Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Respati Indonesia (URINDO) menyelenggarakan pengabdian masyarakat edukasi MPASI di Kelurahan Mampang, Pancoranmas. Foto: SANI/RADAR DEPOK
Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Respati Indonesia (URINDO) menyelenggarakan pengabdian masyarakat edukasi MPASI di Kelurahan Mampang, Pancoranmas. Foto: SANI/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Anak balita merupakan kelompok masyarakat rawan gizi dimana prevalensi gizi kurang tertinggi ditemukan pada kelompok tersebut. Masalah gizi kurang ternyata memiliki jumlah yang cukup tinggi dan cenderung meningkat.

Guna menekan jumlah tersebut,  para orangtua harus mengedepankan pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) yang sesuai.

Hal itu diutarakan dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Respati Indonesia (URINDO) dalam kegiatan Pengabdian Masyarakat kepada ibu-ibu pemilik balita berusia 6-24 bulan di Kelurahan Mampang, saat acara yang bertajuk Edukasi Makanan Pendamping ASI (MPASI), kemarin.

Dosen URINDO, Yuna Trisuci mengatakan, balita gizi kurang di Indonesia tercatat sebesar 19,6 persen dan masalah balita pendek (stunting) sebesar 37,2 persen berdasarkan Riskesdas Tahun 2103.

“Masalah itu muncul bukan hanya karena kekurangan pangan namun bisa dari faktor lain seperti pemberian MPASI yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi yang ada diusia anak, lalu pemberian MPASI pabrikan atau instan serta pemberian MPASI dini yang seharusnya bayi mendapatkan ASI Ekslusif selama 6 bulan,” kata Yuna kepada para orangtua.

Menurut Yuna, memburuknya keadaan gizi bayi juga terjadi akibat ketidaktahuan ibu mengenai metode pembuatan MPASI yang tepat dan bahan makanan yang tidak syarat gizi. Sehingga praktik pemberian makanan pada bayi dapat mengakibatkan masalah gizi kurang, stunting serta gizi lebih atau obesitas.

“Membuat MPASi yang baik adalah dengan bahan pangan lokal dan menu rumahan,” papar Yuna.

Kegiatan pemberian edukasi dan informasi ini bekerjasama degan Puskesmas Depok Jaya, Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Depok serta BPM Puspita sekaligus bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional.

Ketua Prodi Kebidanan Sarjana Terapan URINDO, Endang Siti berharap dari kegiatan ini agar informasi mengenai  praktik pemberian MPASI pada bayi dan anak dapat lebih menjangkau berbagai lapisan masyarakat.

“Dari giat ini sebagai wujud peduli kami dalam memberikan informasi yang bermanfaat kepada para ibu, sehingga masalah status gizi dapat teratasi,” tangkas Endang.

Di lokasi yang sama, Ketua AIMI Depok, Santi Agustina mengungkapkan, turut serta mendukung kegiatan Sosialisasi MPASI yg digagas oleh Universitas Respati Indonesia.

Menurutnya, saat ini masih banyak masyarakat yang menginginkan hal yang instan termasuk makanan pendamping ASI (MPASI) instan dan konon lebih praktis.

“Padahal kita ingin masyakarat lebih sadar bahwa MPASI yg disiapkan sendiri dirumah dengan menggunakan bahan-bahan makanan disekitar terpenuhi nilai gizinya jauh lebih baik, lebih sehat, lebih berkualitas dibanding produk yg telah melewati rentetan proses produksi dan distribusi yg panjang,” pungkasnya. (san)