IRWAN/RADAR DEPOK MURAH MERIAH: Pemilik produksi Nyonya Nugraha yang juga pasangan suami istri, Vipo Adrijani (42) dan Santua Nugraha (53), memperlihatkan hasil produksi rumahan berupa kerupuk yang terbuat dari kulit pisang di kediamannya RT02/05, Kelurahan Bojong Pondok Terong (Boponter), Kecamatan Cipayung, kemarin.
IRWAN/RADAR DEPOK
MURAH MERIAH: Pemilik produksi Nyonya Nugraha yang juga pasangan suami istri, Vipo Adrijani (42) dan Santua Nugraha (53), memperlihatkan hasil produksi rumahan berupa kerupuk yang terbuat dari kulit pisang di kediamannya RT02/05, Kelurahan Bojong Pondok Terong (Boponter), Kecamatan Cipayung, kemarin.

Berawal dari coba-coba, pasangan suami istri ini mengelola limbah kulit pisang menjadi kerupuk renyah nan enak. Vipo Adrijani (42) dan sang suami, Santua Nugraha (53), mendapat rejeki dari usaha rumahan yang mereka kelola.

Laporan: MUHAMMAD IRWAN SUPRIYADI

Makanan adalah salah satu kebutuhan pokok yang tidak bisa lepas dari kehidupan manusia. Dari situlah banyak orang yang mulai mencoba keberuntungan hingga meraih kesuksesan dari bisnis makanan ringan. Khususnya bagi para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kota Depok.

Seperti yang dilakukan pelaku usaha UMKM dengan brand Nyoya Nugraha yang dimiliki Vipo Adrijani.

Dalam mengeluti usaha kuliner ini, Vipo dan suami pernah mengalami kegagalan. Namun, kegagalan tersebut justru menjadi suatu tantangan tersendiri bagi Vipo, hingga akhirnya kesuksesan dapat mereka raih sedikit demi sedikit.

“Kami awal mencoba inovasi bisnis makanan ringan. Suami yang awal mula menemukan ide pembuatan kerupuk dari limbah kulit pisang,” cerita Vipo ketika ditemui di kediamannnya RT02/05, Kelurahan Bojong Pondok Terong (Boponter), Kecamatan Cipayung, kemarin.

Sambil didampingi suami tercinta, Vipo menceritakan awal mula membuat kerupuk dari bahan kulit pisang.

Ketika itu, sang suami mengajak Vipo keliling Depok. Sebelumnya, suaminya sudah memiliki rencana dipikiranya untuk mencari limbah pisang. “Awalnya suami saya cari limbah kulit pisang untuk pupuk, ” ucapnya.

Setelah mendapatkan bahan limbah kulit pisang, sang suami pun mendapat ide cemerlang usai membaca informasi di internet bahwa kandungan kulit pisang banyak manfaatnya. Seperti untuk perawatan kulit, kalsium, vitamin c dan asam folat. “Bahkan di Sumatera Utara (Medan) makan pisang sama kulit-kulitnya,” kata Vipo.

Setelah itu, hasil produksi kerupuk berbahan kulit pisang ini pun mulai laku di pasaran dan disukai semua kalangan. “Sebelumnya saya izin dulu buat P-IRT dari Dinkes Depok, sudah bisa dikonsumsi dan aman,” tuturnya.

Lebih lanjut ibu tiga orang anak ini menjelaskan, untuk produk sudah diberinama yaitu Gekaje. Gekaje ini diambil dari ketiga anaknya.

“Sekarang ini saya lagi proses pengajuan label halal di Disperindag. Mudah-mudahan cepat. Berharap dapat perhatian pemerintah kota untuk modal, karena membutuhkan open pengering,” ucap Vipo. (Bersambung)