Beranda Utama HASIL SIMULASI PENCOBLOSAN SURAT SUARA PILPRES

HASIL SIMULASI PENCOBLOSAN SURAT SUARA PILPRES

0
HASIL SIMULASI PENCOBLOSAN SURAT SUARA PILPRES
SIMULASI PEMILU: Warga saat berpartisipasi mengikuti Simulasi Pemilu yang diadakan Harian Radar Depok, Jumat (22/3). Foto: AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
SIMULASI PEMILU: Warga saat berpartisipasi mengikuti Simulasi Pemilu yang diadakan Harian Radar Depok, Jumat (22/3). Foto: AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM – Pada Jumat (22/3) Radar Depok kembali melakukan simulasi pencoblosan surat suara Pilpres 2019 di sejumlah titik keramaian di Kota Depok. Guna memaksimalkan giat simulasi tersebut, dilibatkan tim relawan yang disebar dengan membawa peralatan simulasi pencoblosan hingga kotak suara.

Selain di Kota Depok, simulasi ini juga serentak dilakukan di sepuluh kota dan kabupaten yang ada di Jawa Barat. Yaitu di Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kota Cimahi, Kota Bandung, Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Cianjur, Kota dan Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Karawang, dan Kabupaten Purwakarta.

Hasil penghitungan untuk surat suara Pilpres di Kota Depok, pasangan Capres dan Cawapres Nomor Urut 01 Ir. H. Joko Widodo dan Prof. Dr. (HC) KH. Ma’ruf Amin mendapatkan 495 suara. Sedangkan pasangan Capres dan Cawapres Nomor Urut 02 H. Prabowo Subianto dan H. Sandiaga Salahuddin Uni meraih 717 suara.

Sesuai hitungan persentase suara, paslon capres dan cawapres nomor urut 02 di sebelas kabupaten/kota di Jawa Barat masih jauh lebih unggul suaranya dibandingkan dengan paslon capres dan cawapres nomor urut 01. Apakah keunggulan tersebut disebabkan faktor elektabilitas paslon 02 mengalami kenaikan di Kota Depok?

Pengamat politik, Yus Fitriadi menilai, naik turunnya elektabilitas paslon mendekati hari pemilihan merupakan hal yang wajar, karena masyarakat semakin terbuka dengan pilihan mereka.

“Naik turunnya elektabilitas capres-cawapres itu hal wajar, tidak perlu diperdebatkan,” tutur Yus—sapaannya—kepada Radar Depok.

Di sisi lain menurunnya elektabilitas paslon 01, disebabkan karena faktor ekonomi dan adanya ketidakpuasan masyarakat terhadap kebijakan ekonomi, serta harga pasar yang dikeluarkan selama menjadi presiden.

“Saya melihatnya ada ketidaknyamanan dari masyarakat Indonesia tentang rezim saat ini. Karena harga-harga masih belum dikendalikan walaupun sudah mengeluarkan berbagai program,” katanya.

Yus juga mengatakan, masyarakat tampak kurang nyaman dengan sistem penegakan hukum saat ini. Maka tak heran elektabilitas paslon 01 mengalami penurunan. Faktor lainnya, semakin terbukanya masyarakat yang menyatakan mendukung paslon 02. “Bahkan efek dari debat Pilpres juga memengaruhi, meski hasilnya tidak signifikan. Hanya lima persen peningkatannya,” tegas Yus.

Terpisah, Ketua Tim Kampanye Daerah (TKD) Kota Depok paslon capres 01 Jokowi-Amin, Ilyas Indra mengklaim, hasil survei internal TKD suara Jokowi-Amin tersu merangkak naik dari 30 persen kini mencapai 53 persen.

“Semua bekerja dengan baik, koordinasi berjalan. Hasil kemarin, kami unggul 53 persen dan masih terus ditingkatkan. Awalnya 30 persen sekarang melesat naik,” tegas Ilyas kepada Radar Depok.

