Beranda Metropolis Lebih Dekat dengan Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Depok (2)

Lebih Dekat dengan Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Depok (2)

0
Lebih Dekat dengan Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Depok (2)
PEDULI : Ketua dan relawan DKR Kota Depok saat melakukan aksi unjukrasa untuk mengadvokasi warga miskin. Foto: RICKY/RADAR DEPOK
PEDULI : Ketua dan relawan DKR Kota Depok saat melakukan aksi unjukrasa untuk mengadvokasi warga miskin. Foto: RICKY/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM – Sepakterjang Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Kota Depok sudah tidak diragukan lagi dalam mewujudkan pelayanan dasar yang berkualitas untuk masyarakat miskin. Tak jarang, organisasi yang Diketuai Roy Pangharapan ini mengajak ratusan relawannya untuk turun ke jalan menyuarakan kepentingan rakyat.

Laporan : Ricky Juliansyah

“Silahkan kopinya mas,” tutur relawan DKR seraya menaruh kopi hitam di meja tempat saya dan Roy Pangharapan berbincang sore itu. Relawan DKR yang sedari tadi sibuk memasak di dapur Kantor Sekretariatnya di Jalan Datuk Kuningan no.54 RT05/03 Kelurahan Beji, Kecamatan Beji.

Roy mengungkapkan, untuk membesarkan DKR yang kini memiliki lebih dari 900 relawan aktif dan 2.000 anggota lebih yang terdaftar di sekretariatnya memang bukan membalikan telapak tangan. Sebab, perlu perjuangan yang konsisten di lingkungan.

“Sejak Juni 2009 masuk ke Depok, hingga akhir Desember 2010 bisa kelihatan sepakterjang DKR Kota Depok, ini dilihat dari anggaran Dinas Kesehatan yang sudah mulai meningkat tajam. Ini karena kesadaran masyarakat juga meningkat,” kata Roy.

Ketika orang miskin, yang semula versi pemerintah hanya lima hingga 10 orang. Namun, begitu DKR gerilya ke lingkungan ternyata banyak yang ditemukan. Sebab, kriteria masyarakat miskin versi pemerintah sudah tidak sesuai dengan kondisi saat ini.

Ia mencontohkan, untuk masyarakat yang rumahnya sudah berlantai kramik dan rumahnya permanen, sudah bukan jaminan kondisi ekonomi mereka mapan atau baik. Karena, sambung Roy, bisa saja rumah tersebut warisan atau baru menjual tanah dan membangun rumah yang lebih layak, sementara penghasilan mereka masih dibawah rata-tara dan tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari.

“Alhamdulillah saat itu lahir juga Jamkesda, dimana masyarakat yang tidak tercover di Jamkesmas. Sebab, saat itu Depkes meminta sebanyak-banyaknya, orang miskin yang banyak itu tidak masuk semuanya ke Jamkesmas, makanya dibuat Jamkesda,” terang Roy.

Ia bersyukur, entah diakui atau tidak, DKR memborong agar ada kepastian masyarakat yang miskin tersebut dilindungi jaminan kesehatannya. Meski maksimal Rp100 juta, tapi dapat membantu masyarakat, jika lebih dari nilai itu pihaknya pun melakukan gebrakan lain.

Bahkan, lanjut Roy, ketika ada masyarakat yang tidak diakomodir, pihaknya siap turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasi masyarakat. Hal ini, bukan hanya sekali atau dua kali dilakukan. Namun, itu adalah jalan terakhir ketika sudah tidak ada titik temu saat diskusi atau audiensi.

“Perjalanan di Depok sendiri, kami lebih cenderung ke advokasi penyuluhan yang menjadi aktivitas kami sehari-hari. Alhamdulillah, meski belum banyak kesadaran masyarakat, tapi setidaknya lebih baik, karena kita menghadapi orang-orang (Calo.red). Padahal, kami niatnya menolong. Bahkan, sempat heboh jika DKR dituduh calo,” tuturnya. (Bersambung)