SENGIT: Dua pesilat tingkat SMP beraksi pada lanjutan O2SN tingkat kota di Balairakyat Depok 2, Jalan Merdeka Raya, Kecamatan Sukmajaya, Rabu (20/3). Foto: IMMAWAN/RADAR DEPOK
SENGIT: Dua pesilat tingkat SMP beraksi pada lanjutan O2SN tingkat kota di Balairakyat Depok 2, Jalan Merdeka Raya, Kecamatan Sukmajaya, Rabu (20/3). Foto: IMMAWAN/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Rangkaian pertandingan Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) di cabang olahraga Pencak Silat, telah mencapai putaran tingkat kota, Rabu (20/3).

Pertandingan diikuti 22 atlet tingkat Sekolah Dasar (SD), mewakili 11 kecamatan se-Kota Depok. Ditambah, 198 atlet tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dai 66 sekolah.

Koordinator pelaksana O2SN cabor Pencak Silat, Dedi Setiawan menjelaskan, peserta tingkat SD bertanding di nomor tunggal. Sementara di tingkat SMP, mempertandingkan nomor tunggal dan tanding kelas D, E, F rentang 39kg-48kg.

“Mereka bertanding memperebutkan delapan medali emas, delapan medali perak dan 14 medali perunggu,” ujar Dedi kepada Harian Radar Depok, di lokasi pertandingan Balairakyat Depok 2, Jalan Merdeka, Kecamatan Sukmajaya.

Menurut Dedi, O2SN adalah momentum berharga bagi para pesilat pelajar yang berpartisipasi Terutama, dalam karir mereka sebagai atlet.

“O2SN ibarat pintu masuk mereka dalam perjalanan meraih prestasi,” imbuhnya.

Menurut Dedi, terjadi peningkatan peserta O2SN tingkat kota kali ini, dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Mungkin ini berkat atlet Indonesia yang hamper sapu bersih medali emas di Asian Games. Sehingga mereka berhasil membuat pencak silat lebih dicintai dan bergengsi. Tidak lagi dilihat sebagai olahraga kampungan,” terang Dedi.

Meski begitu Dedi menyoroti keputusan panitia O2SN di tingkat nasional. Yakni, aturan yang hanya memberi kesempatan atlet tunggal untuk berlaga di jenjang provinsi.

Dia menilai, keputusan ini memiliki sisi positif dan negative. Positifnya, kompetisi mampu melahirkan atlet yang lengkap. Memiliki kemampuan yang baik di nomor jurus tunggal, maupun tanding.

Sementara sisi  negatifnya, lanjut Dedi, setiap atlet dipaksa berlatih dua fokus yang berbeda sekaligus. Di nomor seni, atlet dituntut akan keindahan gerak, kemantapan, penghayatan dan penguasaan gerakan. Lalu, nomor tanding menuntut penguasaan dalam kecepatan, kekuatan dan stamina bertanding.

“Bentuk dan pola latihannya berbeda. Mungkin bisa diterapkan  untuk atlet dewasa. Tapi akan sulit untuk anak-anak sekolah yang mungkin baru latihan satu-dua tahun,” paparnya.

Meski begitu, Dedi percaya aturan ini pasti memiliki manfaat yang tersembungi. Karena itu, dia mengajak pihak sekolah, untk memfasilitasi kegiatan-kegiatan pencak silat, sebagai warisan budaya asli Indonesia.

“Alangkah baiknya, pencak silat dimasukkan sebagai muatan lokal, atau bagian dari intrakurikuler. Seperti taekwondo di Korea,” serunya.

Untuk para atlet, Dedi berharap para atlet terus berlatih dengan giat.

“Perlu diingat, menjadi juara tidak bisa instan. Tidak ada pesilat yang menjadi juara hanya dengan latihan seminggu sekali. Semua perlu proses,” pungkasnya. (mg2)