MENGHIBUR: Para personel Band D’Hobbit saat tampil dalam sebuah perhelatan musik. Foto: INDRA SIREGAR / RADAR DEPOK
MENGHIBUR: Para personel Band D’Hobbit saat tampil dalam sebuah perhelatan musik. Foto: INDRA SIREGAR / RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM – Memiliki bentuk tubuh yang berbeda dari orang kebanyakan, tak menyurutkan semangat empat sekawan bertubuh mungil ini untuk berkarya di bidang musik. Alihalih meratapi nasib, empat  sekawan ini malah menjadikan kekurangan mereka sebagai potensi untuk memberikan warna baru dalam blantika musik Indonesia lewat grup band mereka yang bernama DHobbit.

 Laporan: Indra Abertnego Siregar

Di Studio Musik Ridge, Jalan Jambu Nomor 15 Kelurahan Depok, Kecamatan Pancoranmas, tampak delapan orang anak muda sedang asik nongkrong di teras studio tersebut.

Di antara pemuda yang nongkorong tadi, ada pemandangan yang cukup kontras yaitu keberadaan dua insan yang memiliki tubuh lebih kecil dibanding enam orang lainnya.

Ya, kedua orang tersebut adalah Roni Simanjuntak drummer band D’Hobbit, dan Megasari manajer band D’Hobbit. Kebetulan, para punggawa D’Hobbit memang sering nongkrong di Studio The Ridge bersama musisi lokal lainnya.

Roni, sapaannya mengatakan, selagi tidak ada jadwal latihan, dia dan manajernya yang juga merupakan kekasihnya sering nongkrong di studio tersebut hanya untuk sekedar berbincang seputar musik. Terkadang didampingi pemilik Studio The Ridge, Kevin yang juga menjadi penata musik band D’Hobbit.

“Studio The Ridge ini sudah kami anggap seperti rumah ke dua kami. Sebab selain kualitas alat dan soundnya yang bagus, lokasinya juga cantik seperti ada di sebuah villa di Puncak Bogor,” kata Roni kepada Radar Depok.

Ketika ditanya mengenai ihwal terbentuknya band D’Hobbit, Roni dengan senang hati menceritakan awal terbentuknya band unik ini. Roni menjelaskan, sebelum dia membentuk D’Hobbit, dia pernah bergabung dalam sebuah band dengan konsep yang sama, yaitu The Baba Band besutan aktor bertubuh mini kawakan Ucok Baba.

“Saya sebelumnya gabung di bandnya opung Ucok Baba, The Baba Band,” tutur Roni.

Namun umur The Baba Band tak berlangsung lama, hanya sekitar tiga tahun. Sebab, salah satu label musik yang menaungi mereka kurang serius dalam mempromosikan band ini. Karena label tersebut hanya fokus pada musik dangdut sehingga membuat Ucok Baba marah dan tidak mau lagi memperpanjang kontrak musik dengan label tersebut.

“Band The Baba kita bentuk tahun 2014, 2016 masuk label, dan 2017 kita vakum hingga sekarang. Karena opung Ucok Baba kecewa sama label yang menaungi kami, promosi band kami sangat minim,” terang Roni.

Selama bergabung bersama The Baba Band, Roni dan Ucok Baba serta personel lainnya beberapa kali malang melintang tampil di stasiun televisi swasta nasional menghibur para pemirsa.

“Terakhir The Baba main di program Ada–Ada Aja Global TV,” ucap Roni.

Setelah dari Band The Baba, Roni kembali melakukan pekerjaan lamanya sebagai instruktur drum di sebuah sekolah musik di kawasan elit di bilangan Kelapa Gading, Jakarta. Untuk mengisi kekosongan harinya setelah salah satu band dengan personel bertubuh uniknya tidak lagi menuangkan karyanya.

“Saya kebetulan ngajar musik juga di Kelapa Gading,” tukasnya. (bersambung)