DEPOK – Fenomena penemuan air rebusan pembalut wanita, yang ternyata bisa digunakan untuk mabuk–mabukan. Menjadi perhatian khusus pemerintah dan aparat kepolisian. Kendati di Depok belum ada temuan. Polisi dan Pemerintah Kota Depok terus melakukan pemantauan serta pencegahan.

Kasatnarkoba Polresta Depok, Kompol Indra Tarigan mengatakan, secara preventif pihaknya menggandeng tokoh agama dan karang taruna untuk bersama-sama mencegah narkoba, dan memperkenalkan trend baru air rebusan pembalut.

“Preventifnya, dengan penyuluhan kita lakukan, dengan menggandeng Babinmas yang telah ditempatkan pada setiap wilayah Kota Depok, kita gabung dengan mereka untuk menghubungkan kita kepada tokoh agama dan karang taruna,” ucap Indra saat dihubungi Harian Radar Depok, Senin (12/11).

Menurutnya, penyelidikan untuk memperoleh informasi fenomena yang meresahkan masyarakat tersebut tidak bisa dilakukan secara undercover. Namun, perlu dilakukan pendekatan di lapangan dengan memanfaatkan sumber-sumber kalangan remaja.

“Ya, masalah ini cenderung sasarannya adalah pemuda, jadi kita lakukan pendekatan terhadap ketua-ketua karang taruna di wilayah, sambil kita koordinasi dengan anggota Polres dan Polsek mencari informasi,” jelasnya.

Selain itu, Indra menerangkan dalam melakukan identifikasi untuk kasus rebusan pembalut ini ada beberapa kendala salah satunya payung hukum. Apabila seandainya kepolisian berhasil mengungkap kasus tersebut.

“Payung hukumnya belum kita dapatkan, lalu kalaupun nantinya ada korban harus dipastikan secara pasti apakah penyebab mereka teler. Karena kandungan dari air rebusan itu. Tentunya harus di cek laboratorium dengan proses yang panjang juga,” terangnya.

Namun, secara tegas Tarigan menyatakan, hingga saat ini belum ditemukan adanya pemakaian air rebusan pembalut untuk mabuk – mabukan di Kota Depok. “Indikasi kearah pengguna (air rebusan pembalut) belum kami temukan, begitu juga dengan oplosan menggunakan bahan – bahan lain,” terangnya.

Sementara itu, Kepala BNN Kota Depok AKBP Rusli Lubis menuturkan, telah berkoordinasi dengan Satnarkoba Polresta Depok untuk menemukan pengguna trend memabukkan model baru tersebut. “Saat mendengar informasi ini, kita langsung bergerak dan belum ditemukan untuk di wilayah Kota Depok,” singkatnya.

Terpisah, Sekertaris Dinas Kesehatan Kota Depok, Ernawati mengaku, telah mengetahui masalah air rebusan pembalut itu. “Ya kita monitor, namun untuk di wilayah Depok ga ada yang menggunakan seperti itu, namun pencegahan terus kita lakukan dengan penyuluhan – penyuluhan dimasyarakat mengenai masalah baru ini,” bebernya.

Menurut informasi yang dihimpun, aksi sejumlah remaja mabuk dengan air rebusan pembalut tersebut ditemukan di wilayah Kabupaten Kudus. Usia pengguna bervariasi mulai umur 13 hingga 16 tahun. Anak-anak jalanan yang “fly” rebusan pembalut di Kudus tersebut, memperoleh pembalut dari pembalut bekas yang dipungut dari sampah. Pembalut bekas tersebut, selanjutnya direbus dengan air putih. Setelah dibiarkan dingin kemudian diminum, aku kandungan Pembalut wanita yaitu klorin dan bubuk polyacrylate.(irw)