Beranda Metropolis Bisnis Pertamini Ilegal

Bisnis Pertamini Ilegal

0
Bisnis Pertamini Ilegal
MENGISI BBM: Salah satu warga saat nebisi Bahan Bakar Minyak (BBM) di Pertamini yang berada di kawasan Kecamatan Pancoranmas, Rabu (3/7). Foto : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
MENGISI BBM: Salah satu warga saat nebisi Bahan Bakar Minyak (BBM) di Pertamini yang berada di kawasan Kecamatan Pancoranmas, Rabu (3/7). Foto : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Keberadaan penjual Bahan Bakar Minyak (BBM) eceran, kian menjamur di Indonesia, termasuk di Kota Depok. Dari menggunakan botol, hingga terbaru pakai mesin layaknya SPBU, atau lebih dikenal dengan sebutan Pertamini. Rupanya bisnis ini dinilai melanggar aturan karena tidak memiliki izin dari Pemkot Depok maupun pemerintah pusat.

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Depok, Kania Parwanti menegaskan, keberadaan Pertamini masuk dalam kategori ilegal. Sebab pemerintah pusat dan Pemkot Depok tidak melayangkan surat izin pendirian usaha tersebut.

“Ya, Pertamini melanggar aturan karena tidak ada izinnya, baik dari Kementerian Perdagangan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, dan Pertamina,” kata Kania kepada Radar Depok, kemarin (3/7).

Dalam rangka tindak lanjut keberadaan Pertamini di Kota Depok, pihaknya akan melakukan pendataan jumlah pemilik usaha bidang minyak tersebut. Kemudian data itu diserahkan ke pemerintah pusat, sekaligus meminta arahan lanjutan untuk penertiban.

Agar mempermudah pendataan, Disdagin Kota Depok bekerjasama dengan kelurahan dan kecamatan.

“Imbauan ini juga datang dari pemerintah pusat, kami harus mengambil langkah secepatnya guna pendataan,” papar Kania.

Pantauan Radar Depok menyusuri jalan-jalan di Depok, hampir di setiap wilayah terdapat Pertamini. Ada menggunakan mesin modern layaknya di SPBU, ada juga yang menggunakan sistem manual dengan satu tabung minyak BBM.

Meski begitu, keberadaan Pertamini memiliki kelebihan dan kekurangan. Warga Kelurahan Tirtajaya, Sukmajaya, Suci Febriastuti mengaku, sangat terbantu dengan adanya Pertamini yang ada tak jauh dari rumahnya. Sedangkan SPBU lokasinya cukup jauh.

“Deketan ke Pertamini dibanding SPBU, jauh harus muter ke jalan raya dulu, kalau kesini nggak. Tapi harganya memang lebih mahal dibanding di SPBU,” ujar Suci.

Salah satu pemilik Pertamini di wilayah Pancoranmas, Partono mengungkapkan, untuk mendapatkan sebuah mesin Pertamini teknologi mesin dirinya harus mengeluarkan uang Rp27 juta dan Rp8 juta untuk Pertamini manual. Pembelian mesin itu bukan kepada Pertamina melainkan perorangan.

“Saya sudah dari 2018 jualan bensin ini pakai Pertamini, beli BBM-nya juga di SPBU,” ucapnya.

Dari hasil penjualan BBM tersebut, perharinya Partono dapat menjual 300-700 liter BBM dari tiga jenis yakni Pertamax, Pertalite, dan Premium. Dia juga tidak mengambil untung besar dari harga jual di SPBU, masing-masing BBM dijual dengan harga selisih Rp1 ribu lebih mahal.

“Kalau lagi ngga ramai ya 300 liter, tapi pas ramai bisa sampai 700 liter. Kami hanya ambil untung seribu perliternya,” pungkas Partono. (san)