Beranda Metropolis Dodol Betawi Khas Depok Milik Satibi (3-Habis)

Dodol Betawi Khas Depok Milik Satibi (3-Habis)

0
Dodol Betawi Khas Depok Milik Satibi (3-Habis)
MASIH EKSIS: Karyawan dodol Betawi khas Depok milik Didi Satibi sedang membuat sekaligus menjajakan dodol buatannya di salah satu stand pameran yang ada di sebuah Mal di kawasan Kota Depok, beberapa waktu lalu. Foto: SANI/RADAR DEPOK
MASIH EKSIS: Karyawan dodol Betawi khas Depok milik Didi Satibi sedang membuat sekaligus menjajakan dodol buatannya di salah satu stand pameran yang ada di sebuah Mal di kawasan Kota Depok, beberapa waktu lalu. Foto: SANI/RADAR DEPOK

Pada saat perayaan hari besar beragam kuliner dan kue tak ketinggalan dijadikan untuk santapan. Di keluarga Betawi, kue Lebaran yang khas dan patut ada adalah Dodol Betawi khas Depok milik Satibi. Jika tidak ada, rasanya kurang lengkap di sepanjang hari Lebaran.

LAPORAN: NUR APRIDA SANI

RADARDEPOK.COM – Pembuat makanan manis dan legit ini tidak hanya berpatok pada warga Jakarta, tapi merambah hingga ke kota penyangganya. Seperti Kota Depok yang memiliki warga asli suku Betawi yang pandai membuat dodol. Dia adalah Didi Satibi.

Banyak ragam yang disediakan Satibi untuk produksi dodolnya. Dari mulai dibungkus plastik seperti pada umumnya, ada juga yang tersaji dalam bentuk kemasan besek (keranjang).

Sejak tahun 1990-an dia sudah merintis usaha yang dibangun oleh orangtuanya pada saat itu. Demi mengumpulkan pundi-pundi untuk pemasukan keuangan keluarga, akhirnya Satibi kala itu masih “Bujangan” ikut terjun membesarkan nama usaha ini hingga kini.

“Iya ini tadinya milik orangtua, saya mah hanya meneruskan usaha mereka dari jaman kakek saya juga,” ujar Satibi sambil menyeruput kopi hitam di pelataran rumahnya.

Dia menceritakan, lapaknya berdagang bukan hanya di rumah dan sekitaran Kota Depok. Tapi merambah hingga Jabodetabek. Seperti wilayah Penggilingan (Cakung), Kandang Sapi Rorotan (Jakarta Utara), Masjid Kwitang (Jakarta Pusat), dan Kampung Melayu (Jakarta Timur).

Dalam pembuatan satu kuali dodol bisa menghabiskan waktu sekitar delapan jam, hingga kini sudah ada 15 pegawai pembuat dodol di rumah produksinya itu. Varian rasa yang disediakan pun juga banyak, di antaranya rasa original, rasa ketan hitam dan rasa durian.

“Harganya kita jual juga bervariasi, dari yang Rp25 ribu dua bungkus untuk kemasan ukuran kecil, sampai yang harga Rp70 ribu untuk ukuran sebesar keranjang ini,” paparnya.

Di tengah maraknya kue kering khas nusantara lainnya hingga internasional, Satibi tetap optimis dodol miliknya tidak akan pernah ketinggalan. Dia pun juga tidak khawatir apabila berbagai jenis makanan baru itu, disebut menjadi saingan bagi dodol betawi asli Depok miliknya.

Sebab dia telah memiliki pelanggan setia yang tidak lain dan tidak bukan adalah masyarakat asli suku Betawi yang tersebar di Jabodetabek hingga kota-kota besar lainnya.

“Jadi dodol ini kan makanan yang nggak bisa dipisahkan dari masyarakat Betawi itu sendiri. Alhamdulillah sampai sekarang dodol Betawi ini masih eksis karena kalau orang Betawi kawinan, lebaran, maulidan, mereka pasti pesen dodol,” pungkasnya.

Selain menjual dodol, Satibi juga menjajakan minuman khas Betawi yakni Bir Pletok. Minuman ini juga diproduksi sendiri dari industri rumahan yang dia kelola dengan sang istri.

“Kalau bir pletoknya kita jual seharga Rp35 ribu untuk yang ukuran 60 mililiter, dan Rp12,5 ribu untuk yang ukuran kecil 240 mililiter,” tutup Satibi. (*)