Foto : RUBIAKTO/RADAR DEPOK SERU: Keseruan Komunitas Komik Depok, saat menjadi bagian dari Bagen Festival Kota Depok 2018, di ITC Depok.
Foto : RUBIAKTO/RADAR DEPOK
SERU: Keseruan Komunitas Komik Depok, saat menjadi bagian dari Bagen Festival Kota Depok 2018, di ITC Depok.

Mengenal Komunitas Komik Depok (3-Habis)

Siapa yang tidak pernah membaca komik? Komik adalah karya yang mungkin paling banyak diminati pembacanya tidak mengenal batas usia. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, mereka membaca komik sesuai dengan genre yang disukainya.

Laporan: Rubiakto

Sejak tahun 1990-an, dengan meledaknya komik manga Jepang di pasar Indonesia. Komik seakan-akan sudah menjadi salah satu gaya hidup membaca terutama di kalangan anak muda. Perubahan era menjadi serba digital membuat komik bertransformasi dari bentuk konvensional ke digital. Di Indonesia pun komik digital memiliki pembaca yang banyak dan semakin bertambah.

Indonesia merupakan pasar yang menjanjikan bagi industri komik. Namun, apakah hanya komik asing berasal dari Amerika, Eropa, dan terutama Jepang yang mendapat perhatian publik Indonesia?

Bagaimana dengan komik-komik lokal karya asli komikus Indonesia? Apakah mereka juga mendapatkan posisi yang sama dalam perindustrian komik di Indonesia?.

Menurut anggota Komunitas Komik Depok, M. Hafiz Haris. Pembaca komik mengenal tiga tempat yang dianggap sebagai munculnya jenis komik. Pertama, Amerika Serikat dengan komik superhero dan graphic novels. Sebut saja Superman yang diciptakan tahun 1938 dalam Action Comics, atau yang diterbitkan oleh Marvel seperti Spider-Man, X-Men, dan Daredevil.

Kedua, Eropa, terutama dengan komik franco-belge. Seperti Petualangan Tintin oleh Hergé yang diciptakan di antara dua perang dunia atau petualangan Asterix. Dan Obelix ciptaan René Goscinny dan Albert Uderzo, yang kemudian menjadi salah satu ikon budaya Prancis.

Ketiga adalah Jepang dengan Osamu Tezuka yang mempopulerkan jenis manga setelah Perang Dunia II. Dalam perkembangannya manga semakin merambah pasar dunia di era 1990-an, seperti Candy Candy, Topeng Kaca, Kung Fu Boy, dan sebagainya.

Di Indonesia sendiri, tidak banyak masyarakat yang tahu bahwa komik Indonesia memiliki sejarah yang panjang bahkan sejak sebelum Indonesia merdeka. Pada tahun 1930 Kho Wang Gie adalah tokoh komikus tersohor dengan tokoh ciptaannya Put On di surat kabar Sin Po, sebuah surat kabar Tionghoa berbahasa Melayu yang terbit di Hindia Belanda.

Pada 1950-an R.A. Kosasih menyodorkan superhero pewayangan seri Mahabharata dan Ramayana, serta menciptakan tokoh pahlawan perempuan Indonesia pertama, yaitu Sri Asih yang diterbitkan pertama kali pada 1954.

Selain itu, beberapa tokoh superhero Indonesia juga muncul, seperti Gundala Putra Petir karya Harya Suryaminata atau lebih dikenal dengan nama pena Hasmi atau deretan serial si jago silat, Mandala, dengan seri yang paling populer “Siluman Sungai Ular” dan “Golok Setan” karya Mansyur Daman atau dengan nama pena Man.

Era tersebut dapat dikatakan sebagai “the Golden Age” bagi perkomikan Indonesia. Komik-komik diakses oleh para generasi muda saat itu melalui tempat-tempat penyewaan komik atau taman bacaan yang menjamur. “Komik Indonesia bernah Berjaya, kita akan berusaha kembalikan kembali komik Indonesia, dengan mengadaptasi format digital,” kata Hafiz.(rub)