Beranda Metropolis Lebih Dekat dengan Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Depok (3-Habis)

Lebih Dekat dengan Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Depok (3-Habis)

0
Lebih Dekat dengan Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Depok (3-Habis)
PEDULI : Ketua dan relawan DKR Kota Depok saat membagikan takjil di bulan Ramadan di beberapa titik Kota Depok. Foto: RICKY/RADAR DEPOK
PEDULI : Ketua dan relawan DKR Kota Depok saat membagikan takjil di bulan Ramadan di beberapa titik Kota Depok. Foto: RICKY/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM – Meski kerap melakukan aksi untuk membela warga miskin, khususnya dalam pelayanan kesehatan. Namun, ratusan relawan Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Kota Depok yang ikut turun ke jalan murni dari keinginan pribadi untuk membantu dan tanpa bayaran.

Laporan : Ricky Juliansyah

Tidak terasa, obrolan bersama para pejuang kesehatan di Kota Depok telah berlangsung lebih dari dua jam, hujan pun mulai mereda. Ketua DKR Kota Depok pun mempersilahkan awak Radar Depok untuk menyeruput kopi hitam yang sudah mulai dingin.

Aktivitas DKR Kota Depok tidak selama berjalan mulus, tentunya mereka juga memiliki kendala. Namun, Roy coba meyakinkan ke para relawan, sebagai rasa terima kasih kepada Allah SWT, diberi nikmat kesehatan dan segala macam, diwujudkan dengan menolong orang.

“Jadikan DKR sebagai ladang ibadah, begitu saya awalnya mempromosikan DKR ke para relawan, kemudian saling tolong menolong. Kalau kamu menolong orang, kamu akan ditolong orang juga. Alhamdulillah banyak yang bergabung dengan DKR,” tutur Roy Pangharapan.

Mayoritas relawan DKR sendiri, sambung Roy adalah kaum hawa. Sebab, yang paling tahu persis kondisi di lingkungan adalah ibu-ibu dan paling banyak waktu di rumah adalah ibu-ibu. Sehingga, 95 persen lebih relawan DKR adalah ibu-ibu rumahan yang tidak tahu organisasi dan tahunya hanya dapur dan sumur yang dibangun sesadarannya untuk berorganisasi dan mau menolong.

Karena DKR sifatnya organisasi nirlaba, sehingga para relawan tersebut tidak digaji, malahan mereka iuran untuk menghidupi DKR Kota Depok.

“Ini yang mungkin tidak dimiliki organisasi lain. Kami ada iuran. Per Maret ini anggota DKR yang aktif sekitar 900-an. Sementara untuk keseluruhan mencapai 2.000 orang lebih, itu yang menyatakan diri sebagai anggota DKT,” terang Roy.

Stuktur DKR sendiri dari nasional, provinsi, kabupaten/kota, selanjutnya kata Roy, DKR tidak mengenal istilah pengurus kecamatan, tetapi Kelurahan Siaga dan RT Siaga. Karena merupakan tugas kemanusiaan dan membangun kesadaran, DKR baru ada di 10 kelurahan, yakni Beji, Beji Timur, Kemirimuka, Sukatani, Sukamaju Baru, Cisalak Pasar, Pancoranmas, Pasir Putih.

“Kami ada kelurahan persiapan, di Cinere dan Meruyung, sebentar lagi akan dikukuhkan,” ucapnya.

Di usia 11 tahun ini, DKR Kota Depok bersama masyarakat terus menggaungkan kesehatan gratis untuk warga tidak mampu. Sehingga, pihaknya memiliki beberapa tuntutan, seperti menggratiskan seluruh peserta BPJS kesehatan kelas 3, menghapuskan tunggakan iuran seluruh peserta BPJS kesehatan, menindak tegas rumah sakit yang menolak peserta BPJS kesehatan, melarang rumah sakit meminta biaya/jaminan di UGD, IGD sebelum 3×24 jam, tindak tegas rumah sakit yang meminta biaya kepada pesetta BPJS kesehatan dan meminta untuk menstop rayonisasi bagi peserta BPJS kesehatan.

“Tujuan kami agar masyarakat miskin mendapatkan hak pelayanan kesehatan gratis dan berkualitas, ini untuk kelas 3, juga masyarakat ke RS cukup membawa KTP. Yang penting pelayanan dasar untuk masyarakat miskin dapat diakomodir oleh pemerintah, juga untuk pendidikan,” pungkas Roy. (Habis)