JADI TEMPAT BERKUMPUL : Tampak terlihat Masjid Jami’ An Nur, Petamburan, Jakarta Pusat yang menjadi tempat berkumpul para pengunjuk rasa dalam aksi 21-22 Mei yang terpusat di depan kantor Bawaslu, Kamis (23/5). Foto: AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Kondisi Masjid yang berdiri sejak tahun 1931 di Kelurahan Petamburan, Kecamatan Tanah Abang sempat mencekam, sejak Selasa (21/5) hingga Rabu (22/5) sore. Bahkan hingga kini masih ada dua buah motor yang tertinggal di halaman Masjid Jami An Nur.

LAPORAN: Rubiakto, Kota Depok

“Allohuakbar,” pekik jamaah Salat Dzuhur di Masjid Jami An Nur saat aksi massa dikejar anggota Brimob yang sedang berjaga. Massa berlarian ke masjid untuk melindungi diri. “Kondisinya sangat mencekam, kejadian itu terjadi sejak Rabu (22/5) sekitar pukul 04:00 WIB,” kata Marbot Masjid Jami An Nur, Rosyid saat ditemui di Masjid An Nur.

Sejak Rabu (22/5) dini hari, massa mulai mendatangi Masjid Jami An Nur, dengan menggunakan sepeda motor. “Ada sekitar 200 motor yang terparkir di halaman Masjid An Nur, tapi orangnya tidak tahu pada kemana, seperti sudah ada yang memerintahkan untuk berkumpul,” kata Rosyid.

Menurut Rosyid, saat subuh bentrokan juga sudah terjadi, massa sempat dipukul mundur oleh aparat kepolisian, dari arah Pasar Tanah Abang. Dan berlarian di Jalan KS tubun menuju arah Slipi. “Dari pagi sudah bentrok, masa sempat dipukul mundur ke arah Slipi,” terang Rosyid.

Tidak sampai disitu, sepeti memberikan perlawanan. Massa menggunakan senjata petasan, bom molotov, dan kayu massa terus menyerang anggota Brimob. “Sangat mencekam, mereka (massa aksi, red) berani sekali melawan polisi,” tutur Rosyid.

Sempat terpukul mundur ke arah Slipi, massa malah menyerang markas Detasemen Gegana Brimob di Jalan KS Tubun, dan membakar belasan mobil yang terparkir di halaman markas Brimob. “Merasa tertekan, akhirnya anggota Brimob yang bermarkas di KS Tubun keluar dan ikut meyerang massa yang mulai membabi buta,” bebernya.

Akhirnya massa terpojok, karena diserang aparat kepolisian dari dua sisi. Tidak tinggal diam, polisi terus menyerang massa, hingga akhirnya masuk ke dalam Masjid Jami An Nur. “Mereka berkumpul disini (Masjid An Nur, red) bahkan saat Salat Dzuhur massa merangsek masuk ke dalam Masjid,” kata Rosyid.

Keadaan begitu kacau, disepanjang jalan KS Tubun masa membakar ban bekas, saat lari ke masjid. Polisi juga tidak segan menembakan gas air mata untuk meredakan aksi brutal. Banyak massa yang masuk ke masjid, karena dikejar brimob. Jamaah Salat Dzuhur sontak terkejut dengan situasi yang semakin memanas, sambil mengucapkan takbir.

“Situasinya sangat kacau, masjid dipenuhi gas air mata, jamaah yang mau salat dzuhur takbir. Tiba-tiba ada massa yang seolah datang membantu dari arah Jalan Jati Baru Raya, dan Jalan Slipi I, situasi semakin kacau,” kata Rosyid menceritakan.

Karena situasi semakin kacau Rosyid mengaku, langsung menutup gerbang masjid, dibantu aparat TNI yang tidak menghendaki adanya keributan di dalam masjid. “Saya langsung tutup gerbang,” ucapnya.

Bentrokanpun tidak terelakan massa terus melontarkan bom molotov dan petasan ke arah petugas, yang dibalas dengan tembakan gas air mata. “Tepat di depan masjid mereka ‘perang’ jaraknya hanya sekitar lima meter mereka berhadapan,” tegas bapak ini.

Hingga akhirnya sekira pukul 14:00 WIB, aparat brimob menarik diri untuk kembali mengamankan kawasan MH Thamrin. “Polisi akhirnya mundur perlahan ke arah MH Thamrin, dan akhirnya massa membubarkan diri,” kata Rosyid.

Anehnya meski sudah puluhan tahun menjadi marbot di Masjid An Nur, dia tidak mengenali masa aksi yang bebruat kericuhan. “Saya ngga ada yang kenal, kayanya dari luar daerah,” katanya.

Sementara ratusan motor yang tengah terparkir di halaman masjidpun satu-persatu diambil pemiliknya. “Rabu sore, mulai lengang, hanya sisa bakaran yang menyelimuti lantai masjid, motor juga satu-persatu diambil pemiliknya. Hanya ada sisa dua motor yang ditinggal di halaman masjid, mungkin orangnya sudah di tangkap,” tutup Rosyid.(rub)