Oleh: Oleh: Ust. Zaimul Haq, M.Ag (Anggota JQH NU Kota Depok)
Oleh: Oleh: Ust. Zaimul Haq, M.Ag
(Anggota JQH NU Kota Depok)

 

Setiap manusia pasti pernah merasakan kegelisahan hati sebagai dampak dari beragam permasalahan yang di hadapi, tetapi kadar ilmu dan keimanan seseorang akan sangat mempengaruhi terkait cara untuk menetralisirnya.

Salah satu cara untuk menenangkan hati adalah sebagaimana yg pernah dikisahkan oleh Imam Adh-Dhahhak bin Qays, dikutip Syeikh Abu Bakar Al-Thurthusy Al-Andalusi dalam Al-Ma’tsurat, beliau berkata. “Aku mencari ibadah di dalam setiap hal, tetapi aku tak menemukan yang dapat melebihi apa yang aku temukan di dalam aktivitas duduk bersama ahli zikir.

Zikir merupakan satu-satunya ibadah yang tidak memiliki batas. Seorang mukmin boleh berzikir di mana saja, kapan saja, dan dalam keadaan apa pun. Bahkan di dalam bilik mandi yang terlarang untuk berzikir secara jahr (suara keras), seorang hamba tetap boleh mengingat Allah Ta’ala di dalam hati dan fikirannya.

Zikir menjadi penawar yang amat mujarab atas kekerasan hati seorang hamba. Siapa yang sukar menerima kebenaran bahkan menolak dan menentangnya, hal itu pasti terjadi kerana kerasnya hati. Sebab hati yang lembut akan mudah menerima kebenaran layaknya tanah yang subur; sesuai untuk berbagai jenis tanaman hingga membuahkan hasil yang membanggakan.

Tersebutlah seorang laki-laki yang bertanya kepada Al-Hasan, “Hatiku keras. Apa yang harus aku lakukan?” “Dekatkanlah hatimu ke majlis-majlis zikir.” jawabnya dengan lembut. Hadirilah majlis-majlis zikir yang membuat kita ingat kepada Allah Ta’ala, berharap ridha-Nya, surga-Nya, dan takut serta menjauh dari neraka-Nya. Niscaya kerasnya hati akan melembut, akan luntur, kemudian menjadi hati yang subur dengan benih iman lalu membuahkan amal soleh.

Ketika seorang laki-laki mengeluhkan kerasnya hati kepada Imam Raja’ bin Haywah yang merupakan ahli fiqih, imam yang wafat pada 112 Hijriyah ini memberikan penyelesaiannya , “Terus-meneruslah berzikir kepada Allah Ta’ala.” Nah, apa yang harus dilakukan jika sudah rajin berzikir tetapi hati tetap merasa keras? Apa yang mesti diperbuat ketika lisan lelah dalam zikir tetapi kelembutan hati tak kunjung hadir? Bagaimana terapi yang harus dilakukan agar kerasnya hati berangsur hilang dan berganti dengan kelembutan?

“Kami tidak merasakan manis di dalam hati, padahal Kami sudah berzikir kepada Allah Ta’ala,” keluh seorang laki-laki kepada Abu ‘Utsman. Abu ‘Utsman yang alim pun lekas memberikan jawaban atas persoalan lelaki tersebut. Katanya santun, “Pujilah Allah Ta’ala agar dia hiasi anggota badanmu dengan ketaatan kepada-Nya.”

Terus berzikir. Jangan muak apalagi berhenti. Jangan pula merasa telah banyak berzikir jika belum melampaui sebuah atsar yang menyebutkan bahwa sahabat mulia Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu meminta ampun kepada Allah Ta’ala dengan beristighfar sebanyak 1200 kali dalam sehari. Maka selagi kita masih diberi nafas, selama itu pula Allah akan terus menghadirkan beragam masalah, hal ini sebagai media agar kita dituntut untuk banyak berzikir istighfar, insya Allah dengan begitu kita akan selalu tenang menjalani kehidupan. (*)