Beranda Utama Tak Ikhlas Aset First Travel Disita Negara Jamaah Ancam Kepung Kantor Presiden

Tak Ikhlas Aset First Travel Disita Negara Jamaah Ancam Kepung Kantor Presiden

0
Tak Ikhlas Aset First Travel Disita Negara Jamaah Ancam Kepung Kantor Presiden
SIDANG LANJUTAN FT : Suasana sidang gugatan perdata aset First Travel di Pengadilan Negeri Kota Depok, Rabu (27/3). Agenda sidang kedua tersebut kembali ditunda karena pihak Kejaksaan Negeri Depok masih belum bisa menghadirkan tergugat bos First Travel Andika Surachman. Foto: AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
SIDANG LANJUTAN FT : Suasana sidang gugatan perdata aset First Travel di Pengadilan Negeri Kota Depok, Rabu (27/3). Agenda sidang kedua tersebut kembali ditunda karena pihak Kejaksaan Negeri Depok masih belum bisa menghadirkan tergugat bos First Travel Andika Surachman. Foto: AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM, DEPOK–Korban penipuan Firts Travel mengancam akan menduduki di Istana Bogor, Jawa Barat (Jabar). Mereka meminta agar Presiden Joko Widodo (Jokowi) turun serta menyelesaikan kasus Firts Travel, yang telah memakan korban sekitar 65 ribu jamaah. Para korban mengancam akan menggelar aksi sebelum hari ‘H’ Pemilihan Umum Pilpres 17 April 2019.

Kuasa hukum korban Firts Travel, Riesqi Rahmadiansyah mengatakan, Istana Bogor dipilih karena ketika beraksi di Istana Negara, Jakarta, juga tidak ditanggapi oleh Jokowi.
Oleh karena itu, para korban penipuan Firts Travel berinisiatif, untuk menggelar aksi di Istana Bogor dengan harapan Jokowi mau mendengar keluh kesah para korban penipuan travel milik Andika Hasibuan tersebut.

“Kita akan masuk Istana Bogor karena kemungkinan bisa didengar. Kalau ke Istana Negara (Jakarta) nggak pernah digubris,” ujar Riesqi Kepada Harian Radar Depok, usai sidang gugatan perdata terhadap Andika Hasibuan di Pengadilan Negeri (PN) Depok, Jawa Barat, Rabu (27/3).

Salah satu korban penipuan Firts Travel, Elly Hasanah (57) mengatakan, Presiden Jokowi harus tahu bahwa yang diambil Andika bukan hasil kerja korupsi dari pemerintah.     Andika mengambil uang jamaah, tapi kenapa pemerintah yang menguasai dan menyita aset Andika. Pemerintah, kata Elly, seharusnya segera mencairkan aset Andika untuk segera diberikan kepada korban.

“Kenapa harus disita sama pemerintah? Itu kan uang jamaah yang jamaahnya bukan dari kalangan orang gede-gedean,” paparnya.

Sehingga, sambung Elly, jika Andika tidak mengembalikan aset kepada jamaah maka para korban kan menggelar aksi ke Presiden Jokowi.

Elly menyatakan, tidak ikhlas jika uang sebesar Rp30 juta yang disetorkan ke Firts Travel tidak kembali. “Kalau disuruh mengikhlaskan, jujur hati kecil saya tidak ikhlas,” tegasnya.

Sidang perdata gugatan lagi-lagi harus ditunda. Setelah pada Rabu (20/3) sebelumnya ditunda karena Andika Tidak hadir di persidangan. Dan akan kembali digelara pada Selasa (2/4) mendatangkan.

Sementara itu, Kepala Kejari Kota Depok, Sufari mengatakan, dia tidak memiliki kompetensi terkait perkara keperdataan. “Saya tidak mempunyai kompetensi, tidak punya hubungan keperdataan dengan si Andika. Itu pribadi antara para jamaah dengan yang bersangkutan (Andika Surahman),” kata Sufari.

Terkait pemanggilan untuk melakukan sidang di PN Depok, pihak Kejari Kota Depok tidak terkait dengan kasus Andika Surahman.

“Cuma barangkali sebatas mana yang bisa kita fasilitasi selama memungkinkan ya kita bantu. Tapi kalau pemanggilan nggak bisa, ini wilayah perdata kok,” papar Sufari.

Padahal sebelumnya, Sufari berjanji akan mendatangkan Andika Surahman untuk menjalani sidang. “Nah, betul. Itu namanya memfasilitasi, sepanjang nanti mana yang bisa kita lakukan. Sampai sekarang kan saya tidak tahu ada panggilan ke dia. Nanti koordinasi ke Rutan (Rumah Tahanan). Tidak bisa kita serta-merta menghadirkan. Harus dikondisikan dulu sebatas mana fasilitas yang saya berikan nantinya, menjembatani,” jawab Sufari.

Perlu diketahui sebelumnya, Pengadilan Negeri Depok memutuskan ratusan aset milik First Travel disita negara. Dari ratusan aset tersebut, sebanyak 68 aset dikembalikan ke Jaksa Penuntut Umum pada Kejaksaan Negeri Depok untuk digunakan dalam perkara atas nama Siti Nuraida Hasibuan alias Kiki.

Total aset yang disita mencapai 465 aset. 287 aset di antaranya dikembalikan majelis hakim yang dipimpin Sobadi kepada saksi. Dari aset tersebut, terdapat puluhan aset mewah yang punya nilai cukup besar. Aset-aset tersebut berpindah tangan karena disita negara diserahkan kepada seorang saksi.

Selain disita negara, ada aset lain yang punya nilai cukup besar dan diserahkan kepada seorang saksi kasus ini yakni pemilik PT Kanomas Arci Wisata Umar Abdul Aziz alias Umar Bakadam.

Di luar putusan pengadilan, Umar juga mendapat aset lain yakni apartemen The Aspen Peak Residence, Fatmawati, dan mobil Mercedes Benz E25 Cabriolet atas nama Anniesa Hasibuan.

Apartemen itu awalnya milik Usya Soemiarti Soeharjono. Andika memiliki apartemen ini lewat tukar guling saham restoran Nusa Dua di London, Inggris. Di restoran itu, Andika menanam saham sebesar Rp12 miliar kepada Usya. Belakangan, Usya mengambil alih kepemilikan saham restoran dengan menawarkan apartemen senilai Rp2 miliar.(rub)