LELAH SANGAT : Anggota Sekretariat PPS Kelurahan CInere, Abdul Malik tertidur pulas menyender dinding dengan kaos khas PPS CInere di salah satu ruangan di Kelurahan CInere, Kamis (18/4) siang. Foto: FAHMI/RADAR DEPOK
LELAH SANGAT : Anggota Sekretariat PPS Kelurahan CInere, Abdul Malik tertidur pulas menyender dinding dengan kaos khas PPS CInere di salah satu ruangan di Kelurahan CInere, Kamis (18/4) siang. Foto: FAHMI/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM – Pemilihan Umum (Pemilu) tahun ini benar-benar menguras tenaga penyelanggara, dan keuangan Negara. Hingga kemarin, tercatat sudah puluhan penyelenggara pemilu yang gugur akibat kelelahan. Bayangkan penyelenggara dari pagi sampai pagi lagi bekerja, bahkan tidak pulang berhari-hari demi pemilu jujur dan adil.

Laporan : Fahmi Akbar, Depok

Mulutnya menga-nga, kepalanya tak lagi sanggup menahan rasa lelah yang dialaminya selama tiga hari tidak pulang. Dibalut kaos berkerah hitam bertuliskan Panitia Pemungutan Suara (PPS) Kelurahan Cinere, Depok. Pria dua anak itu sangat menikmati tidur bersandar di dinding ruang kerjanya sembari duduk menengadah, siang sekira pukul 14:00 WIB, Kamis (18/4). Raungan suara mendengkur sesekali terdengar dari mulutnya. Itu salah satu tanda pria yang memiliki nama lengkap Abdul Malik kelelahan hebat.

Sejumlah baju dan sepatu miliknya sudah tak tertata rapih diruangannya berukuran 2×6 meter. Selama tiga hari sedari Senin (15/4), Malik sudah tidak pulang kerumah. Senin pagi, pria yang bertugas sebagai staf Sekretatiat PPS Kelurahan Cinere sudah langsung bertugas menyortir surat suara yang baru dikirim Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Depok. Bersama puluhan PPS, bapak dari Atariq Azfari Malik ini mulai memilah surat : Pilpres, DPR RI, DPD RI, DPRD Jawa Barat dan DPRD Kota di Aula Kelurahan Cinere. Berjam-jam dilaluinya hingga melupakan rasa lapar diperutnya. Dihadapannya, hanya kopi dan sedikit gorengan sebagai pengganjal perut.

Baca Juga  Diduga Polisi Tembak Keluarga, Lalu Bunuh Diri

Jelang sore lima suara yang hampir selesai disortir akhirnya dimasukan ke dalam kotak kardus berkelir putih. Saat memasukan juga agak memakan waktu lama, maklum dari empat kelurahn yang dinaungi Kecamatan Cinere, Kelurahan Cinere yang paling padat. Daftar Pemilih Tetap (DPT)nya mencapai 23.851 jiwa yang tersebar di 94 RT dan 19 RW. “Maaf ya bang, saya lelah banget sampe tertidur seperti ini,” ujar Malik saat terbangun.

Matanya masih merah, suami Rike Handayani ini mengaku, sejak Senin sudah begadang. Paginya sortir surat suara, sorenya sampai subuh masukan ke kotak. Kemudian dilanjut Selasa, mendistribusikan kotak ke 95 Tempat Pemunutan Suara (TPS) sampai larut malam. Saat ada waktu satu jam, pria yang seharinya honorer di Kelurahan Cinere ini pulang kerumah. Itu pun tidak bisa lama, hanya mandi dan mengganti baju serta makan. “Tidak ada waktu lama, karena saya juga langsung mantau kotak suara. Saya pulang hanya ganti baju,” ucapnya pelan.

Saat waktu pencoblosan, Malik langsung stand by di kantor kelurahan. Sesekali dia bersama anggota PPS lainnya keliling melihat kelancaran jalannya pencoblosan. Di setiap TPS masih sibuk dengan memilih presiden lima tahun kedepan dan wakil rakyat. Sekitar delapan menit setiap DPT mencoblos dengan lima kertas suara.

Baca Juga  Persiapan Pilgub Kelurahan Duren Mekar, Kota Depok

“Sekretariat PPS Kelurahan digaji Rp2,3 juta sebulan. Kemudian dana itu dibagi tiga, Ketua  Sekretariat PPS Rp800 ribu, saya dan teman Rp750 ribu. Kalau PPS Cinere dapat gaji Rp2,6 juta, ketua PPS terima Rp900 ribu sisanya buat dua orang dibagi dua,” beber pria yang mengenakan kaos belakangnya bertuliskan #kamitidaklibur.

Jam menunjukkan pukul 13:00 WIB, hampir seluruh TPS di Cinere selesai menutup pendaftaran. Selang 45 menit kemudian dilanjut penghitungan surat suara. Disinilah waktu yang melelahkan bagi Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS). Penghitungan lima surat suara dimulai. Umumnya didahulukan Pilpres.  Di TPS 39 Kurahan Cinere kesibukan terpancar. Semua anggota KPPS sibuk menyiapkan peralatan saat ingin menghitung.

01, 02 begitulah suara saut-sautan di TPS tersebut. Penghitungan dari 244 surat suara sah dan tidak sah itu, tidak secepat yang dibayangkan. Dari pukul 14:00 WIB, 244 surat dilontarkan KPPS. Sampai  beres Magrib baru penghitungan suara Pilpres selesai. Kemudian dilanjut penghitungan surat suara DPR RI. “Pilpres saja sudah lama bagaiman dengan DPR RI, DPD, DPRD Jawa Barat dan DPRD Kota,” kata anggota KPPS TPS 39 Cinere, Tamah.

Baca Juga  Bocah Enam Tahun Di Depok Menjadi Korban Tindak Asusila

Perempuan yang sibuk di PKK Kelurahan Cinere ini menyebut, penghitungan surat DPR RI memakan waktu sampai 4 jam lebih. Lalu dilanjutkan ke penghitungan surat suara DPD RI, ini menghabiskan waktu 3 jam kurang. Yang masih fit, melanjutkan penghitungan surat suara DPRD Provinsi. Banyaknya nama dari belasan partai semakin memperlambat waktu penghitungan. Tamah memperkirakan penghitungan DPRD provinsi baru selesai selepas subuh atau sekitar pukul 05:00 WIB. Siangnya, Kamis (18/4) akhirnya penghitungan selesai pukul 10:00 WIB. Kerja KPPS belum selesai, habis itu harus melaporkan kembali ke PPS Kelurahan CInere sembari mengembalikan seluruh logistik dan surat suara yang sudah terhitung.

“Kerja kami tidak normal. Bayangkan dari jam 8 pagi sampai besok siang. Upah yang diterima hanya Rp500 ribu. Kendati lelah, dia merasa puas dapat mengukir sejarah di Indonesia. Karena ini baru pertama kali dilakukan di Indonesia sejak ada pemilu,” bebernya senang.

Istri ketua RT ini mengaku, faktor kelelehan menjadi penyebab banyak anggota KPPS yang terbaring sakit setelah pemungutan. Bekum lagi saat di PPS anggota KPPS menyalin formulir yang cukup banyak. “H-1 sebelum pencoblosan juga kami mesti menyiapkan TPS agar lebih menarik. Jadi kami semuanya lelah. Kalau bisa pemilu selanjutnya di sederhanakan, agar tidak ada korban lagi,” tandasnya berharap.(hmi)