Para Assesor Lembaga Sertifikasi Profesi MICE berswafoto dalam kegiatan uji kompetensi di Hotel Santika, Jalan Raya Margonda, Sabtu (9/3).Foto: SANI/RADAR DEPOK
Para Assesor Lembaga Sertifikasi Profesi MICE berswafoto dalam kegiatan uji kompetensi di Hotel Santika, Jalan Raya Margonda, Sabtu (9/3).Foto: SANI/RADAR DEPOK

DEPOK – Sebuah legalitas sangat diperlukan baik bagi calon pekerja hingga yang sedang bekerja. Hal itu untuk mengakui bahwa seseorang profesional di bidangnya. Seperti 66 pekerja outsorsing (freelancer), yang telah diuji kompetensinya di bidang pariwisata khususnya Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) MICE.

Direktur LSP MICE, Adjat Sudrajat mengatakan, dari 66 pekerja itu 90 persennya pernah menjadi bagian dari event Asian Games 2018. terdapat dua bidang yang diujikan, di antaranya skema Certified Event Registration dan Certified Event Liasion Officer.

“Sertifikasi ini adalah bentuk legalitas bagi orang yang berpengalaman di bidang MICE khususnya. Bagi mereka yang lolos sertifikasi langsung mendapat sertifikat dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP),” kata Adjat kepada Radar Depok, di Hotel Santika, Jalan Raya Margonda, Sabtu (9/3).

Setiap tahunnya LSP MICE bersama Kementerian Pariwisata selalu memberikan sertifikat bagi pekerja paruh waktu dan mahasiswa. Tidak hanya di Kota Depok, tetapi di seluruh kota dan provinsi di Indonesia.

Di 2019 Kota Depok terpilih sebagai kota pertama yang menyelenggarakan kegiatan tersebut. Sebab Depok dinilai memiliki tenaga kerja paruh waktu bidang MICE yang cukup banyak. Kegiatan sertifikasi yang dilakukan merupakan kewajiban berdasarkan peraturan Menteri Pariwisata nomor 16 tahun 2016 yang mewajibkan pekerja pariwisata memiliki sertifikat.

“Kami berharap dengan kegiatan ini dapat menghasilkan pekerja di bidang MICE yang kompeten, Sehingga SDM mampu bekerja dan memiliki legalitas kerja yang berstandart,” terang Adjat.

Sementara itu di lokasi yang sama, Wakil Direktur LSP MICE, Hery Setiawan menuturkan, program sertifikasi kompetensi ini juga dapat menambah daya saing SDM Indonesia menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang telah berlangsung.

Sebab, tenaga pariwisata masuk ke dalam salah satu profesi yang bebas bersaing di MEA. Selain tujuh profesi lainnya, seperti insyinyur, arsitek, akuntan, dokter gigi, praktisi medis, tenaga survey, dan perawat.

“Sertifikat MICE ini nantinya dapat berlaku di ASEAN, jadi para tenaga kerja dapat bekerja di negara-negara ASEAN dengan memakan sertifikat ini, artinya mereka sudah legal,” tutur Hery.

Potensi pariwisata di Indonesia menjadi salah satu pendorong berkembangnya industri pariwisata, khususnya industri MICE. Sebelumnya keahlian MICE hanya diperoleh pada perusahaan, bidang pariwisata. Namun, sejak tahun 2007 sudah ada pendidikan yang mempelajari bidang MICE.

“Diharapkan kegiatan tersebut mampu meningkatkan kualitas pekerja di bidang MICE di Indonesia,” tutup Hery. (san)