Kolaborasi yang baik dikatakan Ilyas menjadi kunci kesuksesan capaian ini, semua bergerak mulai dari Bravo 5, NU, Banser, para relawan, seluruh tim bekerja sama memenangkan dan memutihkan Kota Depok. Saat ini, TKD Depok tengah memantapkan saksi yang akan diterjunkan ke TPS.

“Kami yakin menang. Jokowi putih, Indonesia putih, Depok putih. Ini menjadi nilai penting di dalamnya, karena kerja pak Jokowi bersih dan nyata. Mari datang ke TPS, kita putihkan TPS tanpa emosional,” ujar Ilyas.

Sementara itu, menyikapi hasil simulasi pencoblosan surat suara Pilpres yang dilakukan Radar Depok, Ketua Tim Koalisi Pemenangan Prabowo-Sandi Kota Depok, Jamaludin mengaku, menghargai langkah simulasi tersebut. Tetapi, ia meragukan hasil dari simulasi. Karena ia meyakini kandidatnya minimal meraih 70 persen suara di Depok.

“Minimal kami dapat 70 persen di Depok, target kami sebenarnya 80 persen,” kata Jamal saat dihubungi Radar Depok, Jumat (5/4).

Jamal menegaskan, target tersebut berdasarkan indikasi-indikasi yang didapati selama kampanye berlangsung, seperti relawan berasal dari berbagai elemen, dan antusias terhadap Prabowo Subianto sangat tinggi.

“Karena kami berada di partai, kami yang turun ke bawah, bagaimana permintaan kaos, bendera dan atribut lainnya mengenai APK. Saya sendiri mengalaminya, karena banyak yang meminta langsung ke saya. Ada FPI juga di Depok yang akan mengerahkan kekuatan penuh untuk kami, alumni 212 dan elemen lain,” terang Jamal.

Kemudian, dari partai koalisi, dan dari Gerindra sendiri dari seluruh Caleg yang diturunkan, hampir 90 persen dari mereka rutin kampanye dan turut menyosialisasikan ke masyarakat untuk memilih pasangan Prabowo-Sandi. “Belum lagi dari PKS yang kami anggap sangat militan relawannya, mereka sudah pasang spanduk PKS menang Prabowo Presiden, demikian juga dengan Demokrat, PAN dan Partai Berkarya,” tegasnya.

Selain itu, sambung Ketua Harian DPC Partai Gerindra Kota Depok ini, kampanye kubu sebelah di Depok juga sepi, ia mengambil contoh beberapa hari lalu kampanye di Jalan Raya Sawangan, sepi dari massa. “Saya menyaksikan sendiri, kebetulan lewat sana. Jam 2 siang sudah sepi, harusnya kan jam segitu sedang ramai-ramainya. Itu bahkan ada grup musik dangdut yang terkenal di Depok. Bahkan, di jalan yang mengenakan atribut tidak banyak,” ungkapnya.

Ia mengaku yakin perolehan suara Prabowo-Sandi minimal diangka 70 persen. Jadi, jika simulasi pencoblosan yang dilakukan Radar Depok, pasangan nomor urut 02 hanya unggul tipis, ia sangat meragukan hasilnya. “Itu belum menyeluruh. Ini bukan membagus-baguskan partai kami atau Prabowo. Tapi kenyataannya di bawah seperti itu. Bahkan, yang akan ke GBK besok saja sudah antusias sekali, yang mau berkorban pakai uang sendiri, cetak kaos sendiri. Ini berlaku di Depok ya,” ucapnya.

Jamal pun menegaskan, dirinya yakin dengan kekuatan koalisi Parpol dan relawan-relawan yang ada. Nanti, lanjut Jamal, untuk ukuran bisa dilihat pada kampanye rapat terbuka pada 11 April di GDC. “Nanti bisa dilihat bagaimana kekuatan kami. Kami akan all out bersama partai koalisi, tapi leader-nya tetap dari Gerindra,” ucap Jamal. (gun/rub/cr2/cky)