TIBA DIRUMAH DUKA: Jenazah Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho tiba dirumah duka di Raffles Hills, Cimanggis, Minggu (7/7). Penyerahan jenazah tersebut dilakukan oleh Menteri Luar Negeri Retno Marsudi kepada Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo. Foto : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
TIBA DIRUMAH DUKA: Jenazah Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho tiba dirumah duka di Raffles Hills, Cimanggis, Minggu (7/7). Penyerahan jenazah tersebut dilakukan oleh Menteri Luar Negeri Retno Marsudi kepada Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo. Foto : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB, Sutopo Purwo Nugroho menghembuskan napas terakhir di Guangzhou Modern Hospital, China, Minggu (7/7). Semasa hidup, Sutopo adalah orang yang berbakti kepada orangtuanya.

Ditemui di rumah duka kompleks Raffles Hills, Blok i6 No15 Kelurahan Harjamukti, Cimanggis, sang ayah Suharsono Harsosaputro mengungkapkan, Sutopo pernah berniat untuk memberangkatkannya haji ke Mekah. Rencana ini disampaikan Sutopo jauh sebelum ia mengidap kanker paru-paru.

“Bapak, kalau Bapak sewaktu -waktu siap, saya berangkatkan naik haji. Ya, doakan semoga,” kata Suharsono mengenang ucapan Sutopo.

Keinginan tersebut memang belum terwujud hingga akhir hayatnya. Meski demikian, Sutopo selalu mengenang bagi kedua orangtuanya. Suharsono mengatakan, Sutopo merupakan anak penurut dan tidak merepotkan orangtua. Ia juga selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi kedua orangtuanya di sela-sela kesibukan kerja. “Setiap hari raya pulang, setiap tugas di luar, mampir. Dia anak penurut tidak mempersulit orang tua, suka membantu keluarga,” kata Suharsono.

Menurut Suharsono, Sutopo semasa hidup lebih dekat kepada sang Ibu. Saat ia sakit, sang Ibunda turut ikut merawatnya di Depok.  “Karena kedekatannya dengan Ibunya. Memang saya suruh Ibu dari Boyolali merawatnya di sini. Sejak kecil sudah dekat,” kata Suharsono.

Ibunya pula yang pernah menyediakan makanan kesukaan kepada Sutopo saat dia berada di Indonesia. “Sutopo selalu cocok dengan masakan ibunya. Ia menyukai sambal tumpang, sambal Lethok,” jelas Suharsono.

Selain itu, Suharsono menyampaikan ucapan terima kasih atas perhatian pemerintah dan masyarakat kepada anaknya selama sakit hingga akhirnya meninggal dunia, Minggu (7/7) dinihari.

“Beribu-ribu terima kasih atas perhatian dari pemerintah, terutama pak Jokowi dan siapa pun, pak Kepala BNPB, para menteri, yang memperhatikan anak saya sejak sakit di Indonesia sampai dibawa ke China,” ujar Suharsono kepada Radar Depok.

Setelah berjuang keras melawan penyakit kanker paru-paru stadium IVB yang dideritanya sejak Desember 2017 lalu, Humas BNPB yang dikenal ramah itu akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya sekitar pukul 01.20 WIB atau 02.20 waktu Guangzhou, di St. Stamford Modern Cancer Hospital, Guangzhou, China.

Suharsono berharap perhatian yang diberikan pemerintah dan masyarakat kepada anaknya mendapat balasan dari Yang Maha Kuasa. “Kami hanya bisa mengucapkan beribu-ribu terima kasih, semoga menjadi amal yang baik, Tuhan membalasnya yang setimpal,” bilang Suharsono.

Selain itu, Suharsono menceritakan, sebelum meninggal, dia sempat berkomunikasi dengan Sutopo lewat sambungan telepon dari kediamanya di Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (5/7). Saat itu, dia masih sempat memberikan motivasi kepada Sutopo dan yakin anaknya itu bakal sembuh. “Kami ada hubungan terakhir itu dua hari sebelum anak saya meninggal. Saya langsung telpon dari rumah di Boyolali ke China. Memberikan semangat agar anak saya jangan sampai putus asa. Optimislah bahwa kamu akan sembuh, percayalah. Saya demikian. Anak saya bersedia juga,” ungkapnya.

