Ketua FPI Kota Depok, Agus Rahmat.
yamaha-nmax
Ust. Agus Rahmat, Ketua FPI Kota Depok

DEPOK – Terus bertambahnya penderita HIV dan Aids di Kota Depok, dari tahun ke tahun membuat gerah Front Pembela Islam (FPI) Kota Depok. Dalam waktu dekat, ormas Islam ini akan bertemu Walikota Depok Mohammad Idris dan DPRD Depok, mendorong agar segera membuat aturan tegas.

Ketua FPI Kota Depok, Agus Rahmat menegaskan, sebaiknya penanganan pencegahan HIV AIDS jangan hanya menitik beratkan pada pengobatan. Islam sudah sangat menekankan pencegahan HIV dan AIDS dengan mengharamkan sex bebas, pelacuran, dan LGBT. Dia mengatakan, bila pemkot berani bersikap tegas kepada penyebab terbesar HIV AIDS. Pmekot mesti membuat peraturan yang tegas terhadap segala bentuk kemaksiatan dan tindakan hukumnya.

“Insha Allah dalam waktu dekat ini, FPI akan minta waktu baik dengan DPRD ataupun Pemkot Depok,” tegas Agus Rahmat kepada Harian Radar Depok, Senin (3/12).

FPI, kata dia akan minta waktu untuk koordinasi dengan walikota dan DPRD, agar Perda anti LGBT disahkan secepatnya. “Kami juga akan beri masukan, agar perda yang keluar bukan perda banci,” terangn.

Demi mempercepat aturan itu terbentuk, dia juga akan menyurati pihak pemkot dan DPRD agar masukan dari FPI didengar. “Besok atau lusa kami akan segera surati pemkot dan DPRD, kalau bisa minggu ini kami ingin menghadap walikota,” ucapnya.

Baca Juga  Mengenal Pegiat HIV dan Aids di Kota Depok, Erdyansyah (2) : Dirikan KDS Hitam Putih, Merambah Masuk Rutan

Sementara itu, Anggota Komisi D DPRD Depok, Lahmudin Abdulah mengaku, prihatin dengan jumlah ODHA di Kota Depok. “Saya kira ini memprihatinkan, betapa ketahanan keluarga menjadi sangat perlu dalam masyarakat. Peran tokoh, peran ulama dalam berdakwah, bahkan peran orang tua dalam menjaga keluarga perlu lebih di tingkatkan menyelamatkan generasi mendatang,” kata Lahmudin.

Kota Depok saat ini, memang sudah perlu lahirnya sebuah peraturan daerah terkait LGBT. Karena saat ini semakin marak di Kota Depok.

Terpisah, Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok, Ernawati mengatakan, dalam rangka peringatan hari AIDS sedunia (HAS) tanggal 1 Desember merupakan peringatan atas komitmen bersama dalam upaya penanggulangan HIV ditingkat dunia.

Dia juga mengatakan, HIV itu sudah ada obatnya, HIV adalah penyakit kronis yang bisa dikelola dan dikendalikan oleh diri sendiri. Saat ini, tes HIV bisa dilakukan dipuskesmas dan RSUD serta beberapa RS swasta di kota Depok.  “Kami akan menjaga kerahasiaan pasien dan status pasien, karena obat HIV, ARV akan diberikan cuma-cuma,” kata Ernawati.

Baca Juga  Anggota Geng Meregang Nyawa

Perlu diketahui, Direktur Program Kuldesak, Hendra Cabe mengatakan, peningkatan penderita ODHA memang selalu ada, bahkan mencapai 10 persen. “Peningkatan selalu ada, kali ini peningkatan disumbangkan dari perilaku LGBT,” kata Hendra kepada Harian Radar Depok.

Berdasarkan data Kuldesak periode Januari-Desember 2017, terjadi perubahan dan perkembangan data dalam laporan pasca Kegiatan Validasi dan Harmonisasi Data bersama di Kota Depok. Dari Januari hingga Desember 2017 jumlah infeksi HIV yang baru dilaporkan sebanyak 367 orang.

Persentase infeksi HIV tertinggi dilaporkan pada kelompok umur 25-50 tahun sebantak 70 persen, diikuti kelompok umur 15-24 tahun 20 persen, dan kelompok umur 1-14 tahun 10 persen. Sedangkan rasio perbandingan antara laki-laki dan perempuan adalah 2 banding 1.

Sedangkan persentase faktor risiko HIV tertinggi adalah hubungan seks berisiko pada Heteroseksual sebanyak 50 persen, Lelaki Seks Lelaki sebanyak 22 persen, Injection Drug Users (IDU) sebanyak 18 persen, Waria sebanyak 5%, dan anak-anak yang tertular karena orang tuanya sebanyak 5 persen.

Sedangkan bagi penderita AIDS dari bulan Januari hingga Desember 2017 jumlah AIDS yang dilaporkan baru sebanyak 13 orang dengan persentase penderita tertinggi pada kelompok umur 25-50 tahun sebanyak 85 persen, diikuti kelompok umur 15-24 tahun sebanyak 5 persen dan kelompok umur 1-14 tahun sebanyak 10 persen.

Baca Juga  Pasukan Eks Brimob Nusantara Potong Tumpeng di Polres Metro Depok

Sementara perbandingan rasio AIDS antara laki-laki dan perempuan adalah 1 banding 1. Persentase faktor risiko AIDS tertinggi adalah hubungan seks berisiko pada Heteroseksual sebanyak 75 persen, Injection Drug Users (IDU) sebanyak 20 persen, dan Anak sebanyak 5 persen.

“Secara kumulatif kasus HIV & AIDS 1 Januari 2016 sampai 1 Januari 2017, terdiri dari 367 penderita HIV, 13 orang penderita AIDS, sehingga jumlahnya sebanyak 380 orang,” beber Hendra.

Dia mengatakan, selama ini Kuldesak sebagai salah satu organisasi yang konsentrasi menangani masalah HIV dan AIDS. Selain concent di isu HIV dan AIDS, juga concent di isu narkotika, psikotropika, dan zat adiktif (nazpa) dan  program kemandirian. Karena menurutnya, penggunaan nazpa merupakan salah satu pintu masuk orang terjangkit HIV AIDS. “Kami juga menjalankan program kemandirian, agar para pengguna bisa terhindar dari kebiasaan mengkonsumsi narkoba,” ujar Hendra.(rub)