RAMAI: Suasana kemacetan di Perapatan Mampang, Kecamatan Pancoranmas akibat adanya jalan yang amblas. Foto : IST
RAMAI: Suasana kemacetan di Perapatan Mampang, Kecamatan Pancoranmas akibat adanya jalan yang amblas. Foto : IST

RADARDEPOK.COM, PANCORANMAS – Macet adalah nama tengah Kota Depok. Tapi beberapa hari ke belakang, terutama di Jalan Sawangan, macet semakin akut setelah Jembatan Mampang ambrol Kamis (27/6/2019) malam. Jembatan yang rusak, tak tanggung-tanggung, menghubungkan empat jalur, yakni arah Tanah Baru ke Sawangan dan juga Mampang menuju Citayam.

Lokasinya persis di sebelah Masjid Jami’ Al-Istiqomah. Muhammad Aldie (22) adalah salah satu korban jahatnya jalanan penyangga ibukota ini. Aldi mengendarai motor matik dari rumahnya di Sawangan menuju ke Margo City, tempatnya bekerja. 20 menit dia lewati tanpa bergerak sedikit pun.

Dia pun misuh: “Ini merugikan buat saya, yang biasanya hanya sekitar 45 sampai satu jam (ke tempat kerja). Bisa satu jam setengah,” ucapnya.

Kemarin sekitar pukul 10.00, terpantau para pekerja mulai memperbaiki jembatan yang amblas. Dua juru parkir yang mengenakan rompi hijau stabilo jadi penguasa tunggal di jalanan berdebu itu.

Mereka menerapkan sistem buka tutup. Pengendara, yang mungkin sudah ‘diteror’ bos karena tak kunjung sampai ke tempat kerja dan mungkin juga sudah mandi keringat, harus menunggu 20-an menit hanya untuk bisa mendapatkan kesempatan lewat. Kemacetan panjang pun terjadi.

Dari arah Tanah Baru terpantau kendaraan ‘parkir’ sepanjang 300 meter dan Sawangan sekitar 100 meter. Sementara dari arah Cinere dan Citayam macet sekitar 100 meter.

Menurut kesaksian warga, jembatan ini memang terlalu sering berlubang. Selama itu pula otoritas terkait hanya menambal-nambalnya saja. Aldie lantas meminta Pemerintah Kota Depok lebih serius. Misalnya, “Jembatan lebih dibuat permanen dan dibuat lebih baik lagi,” terangnya.

Jika Aldie yang kerja di Jalan Margonda saja mengeluh, maka wajar jika yang bekerja lebih jauh dari itu lebih bersungut-sungut. Hadi (38) misalnya, kerja di daerah Fatmawati, Jakarta Selatan. “Waktunya jadi ngaco,” katanya.

Hadi biasa berangkat kerja pukul 09.30 dan sampai satu jam kemudian. Tapi karena perkara jembatan. “Setengah jam ya di sini aja menunggu macet,” terangnya.

Sementara Herman (38), warga Cinere yang bekerja di daerah Citayam, menyoroti soal petugas yang kelewat cuek. Memang tak ada Polantas setidaknya hingga pukul 11. Yang ada hanya dua juru parkir tadi. Petugas Dishub pun baru datang sekitar pukul 10.45. (trt)