Menurut Sumarsono, Sutopo masih merespons ucapannya dengan baik dan meminta agar didoakan. “Dia bilang, iya Pak, iya Pak. Doakan ya Pak, doakan terus ya Pak, gitu,” katanya, menirukan ucapan Sutopo dua hari lalu.

Namun, sehari kemudian atau Sabtu (6/7), Suharsono mendapat kabar bahwa kondisi Sutopo drop. Suharsono bahkan sampai menangis melihat gambar kondisi Sutopo yang dikirim dari Guangzhou. “Saya diberi fotonya, ada alat pembantu oksigen. Itu loyo gitu. Saya lihat, aduh gimana gitu. Saya sampai menangis pada waktu dikirimi foto anak saya,” ungkapnya.

Sementara Ivanka, putra kedua almarhum menuturkan sempat melakukan komunikasi melalui Video Call di handphone. “Bapak sudah bisa jalan dan berbicara, kemarin pagi kita sempat video callan. Selama berobat ke China memang mengalami kemajuan, ini sangat menyedihkan bagi kami (keluarga),” Ucap Ivanka di rumahnya.

Namun, kondisi Sutopi kembali menurun karena flu. Keluarga, semakin berduka ketika pukul 01.20 WIB, diperoleh informasi bahwa almarhum telah meninggal. “Kemarin sempat agak drop karena flu terus, dikabarkan oleh mama, dokter juga ngasi obat yang ada adrenalinnya. Itu membuat bapak enggak bisa tidur. Terus saya dikabarkan tadi malam jam 1 lebih, bapak suda enggak ada,” bebernya.

Jenazah Tiba Pukul 22.35

Peti Jenazah Mendiang Sutopo Purwo Nugroho tiba di rumah duka, pada Minggu (7/7) pukul 22.35 WIB. Peti diusung mengikuti langkah Retno Utami Yulianingsih, istri Sutopo, yang berjalan di depan. Tampak hadir Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Doni Monardo telah siap menyambut.

Selain Retno dan Doni, dalam penyambutan itu tampak pula Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang datang tak lama menjelang kedatangan jenazah Sutopo. Setelah tiba peti langsung diangkat pengusung jenazah dan diletakkan di atas meja yang disiapkan di beranda rumah.

“Atas nama pemerintah dan pribadi, kami mengucapkan dukacita yang sangat dalam atas berpulangnya pak Sutopo. Doa kami mengiringi kepergian almarhum,” ujar Menlu Retno dalam sambutannya. “Kami mendoakan semoga keluarga besar Bapak Sutopo diberi kekuatan dalam menerima kedukaan ini,” lanjutnya.

Tak lama kemudian, Retno menyerahkan secara resmi jenazah Sutopo kepada keluarga melalui Kepala BNPB, Doni Monardo. “Mewakili pemerintah, saya serahkan jenazah Bapak Sutopo kepada Kepala BNPB Bapak Doni,” kata Retno.

Sedangkan Letjen Doni, dalam sambutannya, kembali memuji sosok anak buahnya itu, yang tetap semangat melayani masyarakat meski dalam kondisi sakit.”Kepergian almarhum Sutopo tentunya merupakan kehilangan bagi kita semua. Pak Topo adalah sosok pekerja keras yang luar biasa, yang dalam kondisi sakit, menderita, masih senantiasa menunaikan tugasnya sebagai aparatur sipil negara, yang bertugas dengan sepenuh hati,” ucap Doni.

Setelah prosesi serah-terima jenazah usai, acara berlanjut dengan prosesi pemandian jenazah. Dan jenazah rencananya akan dimakamkan di Boyolali, Jawa Tengah. (dra)