AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK

 

Rengekan bayi sahut menyahut di gendongan ibunya, yang sedang mengantre untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatan si buah hatinya. Ini suasana yang begitu riuh ketika jadwal pemeriksaan kesehatan Posyandu. Belum lagi beberapa anak kecil yang berlari kesana kemari sambil memegang mainan menambah gaduhnya suasana.

 

Satu persatu bayi ditimbang dan diukur tinggi badannya, dengan cekatan kader Posyandu yang sudah terlatih itu mencatatnya di Kartu Menuju Sehat (KMS). Usai pencatatan, ada sesi penyuluhan, nah sesi ini yang sangat penting. Sang ibu mendapatkan informasi perkembangan kesehatan si buah hatinya dan wawasan pentingnya gizi bagi anaknya.

 

Bertepatan dengan hari Gizi Nasional yang jatuh hari ini, Harian Radar Depok akan mengulas betapa pentingnya asupan Gizi bagi ibu hamil dan balita. Jika dilihat dari data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok, tercatat ada 76 balita gizi buruk pada 2018 lalu. Jumlah tersebut turun jika dibandingkan dengan angka penderita gizi buruk di tahun 2017 yang mencapai 83 anak.

 

Gizi kurang dan buruk merupakan istilah yang sering dikaitkan dengan anak bawah lima tahun (balita). Dengan skala yang diperbandingkan antara berat badan menurut umur yang selalu  temukan pada kegiatan pos pelayanan terpadu (posyandu). Jika ditemukan ada bayi gizi kurang atau buruk, harus segera ditangani serius. Karena  dampak gizi buruk cukup berpotensi mengalami komplikasi serta gangguan kesehatan yang panjang.

 

Menurut Childrens Defense Fund, anak-anak yang kekurangan asupan nutrisi berisiko menderita gangguan psikologis, seperti rasa cemas berlebih maupun ketidak mampuan belajar. Sehingga memerlukan konseling kesehatan mental. Gizi buruk juga membawa dampak yang buruk bagi perkembangan dan kemampuan adaptasi anak pada situasi tertentu.

 

Sebuah studi “India Journal of Psychiatry” tahun 2008 mencatat dampak dari gizi buruk pada anak, yaitu, kekurangan zat besi menyebabkan gangguan hiperaktif, kekurangan yodium menghambat pertumbuhan, dan kebiasaan melewatkan waktu makan atau kecenderungan pada makanan mengandung gula juga berkaitan dengan depresi pada anak.

 

Selain persoalan psikologi, anak dengan gizi buruk memiliki IQ yang rendah. Menurut data yang dilansir pada National Health and Nutrition Examination Survey, anak-anak dengan gizi buruk cenderung melewatkan pelajaran di kelas sehingga anak tidak naik kelas. Anak menjadi lemas, lesu, dan tidak dapat bergerak aktif karena kekurangan vitamin, mineral, dan nutrisi lainnya.

Hal ini didukung oleh data World Bank, yang juga mencatat hubungan antara gizi buruk dan tingkat IQ yang rendah. Anak-anak ini juga mungkin mengalami kesulitan mencari teman karena masalah perilaku mereka.

 

Dampak gizi buruk lainnya yang kerap kali terjadi adalah risiko penyakit infeksi. Ya, anak dengan gizi yang kurang akan sangat rentan mengalami penyakit infeksi. Hal ini disebabkan oleh sistem kekebalan tubuhnya yang tak kuat akibat nutrisi tubuh yang tidak terpenuhi.

 

Ada banyak vitamin dan mineral yang sangat memengaruhi kerja sistem kekebalan tubuh, misalnya vitamin C, zat besi, dan zink. Bila kadar nutrisi tersebut tidak tercukupi maka sistem kekebalan tubuhnya juga buruk.

 

Belum lagi jika ia kekurangan zat gizi makro seperti karbohidrat dan protein yang merupakan sumber energi dan pembangun sel-sel tubuh. Kekurangan nutrisi tersebut akan membuat fungsi tubuhnya terganggu.

 

Pertumbuhan dan perkembangan si kecil terhambat  menjadi dampak gizi buruk pada anak. Ketika mengalami masa pertumbuhan, si kecil sangat memerlukan zat protein yang diandalkan untuk membangun sel-sel tubuh dan karbohidrat sebagai sumber energi utama tubuh.

 

Bila tidak ada protein dan zat nutrisi lainnya, maka bukan tidak mungkin pertumbuhan si kecil terhambat bahkan berhenti sebelum waktunya.

