Pemkot For RADAR DEPOK MERESMIKAN : Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil didampingi Walikota Depok Mohammad Idris ketika meninjau TPPAS Regional Lulut-Nambo, Jumat (21/12).
Pemkot For RADAR DEPOK
MERESMIKAN : Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil didampingi Walikota Depok Mohammad Idris ketika meninjau TPPAS Regional Lulut-Nambo, Jumat (21/12).

DEPOK – Usai Tempat Pengelolaan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Regional Lulut-Nambo (Luna), di groundbreaking. Nantinya, beban sampah yang dibuang ke TPA Cipayung berkurang 300 ton perhari. Artinya,  masih tersisa 430 ton sampah Depok yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung.

Walikota Depok, Mohammad Idris mengatakan, pembuangan sampah ke TPPAS Regional Lulut-Nambo dipastikan sudah bisa 2019. Namun, jumlah sampah dibuang ke sana hanya 300 ton perhari. Idris menjelaskan, jumlah 300 ton sampah yang dibuang ke TPPAS itu dari Depok, berdasarkan perjanjian dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Sementara, menyangkut nasib TPA Cipayung yang sejak tahun 2015 lalu sudah tak mampu menampung sampah. Idris mengatakan, TPA Cipayung tetap beroperasi hingga nanti seluruh sampah produksi warga Depok dapat dibuang ke TPPAS Lulut-Nambo.

“TPA Cipayung masih berfungsi, kan baru 300 yang dibuang ke Lulut-Nambo. Yang terbuang ke TPA Cipayung 750-an ton per hari, kalau bisa dikurangi 300 berarti kan sudah berkurang 450 ton,” kata Idris, kepada Harian Radar Depok belum lama ini.

Perihal truk pengangkut sampah yang dikerahkan, Idris mengatakan hanya truk sampah model bak tertutup yang boleh membuang sampah ke TPPAS Lulut-Nambo. Pemkot Depok juga bakal membeli truk dan sejumlah alat berat, yang menunjang pengelohan sampah berteknologi canggih. Pengolahan sampah disana hasilnya berwujud briket dan digunakan sebagai bahan bakar industri semen.

“Kita sudah beli, sedang transaksi untuk membeli alat berat DLHK dan mobil yang bisa menekan sampah. Tiga mobil kita beli, Insya Allah bisa dipakai tahun 2019,” ujar walikota.

Selain alat berat dan truk sampah, dalam waktu dekat ini DLHK Kota Depok bakal merekrut sejumlah sopir truk baru yang bertugas mengirim sampah ke TPPAS Lulut-Nambo.

Pasalnya, jumlah truk dan sopir harus seiring. Sehingga pengiriman ratusan ton sampah per harinya berjalan mulus dan mampu mengurangi beban di TPA Cipayung, yang sejak tahun 2015 sudah kelebihan beban.

“Anggaran sudah disiapkan Rp11 miliar untuk 2019, tinggal merekrut tenaga driver. Artinya kalau kita punya truk lebih banyak artinya akan menyedot sopirnya lebih banyak. Typing fee bisa 3 kali lipat dari Rp11 miliar,” tuturnya.

Idris menyebut, pada April atau Juni tahun 2020 mendatang TPPAS Lulut-Nambo akan berfungsi penuh. Selain Depok, TPPAS Lulut-Nambo juga bakal menampung sampah Kota Bogor, Kabupaten Bogor dan Tangerang Selatan dengan kapasitas pengolahan mencapai 1.800 ton per hari.

“Perkiraannya 18 bulan selesai. Artinya April atau Juni sudah selesai dan sudah bisa dioperasikan 2020. Kapasitas hampir 2.000 ton per hari dari 4 wilayah. Depok, Kota Bogor, Kabupaten Bogor, dan Tangerang Selatan. DKI sudah melirik tapi ditolak sama Gubernur Jawa Barat,” tuturnya.

Sebagai penunjang pengakutan sampah di Kota Depok. Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok, tahun ini menambah enam armada pengangkutan sampah. Enam unit itu rinciannya satu mobil tronton dan lima truk kompektor.

Kepala Bidang Kebersihan DLHK Depok, Iyay Gumelar menuturkan, penambahan unit armada sebagai penunjang pengangkutan sampah di Depok. Selain itu, juga persiapan untuk pembuangan sampah, ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Regional Lulut Nambo di Kabupaten Bogor pada 2019 mendatang. Sebab, pembangunan TPA tersebut kini dalam proses pembuatan Ipal.

“Kalau melihat jumlah armada yang ada masih kurang, maksimalnya harus punya 250 unit dalam kondisi bagus untuk mengangkut sampah di Depok,” kata Iyay.

Menurutnya, jumlah kendaraan saat ini sangat kurang untuk pengangkutan sampah DLHK Depok. Kini Depok hanya memiliki 110 unit armada terdiri dari mobil tronton dan truk biasa. Dari 110 armada yang ada masih ada mobil tahun 2006 beroperasi. Meski begitu kendaraan tersebut dirawat sebaik mungkin untuk beroperasi. “Pengadaan armada sampah di Depok secara bertahap dilakukan,” ucap Iyay.

Armada kendaraan yang masih beroperasi mengangkut sampah, sambung Iyay, 600 hingga 700 ton sampah setiap harinya dibuang ke TPA Cipayung. Rata-rata satu armada membawa sampah sebanyak 3 sampai 4 ton sekali angkut.

“Dengan jumlah armada yang ada, diharapkan sampah di Depok terangkut. Dan Kami harap juga warga Depok mesti memilah sampah sebelum dibuang. Sehingga mengurangi volume sampah ke TPA,” ungkapnya.

Lebih lanjut, kata dia, setelah pembuangan sampah ke TPA Nambo berjalan. TPA Cipayung akan dilaukan revitalisasi. “Tidak ditutup, kita revitalisasi tapi masih tunggu pembahasan,” ucapnya.

Kepala Unit Pelaksanaan Teknis (UPT) TPA Cipayung, Ardan mengatakan, pelaksaan rekapitalisasi TPA Cipayung merupakan program jangka pendek. Program jangka pendek DLHK Depok untuk TPA Cipayung sudah dikoordinasikan.

Ada dua program untuk melakukan rekapitalisasi, antara lain memindahkan sampah ke tempat lahan baru atau dengan sistem moderen cangih yakni Landfil Mining. Dan Pembuangan sampah ke TPA Regional Lulut–Nambo. Landfil Mining ini merupakan teknologi cangih yang mengunakan mesin. “Masih tahapan kajian dan baru DED. Direncanakan pada 2020 hingga 2021 akan dikerjakan,” kata Ardan, kepada Harian Radar Depok, kemarin.

Penggunaan Landfil Mining untuk berbagai sampah seperti plastik, logam, dan lain-lain. Rencana ini masih dalam pembahasan dan akan berkoordinasi dengan Kementreian Pekerjaan Umum. “Untuk anggaran kita akan meminta bantuan dan berkoordinasi dengan pihak Kementerian PU,” terang Ardan.

Menurut dia, sampah di TPA Cipayung sudah mengkhawatirkan dengan ketinggian sampah mencapai 26 meter.(irw)