PENUH KEHANGATAN: Wawan sedang bercengkrama bersama anak – anak jalanan dan anak Punk di kawasan Master. Foto: INDRA SIREGAR / RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM – Di Kota Depok ada sosok pria yang mampu mengubah pandangan buruk masyarakat terhadap kaum marjinal seperti pengamen jalanan, preman terminal dan anak–anak Punk menjadi lebih positif. Dia adalah Wirawan Yogyasono, Ketua komunitas Seniman Terminal (Senter) Kota Depok, yang mampu menjadikan anak Punk lebih religius.

Laporan: Indra Abertnego Siregar

Cuaca terik tampak menerangi kawasan Masjid Terminal (Master) di Kota Depok. Orang–orang lalu lalang di halaman Masjid Al-Mutaqien yang menjadi ikon Master.

Tak lama, dari dalam masjid, muncul sosok pria mengenakan baju koko keluar dan duduk di sebuah aula.

Dia adalah Wirawan Yogyasono, ketua komunitas Senter. Pria yang baru saja selesai melaksanakan solat tersebut mengisahkan awal dari terbentuknya komunitas Senter yang saat ini sedang ramai diperbincangkan warga Depok.

“Senter ini dibetuk tahun 2010 oleh para pengamen yang ada di Terminal Depok. Saya dulu salah satu anggotanya karena saya juga pengamen awalnya,” kata pria berambut pendek itu.

Awal berdiri, komunitas itu tidak memiliki kegiatan yang jelas dan sifatnya hanya wadah berkumpulnya para pengamen terminal saja.

“Dulu itu anggotanya belum ada anak punk atau preman, murni hanya pengamen saja,” tuturnya.

Karena minimnya kegiatan, dan penggusuran terminal Depok pada tahun 2016, komunitas tersebut sempat bubar dan tidak muncul sama sekali ke permukaan.

“Karena ada penggusuran, para pengamen pada bubar dan gak tau rimbahnya pada ke mana, saya aja yang masih bertahan di sini,” katanya.

Pria yang akrab di sapa Wawan ini mengaku, meski hanya bekerja sebagai pengamen jalanan, dia mampu untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi sehingga kelak dia bisa membagikan ilmunya kepada anak – anak jalanan di Kota Depok.

“Dari Sekolah Dasar hingga saya kuliah di perguruan tinggi, saya membiayai sekolah sendiri dari hasil mengamen,” bebernya.

Berkat kegigihanya dalam mengamen, mulai dari mengamen di bus hingga di kereta, dia mampu meraih predikat sarjana di bidang konseling.

“Saya lulus Pendidikan Profesi Konselor di Universitas Negeri Padang,” ucapnya.

Selama proses perkuliahan dia juga menyempatkan diri untuk mengajar sebagai guru pramuka di SDIT Al. Qalam di Jalan Pemuda Raya, Kelurahan Depok, Pancoran Mas dan juga tetap melakoni kegiatan mengamenya.

“Saya ngamen dari subuh sampai jam enam, jam tujuh pagi saya ngajar sampai ja tiga sore,” tukasnya. (bersambung)