 

Praktisi Klinik Riset Badan Litbangkes-Bogor dan dosen FKUKI, DR Bona Simanungkalit mengatakan, identiknya kekurangan gizi terjadi pada anak-anak. Namun tidak menutup kemungkinan dewasa pun juga ada yang mengalami kekurangan gizi.

 

“Semua usia bisa terjadi kekurangan asupan gizi dalam tubuh, tetapi mayoritas anak-anak,” kata Bona kepada Radar Depok, kemarin.

 

Setiap orang pasti mendambakan status gizi yang normal, mempunyai berat badan dan tinggi badan ideal. Status gizi normal menunjukkan seseorang memiliki kesehatan yang baik, serta dapat menurunkan risiko terkena penyakit.

 

Status gizi merupakan kondisi kesehatan yang dipengaruhi oleh asupan dan penggunaan zat gizi. Ketika asupan gizinya memenuhi kebutuhan tubuh, maka status gizinya baik. Namun, ketika asupan gizi yang masuk ke dalam tubuh kurang atau berlebihan, hal ini akan menimbulkan ketidakseimbangan dalam tubuh.

Bona menyebut, para orangtua harus memahami jenis status gizi, utamanya pada anak. Di antaranya, gizi kurang, gizi kurus, pendek, gizi buruk, dan obesitas.

 

Apabila seseorang atau anak menerima asupan makanan yang tidak sesuai (kurang) dari standar gizi. Anak tersebut akan mengalami kekurangan gizi (gizi kurang). Hal ini patut diwaspadai oleh para orangtua, untuk rutin mengecek kondisi anak. “Datang ke posyandu cek kondisi anak, berat badannya dan lain-lain,” ucapnya.

 

Sama halnya dengan gizi kurus, apabila anak mengalami kekurangan gizi ini juga akan memperlambat sistem kerja otak. Ciri-ciri anak yang menderita gizi kurus dapat dilihat dari Berat Badan menurut Tinggi Badan. Apabila saat dicek oleh medis, kondisi anak tidak ideal harus segera mendapatkan asupan yang sempurna.

 

“Sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan harus segera ditangani, karena kalau didiamkan akan menjadi gizi buruk,” tegas Bona.

 

Dibanding dua jenis status gizi tersebut, Pendek (Stunting) menjadi persoalan yang sangat serius di Indonesia. Hampir di beberapa bagian wilayah tanah air, terdapat anak yang mengalami Stunting.

 

Stunting merupakan kondisi gagal pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak) akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Sehingga, anak lebih pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir.

 

Bona menjelaskan, anak menderita Sunting disebabkan bukan karena pemberian asupan orangtua setelah anak lahir. Namun, terjadi sejak janin dalam kandungan sampai awal kehidupan anak (1000 Hari Pertama Kelahiran).

 

Guna menekan angka Stunting ini, bagi calon ibu harus benar-benar memperhatikan asupan makanan yang masuk ke dalam tubuh saat mengandung. Seperti, protein, karbohidrat, vitamin, mineral.

“Indikator untuk melihat anak Stunting adalah Tinggi Badan menurut usianya,” tuturnya.

 

Faktor lain yang menyebabkan Stunting adalah terjadi infeksi pada ibu, kehamilan remaja, gangguan mental pada ibu, jarak kelahiran anak yang pendek, dan hipertensi. Selain itu, rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan termasuk akses sanitasi dan air bersih menjadi salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan anak.

 

Permasalahan tentang gizi bukan seluruhnya menjadi masalah kesehatan. Tetapi bisa saja dengan kurangnya perhatian pemerintah kepada masyarakat kecil. Bona menambahkan, untuk mengatasi permasalah tersebut harus ada campur tangan pemerintah daerah dan pusat.

 

“Seluruh elemen di negara ini harus berjibaku membenahi permasalahan kekurangan gizi di Indonesia. Jangan sampai terlambat yang akan berdampak pada generasi masa depan,” jelas Bona.

 

Radar Depok mencoba mendatangi salah satu puskesmas rawat jalan, yakni UPT Puskesmas Bojongsari. Memasuki ruangan, Radar Depok bertemu dengan Kepala UPT Puskesmas Bojongsari, Rahmina Dewi dan Pelaksana Gizi Puskesmas Bojongsari, Anita Yuningsih.

