Beranda Utama Warga Pondok Terong Rela Jual Ginjal

Warga Pondok Terong Rela Jual Ginjal

0
Warga Pondok Terong Rela Jual Ginjal
TAWARKAN GINJAL: Sumiati, saat menawarkan ginjalnya di depan stasiun bekasi. Penjualan ginjal tersebut untuk biaya pengobatan suaminya. Foto: SURYA/RADAR BEKASI FOR RADAR BEKASI
TAWARKAN GINJAL: Sumiati, saat menawarkan ginjalnya di depan stasiun bekasi. Penjualan ginjal tersebut untuk biaya pengobatan suaminya. Foto: SURYA/RADAR BEKASI FOR RADAR BEKASI

RADARDEPOK.COM- Kehabisan akal untuk membiayai pengobatan suaminya, seorang ibu bernama Sumiati warga Jalan Raya Rawa Indah 2 RT04/RW02 Pondok Terong, Bojonggede rela menjajakan ginjalnya.

Siang itu waktu menunjukkan pukul 10:00 WIB, sinar matahari terasa tajam menyengat kulit. Sumiati terduduk di trotoar seberang stasiun Bekasi, terlihat ia membawa kardus dan kertas karton menyiratkan pesan bahwa dirinya saat itu sedang menjajakan ginjalnya untuk pengobatan sang suami, Leo (70).

Sumiati mengaku kehabisan akal untuk membiayai pengobata suaminya hingga terpaksa menjual ginjalnya. Ia mengaku sudah mengikhlaskan jika ada yang berniat untuk membeli ginjalnya. Sampai dengan saat ini sudah empat kota ia kunjung untuk menjajakan ginjalnya, diantaranya adalah Bogor, Depok, Jakarta termasuk Bekasi.

Perjuangan ibu 59 tahun ini terdengar sangat berat dari penuturannya, kondisi diperparah dengan situasi rumahnya yang masih mengontrak. Ia mengaku mengambil jalan ini atas kehendaknya sendiri, ia berniat uang yang didapatkan dari menjual ginjalnya ini digunakan untuk membiayai pengobatan dan jika masih ada sisanya akan ia belikan rumah.

“Begitulah kondisi saya. Siapapun para darmawan yag butuh ginjal saya silahkan saya ikhlas. Buat pengobatan bapak dan beli rumah,” katanya kepada Radar Bekasi (Radar Depok Group).

Ia menceritakan tidak ada yang bisa membantu untuk membiayai pengobatan suaminya, kedua anaknya berprofesi sebagai tukang ojek dan buruh cuci, ia mengaku tidak tega jika harus membebani anaknya.

Setiap satu minggu ia harus menyiapkan uang Rp200 ribu untuk pengobatan suaminya termasuk dengan ongkos menuju rumah sakit. Sumiati mengaku tidak tahu sampai kapan sang suami harus menjalani suntikan Selama satu minggu sekali tersebut. Dia mengaku, suami menderita penyakit komplikasi. “Seterusnya ya mas sampai sembuh,” keluhnya.

Ibu ini mengaku malu dengan apa yang dilakukannya saat ini. Namun, apa daya BPJS sudah tidak mengcover pengobatan sang suami. Dia mengaku tidak ingat secara pasti kapan awal suaminya itu sakit.

Dirinya sudah dua hari di Kota Bekasi. Dia mengaku mendapatkan Rp100 ribu dari belas kasihan masyarakat yang melintas. “Duduk aja sekarang, bapak tidak bisa ngapa-ngapain, udah susah,” imbuhnya. (sur)