DEPOK–Dinas Kesehatan (Dinkes) Depok harus cepat nih. Pasalnya, Walikota Depok Mohammad Idris ingin mengetahui seberapa banyak warga Depok yang terjangkit Demam Berdarah Dengue (DBD). Percepatan data tersebut, dengan tujuan menyatakan status yang tepat.

Kepada Harian Radar Depok, walikota mengatakan, seluruh rumah sakit baik negeri dan swasta di Kota Depok sudah penuh dengan pasien. Tidak hanya rawat jalan, tetapi juga rawat inap. Kini pihaknya tinggal menunggu data pasti dari Dinkes Kota Depok.

“Sedang dalam pendataan, kalau informasi masyarakat memang rumah sakit negeri dan swasta sudah penuh. Bahkan di Bogor, Bekasi juga begitu. Saya ingin pendataan ini secepatnya,” kata Idris kepada Harian Radar Depok, Senin (21/1).

Menurut Idris, pendataan jumlah penderita DBD ditujukan untuk menyatakan status yang tepat. Apakah Kota Depok termasuk darurat DBD atau Kejadian Luar Biasa (KLB) atau tidak. Seperti Kabupaten Kapuas dan Kota Manado yang ditetapkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI.

“Pertama saya ingin data untuk tahu apa memang sudah KLB atau tidak. Kedua penanganannya seperti apa. Jadi sekarang dalam pendataan dulu,” jelasnya.

Sejumlah rumah sakit yang sudah penuh dengan pasien, lanjut Idris, bukan berarti seluruhnya menderita DBD. Dia berjanji pendataan pasien DBD akan selesai pada pekan depan. Sehingga, pihaknya dapat langsung mengambil langkah kongkrit mencegah DBD di Kota Depok.

“Yang penting kita lihat rumah sakitnya dulu. Apa memang banyak penyakit lain sehingga DBD tak kebagian tempat. Atau memang penyakit DBD, itu yang saya ingin data,” ujarnya.

Idris mengungkapkan, salah satu titik yang menyebabkan banyaknya virus DBD adalah Perumahan Taman Duta. Sebab, wilayah tersebut menjadi langganan banjir setiap kali Kota Depok dilanda hujan lebat.

“Pondok Duta rawan virus DBD karena banjirnya, ini bisa diatasi apabila pengerjaan sodetan dari pengrangengan ke Sugutamu yang dilakukan pengelola Tol Cijago selesai pengerjaannya,” tutup Idris. (san)