 

Pelaksana Gizi Puskesmas Bojongsari Anita Yuningsih mengatakan, UPT Puskesmas Bojongsari melakukan penanganan balita gizi buruk sebanyak empat balita. Namun, tinggal satu balita berusia 28 bulan yang masih dilakukan penanganan, dikarenakan disertai penyakit penyerta yakni Tuberculosis. Berat badan balita tersebut mulai mengalami peningkatan dari 7,5 kilogram menjadi 8,6 kilogram. Balita yang dilakukan penanganan, masuk dalam katagori Kwashiorkor dan UPT Puskesmas Bojongsari telah melakukan penanganan seoptimal mungkin.

 

“Kami memiliki konseling gizi untuk membantu peningkatan kesehatan gizi balita dan anak,” ujar Anita didampingi Kepala UPT Puskesmas Bojongsari, Rahmina Dewi.

 

Anita mengungkapkan, pendeteksian balita gizi buruk dilakukan mulai dari pemeriksaan antara berat dan tinggi badan. Apabila ditemukan kesenjangan, pihaknya akan membawa balita ke konseling gizi. Untuk penanganannya, UPT Pusksesmas Bojongsari memberikan makanan tambahan seperti susu, biscuit, dan dilakukan pengontrolan selama 10 hari sekali. Nantinya, orang tua balita diberikan pemahaman tentang asupan gizi.

 

Anita menjelaskan, penanganan balita gizi buruk dibutuhkan orang tua atau keluarga kooperatif memberikan laporan, sehingga cepat dalam penanganan. Menurutnya, apabila ditemukan balita dibawah usia satu tahun lebih cepat dalam penanganannya. Namun, apabila melewati usia tersebut akan lebih sulit penangannya. Hal itu dikarenakan balita sudah mengenal rasa tentang asupan makanan.

 

“Gizi buruk di Kecamatan Bojongsari bukan karena faktor ekonomi namun pola asuh orang tua,” terang Anita.

 

Terpisah, Kadinkes Kota Depok, Novarita mengatakan, berdasarkan data tahun 2018 terdapat 76 balita yang menderita gizi buruk yang tersebar di Kota Depok. Namun menurutnya data tersebut belum diupdate lagi oleh dinas Kesehatan Kota Depok.

“Berdasarkan data tahun 2018 ada 76 anak yang menderita gizi buruk, tapi di tahun 2019 ini belum kami data lagi, bisa turun, bisa juga naik,” kata Novarita kepada Radar Depok.

Namun demikian, data tersebut turun jika dibandingkan dengan angka penderita gizi buruk di tahun 2017 yang mencapai 83 anak.Dia menjelaskan anak disebut menderita gizi buruk bila antara tinggi dan berat badan nyata sebanding, beda dengan stunting yang ditentukan berdasarkan tinggi dan umurnya.

“Gizi buruk ada dua, yang karena pola makan dan yang memiliki penyakit bawaan,” kata Novarita.

Anak yang memiliki penyakit bawaan baru bebas dari gizi buruk setelah penyakitnya sembuh, tak ada kurun waktu pasti sampai anak dinyatakan sembuh.Novarita menjelaskan lama waktu kesembuhan anak paling cepat berkisar satu bulan, dan paling lama hingga beberapa bulan.

“Kalau yang penyakit bawaan dikasih makan apa saja berat badannya enggak meningkat. Harus disembuhkan dulu penyakitnya baru nanti berat badannya naik,” ujarnya.

Selain pola makan, cara orangtua memilih bahan dan mengolah menentukan asupan gizi anak, bila tak sesuai kandungan gizi makanan hilang dan tak berguna bagi tubuh.

Di Posyandu, Novarita menuturkan para orangtua selalu diimbau agar teliti memilih bahan makanan dan cara memasak yang tepat. Dia mencontohkan makanan yang dipanaskan secara berulang-ulang dan terlalu lama dimasak sehingga gizinya hilang.

“Cara memilih makanan dan mengolah makanannya juga berpengaruh. Jangan panasin makanan sampai berapa kali, nanti gizinya hilang. Jangan terlalu lama dimasak,” tuturnya.

Untuk orangtua yang mampu secara ekonomi, Novarita mengimbau agar tak selalu membolehkan anak mengkonsumsi jajanan diluar makanan pokoknya. Anak cenderung ogah makan karena sudah kenyang mengkonsumsi jajanan yang kualitas gizi dan kebersihan belum tentu terjaga.

 

“Ada orangtua yang punya uang tapi anaknya dikasih jajan terus, jadi pas makan enggak mau. Harusnya orangtua memasak untuk anaknya, karena gizinya lebih terjamin,” pungkas Novarita.(san/rub/dic)