekas. Pasalnya, pembangunan kota yang diinisasi oleh Pemda Depok tidak terencana dengan baik.

Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) sebagai lembaga akademis dan institusi di garis depan dalam mengkaji dan melestarikan budaya melakukan aksi menanggapi polemik ini. Melalui Program Pengabdian Masyarakat, tim dari FIB UI yang terdiri dari Program Studi Arkeologi, Program Studi Sejarah, dan Program Studi Belanda membuat repositori digital akan memori dan sejarah Kota Depok dalam bentuk website. Website ini dapat diakses melalui laman http://depoklamaproject.com.

“Tujuan dari program pengabdian masyarakat ini untuk menciptakan database memori terkait sejarah perkembangan Kota Depok, serta dapat menjadi landasan melakukan konservasi dan perawatan bangunan bersejarah tingkat lanjut oleh instansi pemerintahan terkait,” tutur Departemen Arkeologi FIB UI, Alqiz Lukman.

Disamping itu, website ini juga bertujuan untuk menjadi media edukasi tentang sejarah, budaya, dan peristiwa yang terjadi di Kota Depok. Sehingga pembelajaran mengenai masa lalu yang didapatkan dapat membantu mengkonstruksi masa depan, Kota Depok khususnya, menjadi kearah lebih baik.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati sejarah. Mau diapain lagi? Sudah terjadi kok. Tetapi kita tidak bisa mengelak bahwa banyak hal yang disayangkan dari kejadian itu. Kita sebagai bangsa Indonesia tidak boleh dipecah-pecah karena perbedaan,” ucap salah satu warga, Suzana Leander. (gun/**)