IRWAN/RADAR DEPOK MANTAP : Komunitas mancing bernama Jurnalis Mancing Indonesia (JMI) melakukan kegiatan mancing di daerah Kukusan, Beji, kemarin.
IRWAN/RADAR DEPOK
MANTAP : Komunitas mancing bernama Jurnalis Mancing Indonesia (JMI) melakukan kegiatan mancing di daerah Kukusan, Beji, kemarin.

DEPOK – Jika sudah hobi sudah tidak melihat finansial yang dikeluarkan, terpenting keinginan bisa tersalurkan. Hal itu ada di benak para pengemar mancing terutama para komunitas. Alat pancing dan mencari spot memancing yang terbilang mahal, bukan halangan. Malah, sampai keluar kota untuk mencari sensasi menarik ikan besar. Berbeda dengan pemacingan yang memang melulu mencari nasib diujung kail, untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah.

Ketua Jurnalis Mancing Indonesia (JMI), Folber Sialagan mengatakan, soal hobi mancing kalau harga alat pancing dan kegiatannya mahal itu relatif. “Alat sih relatif ya kalau bilang mahal atau nggak, kan sekali beli bisa dipakai lama dan berkali-kali,” ujarnya.

Menurut dia, kegiatan mancing ini sebagai wadah kumpul bareng antar para hobi mancing. Bahkan, kumpul bareng ini menghasilkan ide dan membahas tackle, alat terbaru, spot yang menarik, semua perkembangan teknologi dunia mancing paling sering. Jadi bahan obrolan. “Ajang silaturahmi. Kalau ada lomba kita banyak yang ikutan, kemarin di Halmahera terus yang di Riau,” ucapnya.

Setiap mengikuti perlombaan tentu tidak mengeluarkan kocek dana sedikit. Lomba mancing bisa megeluarkan jutaan rupiah. Namun, kata dia, berbicara komunitas untuk di dunia perlombaan, yang terpenting juara. Dengan dapat juara, nama komunitas terkenal di dunia mancing. “Hadiah hanya pelengkap aja, kebanggaan jadi juara itu yang paling penting,” bebernya kepada Harian Radar Depok.

Di JMI, komunitas mancing yang tidak sekadar berlumpul untuk mancing. Tetapi lebih luas melakukan gerakan kepedulian terhadap sesama, lingkungan dan bangsa. “Jadi setiap komunitas berbeda-berbeda tujuannya,” kata dia.

Sementara, Penasehat JMI, Pratama Persahda mengaku, memancing saat ini arahnya bukan hanya untuk melampiaskan kegemaran memancing saja. Tetapi, komunitas mancing ini lebih jauh mulai berusaha menyebarkan berbagai kebaikan, untuk lingkungan sekitarnya.

Kebaikan lingkungan maksudnya menjaga lingkungan air, membantu masyarakat sekitar memberdayakan potensi nya. Juga melakukan kegiatan sosial di lingkungan sekitar tempat even mancing, membuat pelatihan-pelatihan ringan untuk anak-anak sekolah, dan lainya.

Kalau untuk perlombaan dapat hadiah dengan jutaan rupiah, kata dia, itu untuk penambah semangat saja. Tapi, kalau untuk pemancing sejati, bukan hadiah yang dikejar, tapi kenikmatan proses memancingnya itu sendiri. “Melatih kesabaran, konsentrasi, kesigapan, pengambilan keputusan yang cepat dan lain. Kalau hadiah sebagai bonus dan pemacu andrenalin saja,” ulas Pratama.

Terpisah, Anggota Komunitas Mancing Depok, Ulloh Saifudin mengaku, mancing sudah menjadi kegemaran. Bahkan, melakukan mancing ketika mood atau perasaan lagi enak tidak punya uang, bela-belain mendaftar dan ikut lomba. “Gak penting juara yang penting tersalurkan keinginan. Kan susah kalau sudah hobi,” ujar Ulloh.

Jika melihat dana yang dibutuhkan mancing dan lomba mancing, memang besar. Belum lagi, terkait umpan yang cukup mahal dengan berbagai baham racikan. “Kalau umpan bagus memerlukan dana cukup mahal. Kalau standar dan sederhan biasanya Rp200 sampai Rp300 ribuan,” kata dia.

Belum lagi, sambungnya mengikuti lomba. Nah lomba ini tentu berbagai harga kalau di Depok biasanya Rp200 ribu , Rp350 ribu, sampai jutaan pun ada. Itu pun tergantung aturan main lomba yang diadakan. “Kalau saya mah ikut paling di bawah Rp1 juta. Kalau dapat bisa jutaan. Pernah dapat juara 3 dapat Rp2 juta,” tutupnya. (irw)