RADARDEPOK.COM, DEPOK Aplikasi perpesanan Whatsapp (WA) dan media sosial Instagram mengalami down selama satu hari, kemarin (22/5). Hal itu disebabkan karena adanya batasan pengunaan oleh pemerintah, terkait aksi demo di depan Kantor Bawaslu dan KPU RI.

Buntut dari erornya WA, Instagram (IG), dan Facebook, sejumlah masyarakat Depok mengeluh tidak dapat berkomunikasi seperti sedia kala, terutama pedagang online (daring).

Seperti yang dialami pemilik online shop Sarbaby and Kids, Hayatun Nufus. Dia mengaku sangat kecewa dengan pemerintah yang membatasi penggunaan sejumlah medsos, terutama WA. Pasalnya WA adalah salah satu media komunikasi yang dia gunakan untuk bercengkrama dengan pelanggan.

“Semuanya ribet kalau Whatsapp eror, pelanggan yang mau nanya-nanya soal baju yang saya jual jadinya susah. Mereka harus lewat SMS, sedangkan di SMS tidak bisa kirim gambar. Jadi menghalangi saya buat mencari rezeki kalau begini terus,” kata Nufus kepada Radar Depok.

Selain menghambat komunikasi, erornya sejumlah media komunikasi dan medsos juga membuatnya uring-uringan. Pasalnya Instragram merupakan media sosial yang sering diaksesnya setiap hari setelah WA. Dari media sosial lainnya, hanya twitter yang masih bisa diakses hingga saat ini.

“Semoga cepat pulih kembali deh media sosial dan WA-nya, soalnya saya bekerja dan mencari uang dari sini. Kalau terus-terusan eror, rugi dong saya,” tegas Nufus.

Senada dengan itu, pemilik konter pulsa Hamer di Pitara Pancoranmas, Intan Syafaatan juga mengeluhkan hal yang sama. Walaupun akses provider untuk transaksi penjualan pulsa baik-baik saja, namun komunikasi dia dengan pelanggan kembali seperti dulu melalui SMS.

“Kayak orang dulu lagi jadinya komunikasi lewat SMS dan telepon, biasanya gampang lewat WA dalam hitungan detik langsung masuk. Sekarang jadi apa-apa susah,” ungkap Intan.

Dia berharap pemerintah segera memulihkan akses media sosial dan aplikasi perpesanan. Karena di era saat ini, Whatsapp dan Intagram merupakan media komunikasi utama (mainstream) dan mayoritas digunakan oleh masyarakat dunia termasuk Indonesia.

“Semoga tidak merembet ke media sosial lainnya, cukup WA dan IG saja yang eror. Semoga provider tidak ikut-ikutan dibatasi oleh pemerintah,” pungkas Intan.

Menkominfo Rudiantara memamparkan, pembatasan bersifat sementara dan bertahap. “Pembatasan dilakukan untuk platform medsos dan beberapa fiturnya seperti berbagi foto dan video serta instan messaging seperti WhatsApp (WA),” katanya demikian.

Kenapa dibatasi? Rudiantara lebih jauh menjelaskan, masyarakat (dengan kepentingan tertentu) sering kali mengirim postingan yang meresahkan atau hoaks via unggahan di medsos seperti Facebook, Instagram, dan instant messaging WA. Parahnya lagi, kebanyakan foto dan video yang viral berisi konten negatif yang lebih banyak mudaratnya ketimbang manfaatnya.

“Teman-teman akan mengalami kelambatan untuk mengirim, mengunduh foto, dan video serta akses lainnya. Yang bahaya itu bukan yang diunggah di Facebook atau Instagram, tetapi yang dikirim langsung lewat WA misalnya. Secara psikologis, foto dan video yang dibagikan langsung menyentuh emosi. Bagi yang menelan mentah-mentah informasinya, itu bahaya,” jelasnya.

Sebagai gantinya, masyarakat untuk sementara ini diminta untuk menggunakan layanan pesan singkat (SMS) atau panggilan suara saja. Pasalnya, layanan SMS dan voice call tidak masalah. “Untuk sementara jangan percaya informasi yang beredar di medsos dulu. Cari informasi yang kredibel di media mainstream,” sambung Rudiantara.

Masih terkait pembatasan akses medsos dan instant messaging, Rudiantara mengaku langkah yang diambilnya ini sudah mengacu pada Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). “UU ITE intinya ada dua, satu meningkatkan literasi masyarakat akan digital, yang kedua manajemen konten termasuk melakukan pembatasan. Intinya itu,” tegasnya. (san)

Tentang Kebijakan Pemerintah Membatasi Akses Media Sosial :

– Pembatasan bersifat sementara dan bertahap

– Pembatasan dilakukan untuk platform medsos dan beberapa fiturnya seperti berbagi foto dan video serta instan messaging seperti WhatsApp (WA)

– Tujuannya menghindari kesalahpahaman masyarakat dan hoaks

– Masyarakat untuk sementara ini diminta untuk menggunakan layanan pesan singkat (SMS) atau panggilan suara saja.

– Sudah mengacu pada Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

– UU ITE intinya ada dua, satu meningkatkan literasi masyarakat akan digital, yang kedua manajemen konten termasuk melakukan pembatasan