salah satu siswa SLB Negeri Kota Depok melakukan perekaman data biometrik KTP Elektronik bersama Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kota Depok, Selasa (22/1). Foto : SANI/RADAR DEPOK
salah satu siswa SLB Negeri Kota Depok melakukan perekaman data biometrik KTP Elektronik bersama Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kota Depok, Selasa (22/1). Foto : SANI/RADAR DEPOK

DEPOK–Awal 2019. Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Depok mulai menyasar siswa berkebutuhan khusus, di Sekolah Luar Biasa (SLB). Kemarin, SLB Negeri Kota Depok jadi sasaran pertama perekaman KTP Elektronik (KTP-el). Hasilnya, ada delapan siswa yang terekam di sekolah yang terletak di Pertama Regency Depok Kelurahan Ratujaya, Cipayung.

Kasi Pendaftaran Penduduk Disdukcapil Kota Depok, Jaka Susanta mengatakan, kegiatan jemput bola ini pertama kali dilaksanakan di SLB Negeri Kota Depok. Sebanyak delapan anak berkebutuhan khusus (ABK) menjadi sasaran.

“Kami lakukan kegiatan jemput bola ini, untuk memfasilitasi anak-anak berkebutuhan khusus yang belum memiliki KTP-el. Tapi usianya sudah 17 tahun dan wajib memiliki KTP,” katanya kepada Harian Radar Depok, Selasa (22/1).

Dia menerangkan, Disdukcapil Kota Depok menyambangi SLB untuk mempermudah para penyandang disabilitas mendapatkan KTP elektronik. Sebab, sebagian besar orangtua siswa kebutuhan khusus kesulitan, untuk mengajak anaknya ke kelurahan setempat membuat KTP-el.

“Ini sesuai dengan perintah undang-undang, semua warga harus melakukan perekaman KTP-el. Karena mereka butuh pelayanan khusus makanya kami yang datang menyambangi mereka satu-satu di sekolah,” terangnya.

Program jemput bola perekaman KTP-el ke SLB merupakan bagian dari Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi) Disdukcapil Kota Depok. Selain menggencarkan perekaman KTP-el untuk masyarakat umum, siswa di SMA pun juga sudah disambangi mulai 2018.

Bedanya perekaman KTP-el di SLB dan sekolah umum, lanjut Jaka. Pihaknya, menjalankan tugas berdasarkan kesepakatan dari sekolah dan orangtua siswa. Namun, dia bukan berarti semua siswa SLB yang sudah 17 tahun belum memiliki KTP-el. “Mungkin saja ada yang belum, makanya kami lakukan sesuai data di sekolah dan akan roadshow di seluruh SLB,” tuturnya.

Menurut Jaka, perekaman data biometrik untuk siswa SLB berlangsung lebih lama dibanding warga biasa. Karena masing-masing anak memiliki penanganan yang berbeda-beda. Bahkan, untuk merekam data satu anak minimal harus dibutuhkan pendampingan petugas dan guru.

Sementara itu, Kepala SLBN Kota Depok, Lia Cornelia Dewi mengapresiasi kinerja Disdukcapil Kota Depok yang sudah memberikan pelayanan khusus kepada siswanya. Pada perekaman KTP-el tersebut, terdiri dari siswa tuna grahita dan autis.

“Ini baru pertama di sekolah kami, selain mendapat kemudahan untuk pengajuan KTP Elektronik. Anak-anak juga dapat sekaligus mendapat pengetahuan dan pengalaman baru dalam hidupnya,” ucapnya.

Pihaknya berharap, dengan adanya layanan jemput bola tidak ada lagi kesan diskriminasi bagi penyandang disabilitas. Maupun anak berkebutuhan khusus di wilayah Kota Depok. “Semoga seluruh anak berkebutuhan siswa segera memiliki KTP-el,” tutup Lia. (san)