AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK HARUS SIAP BERSAING : Sejumlah angkotan perkotaan (angkot) saat keluar dari terminal sementara Kota Depok, kemarin. Munculnya angkutan berbasis online membuat para pengusaha angkutan umum harus siap bersaing.
HARUS SIAP BERSAING : Sejumlah angkotan perkotaan (angkot) saat keluar dari terminal sementara Kota Depok, kemarin. Munculnya angkutan berbasis online membuat para pengusaha angkutan umum harus siap bersaing. Foto: AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Berkembangnya transportasi daring ternyata sangat berdampak pada penghasilan pengemudi angkutan perkotaan di Kota Depok. Para sopir angkor mengaku penghasilan mereka berkurang hingga 50 persen.

Sopir angkot D 110 jurusan Terminal Depok-Cinere, Septian mengaku, penghasilannya tersu berkurang dan beda dari biasanya. Ia menduga, hal itu disebabkan kalah bersaing dengan transportasi online alias daring.

“Biasanya dapat Rp150 ribu sehari, tapi sejak ada transportasi online saya hanya bisa dapat Rp50 ribu per hari,” ungkap Septian kepada Radar Depok.

Septian merincikan, total pendapatan yang ia dapatkan per harinya mencapai Rp270 ribu. Itu dikurangi setoran angkot Rp120 ribu, uang bensin Rp100 ribu, dan sisanya Rp50 ribu buat makan keluarga di rumah.

Terpisah, Satgas Organda Kota Depok, Syafrial Koto mengatakan, jumlah penumpang angkot kini berkurang hingga setengah dari yang sebelumnya. Jumlah angkot di Kota Depok yang semula 2.784 unit pun berkurang sampai setengahnya.

“Jadi yang biasanya bawa 12 orang sekarang bawa enam orang di angkot,” ucap Syafrial, beberapa waktu lalu.

Hal tersebut lantaran taksi daring bisa mengangkut sekaligus empat orang yang harusnya bisa jadi penumpang angkot,” ujar Syafrial.

Ia menyebut, integrasi Terminal Depok dengan stasiun commuter line tidak membawa perubahan berarti dalam peningkatan jumlah penumpang angkot.

Oleh karena itu, Organisasi Angkutan Darat (Organda) mengusulkan beberapa jenis angkot yang dapat mengimbangi pesatnya perkembangan transportasi online. Mereka mengusulkan angkutan kota dijadikan angkutan kawasan yang melayani door to door atau hingga depan rumah dan berbasis aplikasi.

“Kami antarkan sampai depan rumah dengan angkutan lebih kecil atau angkutan kawasan dengan berbasis aplikasi online. Nantinya juga pembayarannya melalui uang nontunai sehingga memudahkan penumpang,” ujar Syafrial.

Selain itu, Organda juga tengah menyiapkan angkot yang dilengkapi dengan pendingin udara. Mengenai angkutan berpendingin udara (AC) ini, Organda menyiapkan empat jenis angkutan, yakni angkutan medium 3/4 dengan AC, angkutan kecil AC, angkutan kawasan, dan angkutan berupa bus wisata di Depok.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Abdul meminta Pemkot Depok untuk menyiapkan regulasi terkait perubahan pelayanan ini. (rub)