MENGOLAH DODOL: Karyawan Dodol Betawi asli Depok milik Didi Satibi sedang menggodok dodol hingga mengental, di salah satu stand yang berada di Mal Kawasan Margonda Raya. Foto: SANI/RADAR DEPOK
MENGOLAH DODOL: Karyawan Dodol Betawi asli Depok milik Didi Satibi sedang menggodok dodol hingga mengental, di salah satu stand yang berada di Mal Kawasan Margonda Raya. Foto: SANI/RADAR DEPOK

Hampir di setiap kota besar di Indonesia kita menemukan penganan dodol. Umumnya, makanan ini manis dan legit dikemas menggunakan plastik atau daun, serta banyak dijumpai di pulau Jawa. Namun, olahan dodol Betawi milik Didi Satibi ini ternyata memiliki ciri khas berbeda.

Laporan: Nur Aprida Sani

RADARDEPOK.COM – Berangkat dari kecintaan pada kuliner nusantara, Satibi bersama istri mulai terjun ke dunia bisnis dodol. Siapa sangka sebelumnya, pasangan suami istri ini juga pernah mencoba beberapa masakan tanah air yang kemudian mereka jual.

Satibi merupakan warga Depok berdarah asli Betawi, sehingga dodol buatannya pun juga melekat dengan Betawi di labelnya. Keunikan dodol miliknya juga dilihat dari proses pembuatan. Dia masih menggunakan cara tradisional dengan tungku dan penggorengan raksasa.

Sambil mengaduk dodol di atas penggorengannya, Satibi menjelaskan, proses memasak dodol memakan waktu selama delapan jam. Sepanjang waktu itu, dodol harus terus diaduk hingga kental.

“Biar nggak rusak dan rasanya tetap ‘ajib’ kudu diaduk terus jangan berhenti sampai kental dan siap untuk di cetak,” terang Satibi.

Sama seperti dodol pada umumya, bahan baku dodol milik Satibi juga terdiri dari beras ketan, gula merah, dan santan kelapa. Walaupun pakai bahan yang masuk kategori sederhana, dodol betawi ini tetap menjadi idaman masyararakat.

Tidak hanya masyarakat Depok tapi juga hampir di Jabodetabek. Satibi menyebut, dodol miliknya tetap menjadi incaran ketika momentum perayaan hari tertentu setiap tahunnya. “Alhamdulillah tetap diminati walaupun banyak saingan dari kue-kue modern yang sekarang banyak ditemuin di toko kue,” ujarnya.

Tidak hanya pada saat perayaan hari besar, saat hajatan pernikahan pun juga dia banyak mendapat orderan. Khususnya di hajatan orang Betawi asli yang tidak pernah ketinggalan makanan berwarna cokelat dibungkus plastik tersebut.

“Biasanya langganan-langganan saya itu, yang orang Betawi asli khususnya, pasti pesen dodol Betawi ke saya kalau ada acara-acara perayaan seperti kawinan, sunatan, lebaran, Syawal besar, atau bahkan kalau ada acara maulidan,” pungkasnya. (bersambung)