Foto : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK BERBAHAYA : Warga saat melintas di Jembatan Kuning yang menghubungkan Kecamatan Cilodong, dan Kecamatan Cipayung, kemarin. Kondisi jembatan yang sudah goyang tersebut saat ini sudah mengkhawatirkan jika dilalui.
Foto : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
BERBAHAYA : Warga saat melintas di Jembatan Kuning yang menghubungkan Kecamatan Cilodong, dan Kecamatan Cipayung, kemarin. Kondisi jembatan yang sudah goyang tersebut saat ini sudah mengkhawatirkan jika dilalui.

DEPOK-Jembatan Kuning yang menghubungkan Kelurahan Ratujaya, Kecamatan Cipayung, dan Kelurahan Kalimulya, Kecamatan Cilodong ternyata usianya sudah tua juga. Pantas saja, kala melintasi rasa was-was dan bergoyang menjadi satu.

Patauan Radar Depok di lokasi, ketika masuk menuju Jembatan Kuning dari jalan lingkungan RW4, Kelurahan Kalimulya, perasaan langsung khawatir untuk menyebrang ke Kelurahan Ratu Jaya.

Kondisi Jembatan Kuning, tidak seperti jembatan lain yang ada Kecamatan Cilodong, seperti Jembatan Oren (Jingga, red), dan Jembatan Biru penghubung antara Kabupaten Bogor, dan Kota Depok yang kokoh. Kondisi berkarat, menjadi pandangan pertama ketika memasuki Jembatan Kuning, belum lagi baut penghubung antara, plat baja, dengan tiang besi banyak yang hilang.

Saat melintas, warga dibuat seperti jantung mau copot. Betapa tidak, jembatan dengan panjang 61 meter, dan lebar 1,5 meter itu goyang saat dilintasi. Warga Kelurahan Kalimulya, Kecamatan Cilodong, Sanah mengatakan, memang hampir setiap hari melintas di Jembatan Kuning. “Sekarang sudah goyang, karena banyak Ikatan Angin/Brancing yang putus sehingga tidak ada penahan, sehingga jembatan mudah goyang,” kata Sanah.

Menurutnya, bagi yang terbiasa mungkin dengan santai berjalan di Jembatan Kuning. Tapi bagi yang tidak biasa, atau pertama kali lewat jembatan Kuning mungkin harus sangat berhati-hati, karena tetap harus menjaga keseimbangan saat melintas. “Kalau sudah biasa mah enak, tapi kan kita juga harus waspada, karena jembatan sudah berusia 21 tahun, belum ada perbaikan,” beber Sanah.

Sementara, Ketua RW4 Kelurahan Kalimulya, Mardan mengatakan, Jembatan Kuning tidak pernah diperhatikan pemerintah sejak dibangun tahun 1998 lalu. Dia mengatakan, saat ini kondisi jembatan memang butuh perbaikan.

Karena sudah banyak baut yang hilang, ikatan angin yang putus, dan plat baja alas jembatan yang bolong. “Kalau minta diperbaiki dan dibangun ulang mah sudah lama, sudah enggak terhitung. Yang terakhir ya pas Musrenbang tahun 2018 lalu. Tapi karena sekarang gagal jadi enggak tahu gimana,” ujarnya.

Mardan mengaku, baru mengetahui gagalnya pembangunan dari pihak Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Depok, sekitar  November 2018 lalu. Menurutnya, sudah lama warga meminta Pemkot Depok, agar membangun ulang jembatan yang menghubungkan antara warga Kelurahan Kalimulya dan Kelurahan Ratujaya. Sebelum gagal lelang, Pemkot Depok telah menganggarkan Rp750 juta, untuk membangun jembatan gantung terpanjang yang masih ada di Kota Depok itu.

“Memang kalau dipakai lewat pasti bunyi kencang dan bergoyang. Sudah dari lama seperti itu, sudah enggak layak lah kondisinya. Maka, pas gagal lelang kemarin warga mempertanyakan alasannya,” kata Mardan.

Namun, warga seperti diberi angin segar, Mardan menyebut Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Indonesia, bakal turun tangan membangun Jembatan Kuning yang gagal lelang tahun 2018 lalu.

Menurutnya, tim Kementerian PUPR sudah datang ke Jembatan Kuning pada Desember 2018 lalu. Kabarnya kedatangan mereka guna meninjau kondisi jembatan. “Enggak lama habis tahu pembangunan enggak jadi karena gagal lelang itu Kementerian PUPR datang. Sudah dua kali mereka datang untuk lihat kondisi jembatan, mungkin pembangunan pakai dana APBN,”  kata Mardan di rumahnya.

Merujuk dari percakapannya dengan pegawai Kementerian PUPR, Mardan menuturkan pemerintah bakal menggelontorkan anggaran Rp3 miliar untuk membangun ulang jembatan.

Jumlah tersebut empat kali lipat dari anggaran yang dikucurkan Pemkot Depok melalui Dinas PUPR pada tahun 2018 lalu, yakni Rp750 juta.

“Katanya sih dana untuk pembangunan Rp3 miliar. Kalau dana yang dari Pemkot Depok kemarin itu Rp750 juta. Saya sih berharap dananya benar Rp3 miliar, karena hasilnya juga pasti lebih bagus. Tapi enggak tahu benar atau enggak,” ujarnya.

Intinya warga meminta kejelasan apakah jembatan tersebut bakal dibangun atau tidak. Perihal dana perawatan, Mardan mengatakan warga RW4 menggalakan dana dari pengendara sepeda motor dan pejalan kaki, yang melintas di Jembatan yang membentang di atas Sungai Ciliwung.

“Kadang ada orang lewat yang ngasih uang. Uangnya dipaksa untuk perbaikan jembatan. Seperti dilas pelat yang sudah bolong. Kalau enggak begitu nanti membahayakan warga yang lewat,” tandas Mardan. (rub)