SIMULASI PEMILU : Warga mengikuti simulasi Pemilu di TPS 10 Kelurahan Pondok Cina, Kecamatan Beji, Sabtu (23/3). Kegiatan tersebut dilakukan untuk memantapkan pelaksanaan Pemilu 2019 yang nantinya akan memilih Presiden dan Wakil presiden, anggota legislatif di tingkat DPR, DPRD serta Dewan Perwakilan Daerah (DPD). INSERT : SIMULASI PEMILU : Ketua KPU Kota Depok, Nana Shobarna didampingi Wakapolresta Depok, AKBP Arya Perdana meninjau area simulasi Pemilu. Foto: AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
SIMULASI PEMILU : Warga mengikuti simulasi Pemilu di TPS 10 Kelurahan Pondok Cina, Kecamatan Beji, Sabtu (23/3). Kegiatan tersebut dilakukan untuk memantapkan pelaksanaan Pemilu 2019 yang nantinya akan memilih Presiden dan Wakil presiden, anggota legislatif di tingkat DPR, DPRD serta Dewan Perwakilan Daerah (DPD). INSERT : SIMULASI PEMILU : Ketua KPU Kota Depok, Nana Shobarna didampingi Wakapolresta Depok, AKBP Arya Perdana meninjau area simulasi Pemilu. Foto: AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM, DEPOK –  Pukul 07:00 WIB, Sabtu (23/3) warga RW03 Kelurahan Pondok Cina, Kecamatan Beji sudah tiba di TPS 10. Mereka memang dijadwalkan untuk menggunakan hak suaranya pada Pemilu 2019, dimana warga Depok lainnya akan mencoblos pada 17 April 2019 mendatang.

Tenang dulu. Itu bukan bentuk kecurangan penyelenggara pemilu, apalagi curi start pencoblosan. Mereka sedang melakukan simulasi pemungutan dan penghitungan suara yang dilakukan KPU Kota Depok, di Lapangan Futsal Family, Jalan Sirsak.

“Sebelum pencoblosan yang sesungguhnya, kami mengelar simulasi pemungutan dan penghitungan suara dalam rangka menghadapi Pemilu 2019,” kata Ketua KPU Kota Depok, Nana Shobarna kepada Radar Depok

Ia menjelaskan, pada simulasi ini, situasi dan kondisi Tempat Pemungutan Suara (TPS) dalam simulasi ini dibuat semirip mungkin dengan pelaksanaan 17 April. Kotak suara, bilik suara, kertas suara, kursi tunggu pemilih, kursi saksi, spot duduk bagi disabilitas lengkap disediakan.

“Simulasi ini kami mendesain semua kegiatan sama dengan kondisi yang sesungguhnya, mulai dari lokasi TPS, dibukanya TPS, Anggota KPPS, Pemilih semuanya sesuai dengan kenyataan yang nanti akan dihadapi dengan jumlah DPT sebanyak 256 orang, dalam artian semuanya riil, hanya nama-nama peserta pemilu yang ada di surat suara saja yang berbeda,” jelas Nana.

”Menurutnya, kegiatan simulasi pemungutan dan penghitungan suara tujuannya untuk mengetahui secara pasti hal-hal teknis yang dijumpai oleh KPPS pada hari H pencoblosan nanti.

“Kami ingin mengetahui apa saja hal yang perlu dipersiapkan secara matang, mulai dari kesiapan KPPS, pengelolaan logistik, pelayanan terhadap pemilih, mekanisme menggunakan hak pilih sampai kepada berapa durasi waktu yang dibutuhkan dari mulai TPS dibuka sampai dengan penghitungan suara selesai,” terangnya.

Selain itu, sambung Nana, pihaknya juga ingin mengetahui kira-kira apa saja potensi-potensi persoalan yang akan dihadapi oleh KPPS nanti. Sebab, jika sudah mengetahui potensi persoalan, maka masih ada waktu untuk mengantisipasi.

“Jangan sampai potensi persoalan terjadi pada saatnya nanti,” tuturnya.

Nana mengungkapkan, Pemilu yang sukses salah satu indikatornya adalah berjalannya kegiatan pemungutan dan penghitungan suara secara lancar di TPS, karenanya dengan simulasi yang dilaksanakan pihaknya ingin memastikan semuanya berjalan dengan lancar.

“Kami berharap kegiatan simulasi ini bisa menjadi gambaran dan bayangan bagi puluhan ribu anggota KPPS yang lain yang tersebar di seluruh Kota Depok,” paparnya.

Nana menambahkan, setelah simulasi pemungutan dan penghitungan suara, pada Minggu (24/3) pihaknya juga melaksanakan simulasi rekapitulasi penghitungan perolehan suara. Kata Nana, semua kegiatan ini dilakukan adalah ingin menunjukkan kepada masyarakat terkait kesiapan KPU Kota Depok dalam menghadapi perhelatan pesta demokrasi lima tahunan di Kota Depok.

“Kami terus bermunajat semoga pelaksanaan pemilu serentak 2019 di Kota Depok dapat berjalan dengan aman, tertib, lancar dan sukses tanpa ekses,” pungkas Nana. (cky)