BERDUKA : Sejumlah keluarga Ita Sachari di Kampung Pabuaran RT 002/006 Kelurahan Bojonggede, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Bogor sedang berkumpul. Keluarga masih tidak percaya Ita meregang nyawa setelah kecelakaan tunggal di Margonda Raya, Depok. Foto: ARNET/RADARDEPOK
BERDUKA : Sejumlah keluarga Ita Sachari di Kampung Pabuaran RT 002/006 Kelurahan Bojonggede, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Bogor sedang berkumpul. Keluarga masih tidak percaya Ita meregang nyawa setelah kecelakaan tunggal di Margonda Raya, Depok. Foto: ARNET/RADARDEPOK

RADARDEPOK.COM – Kepergian Ita Sahari 27 tahun, korban kecelakaan di Jalan Margonda Raya, Depok, menyita perhatian masyarakat. Honda Vario 150 menjadi teman terakhir Ita sebelum menutup usia serta kabel stling pembatas yang membuat kepergian Ita menjadi tragis.

LAPORAN : Arnet Kelmanutu, Depok

Kediaman Ita memiliki luas kurang lebih 100 meter. Rumah berkelir hijau itu penuh dengan kerabat, keluarga, warga, hingga media massa sore kemarin. Awalnya, lokasi rumah yang berada dalam gang kecil membuat pencarian rumah Ita sedikit sulit.

Tetapi ketika tanya dengan masyarakat di kawasan Bojonggede. Semuanya satu suara mengetahui letak kediaman Ita. Indomart Puri Bojonggede menjadi patokan, sebab rumahnya ada di belakang minimarket tersebut.

Sikap keibuan Ita dengan pribadi yang kalem membuat tiga anaknya, yaitu Caca (7) Neymar (5) dan Sabrina (1,5), tidak akan tergantikan. Sosok ibu yang tulus dengan penuh perjuangan membantu ekonomi keluarga, akhirnya maut menjemput Senin (8/4), pagi hari. Hari ketiga kepergiannya tetap membuat sang suami, Santana termenung dengan dibingkai pelipis mata yang masih sembab.

Pria berusia 32 tahun itu menggunakan baju koko berwarna gelap seirama dengan peci hitamnya. Dia adalah suami kedua dari Ita dan mendapatkan anak ketiga bernama Sabrina. Sementara dua anak lainnya dari suami pertama yaitu Caca dan Neymar. Sebelum kepergian Ita, ada segilintir pesan yang suaminya ungkapkan kepada sanak keluarga Ita.

“Suaminya bilang, 3 hari sebelum meninggal, Ita minta maaf secara serius kepada suami dan anaknya. Setelah itu Ita memasang foto profil WA dengan posisi tertidur berhadapan dengan suaminya. Saat di tanya suaminya, Ita jawab kalau dia mau tidur nyenyak bareng suami dan anaknya sampai lama,” jelas Adik Kandung Ita, Ade Sahari saat berbincang di kediaman Ita.

Satu pesan doa diberikan anak pertama Ita, Caca kini duduk di kelas 1 SD. Dengan sengaja merangkai kata kemurnian hati seorang anak lalu dikirimkan untuk menanggapi status sang tante, yang tak lain adalah Ade Sahari. Caca membalas status Sahari yang memposting kuburan Ita. “Mama tersayang, ma ini aku anak mama Ita. Semoga mama punya waktu lagi bersenang-senang tapi sudah tidak bisa. Oke mah, semoga mama masuk surga. Makasih mama udah punya waktu menjadi orang yang aku cinta. makasih mama ita’. Itu pesan yang diketik langsung dari jari jemari Caca yang kini menjadi anak piatu.

Perempuan dengan perawakan tubuh kecil ini bekerja belum jalan satu bulan. Mungkin terhitung 18 hari bekerja sebagai staf di Hotel 1001, Mangga Besar, Jakarta Pusat. Pegawai baru membuat Ita kebagian masuk sift malam yang waktu jam kerja dari jam 10 malam hingga 4 pagi. Ita memang dikenal dalam keluarga kurang lihai dalam mengendarai roda dua. Maka itu ke khawatiran selalu keluar dari mulut sang Aayah, Muhammad Sahari, setiap kali Ita pergi kerja membawa motor.

Kejadian ini, kali kedua Ita membawa motor. Akhirnya ke khawatiran sang ayah terjawab sudah. Ita pergi meninggalkan empat saudara kandung, dan kedua orang tua. Biasanya sang ayah tidak mengizinkan sedikit pun. Namun karena untuk mengejar waktu dapat bertemu suami yang kerja pagi dan anak, Ita pun memberanikan diri bawa motor dengan jarak yang jauh.

Biasanya dia naik kereta, atau di jemput sama suaminya kalau waktunya dapat ke kejar. Dia baru dua hari bawa motor, di hari yang kedua kejadian. Dapat info dari teman Ita, akhirnya ayah, suami Ita, abang, pergi ke rumah sakit Polri. Suami Ita yang masuk saat jenazah masih kondisi awal. Bang Santana  yang melihat langsung bagian leher ita dijahit. “Jam 4 sore kita bawa pulang dan langsung dimakamkan di TPU Al-Amin meski hujan deras,” kata Ade dengan mata yang berkaca seakan tak menyangka kepergian kakaknya.

Usai berbincang bersama Ade Sahari di kediaman Ita dengan diteduhi terpal biru, serta jejeran bangku plastik. Bersiap menyambut keluarga, tetangga, dan kerabat untuk melantuntakan doa bagi Ita. Sebab malam ini, keluarga Ita akan menggelar tahlinan demi mengantarkan sang anak ke peristirahatn terakhir di surga.(cr2)