Beranda Utama Kekeringan Depok Meluas

Kekeringan Depok Meluas

0
Kekeringan Depok Meluas
SUMUR GALI : Atikah saat menunjukan sumur gali yang sudah kering dan tak bisa lagi digunakan warga untuk memperoleh air, di Kampung Benda RT 04/06, Kelurahahan/Cipayung, Depok, Rabu (3/7). Foto : ARNET/RADARDEPOK
SUMUR GALI : Atikah saat menunjukan sumur gali yang sudah kering dan tak bisa lagi digunakan warga untuk memperoleh air, di Kampung Benda RT 04/06, Kelurahahan/Cipayung, Depok, Rabu (3/7). Foto : ARNET/RADARDEPOK

RADARDEPOK.COM, DEPOK-Benar saja selain Kelurahan Grogol, Kelurahan Bojong Pondok Terong dan Kelurahahan Pasir Putih mengalami kekeringan. Terbaru kemarin, hampir 86 Kepala Keluarga (KK) di RT4/6 Kelurahan/Kecamatan Cipayung susah payang mencari air bersih. Mulai dari ngebor sumur dengan kedalaman 35-50 meter hingga menjadikan air isi ulang untuk memenuhi pasokan air bersih mereka.

Hanya saja, melalukan pengeboran hingga dalam tetap tidak menjamin kualitas air, di kawasan pandat penduduk itu layak dikonsumsi. Pengurus RT4/6 Cipayung, Atikah membeberkan, air tanah tersebut hanya untuk mandi dan mencuci baju, maupun bebersih rumah.

“Sumur sudah pada kering, tanahnya sudah terlihat. Ini sudah berlangsung abis lebaran. Meski hujan sekali sekali datang, tetap kami kekurangan air bersih,” beber Atikah kepada Harian Radar Depok, Rabu (3/7).

Kekeringan di wilayah kampung ini memang menjadi permasalahan pelik. Ketika masuk musim kemarau, warga akan bersiaga menyiapkan segala sesuatunya. Ini agar musim kemarau tiba, stok air bersih bisa digunakan.

Atikah yang saat itu mengenakan hijab bunga berwarna merah melanjutkan, biasanya warga pada ngebor tapi banyak yang sia-sia. Karena tidak ada airnya sama sekali alias kering kerontang. Ada yang ngebor 3 sampe 4 kali tapi tetap percuma. Di RT4 sekira ada 86 KK yang mengalami kekeringan.

“Ini jelas permasalahan yang bertahun-tahun. Makanya tahun lalu pemerintah bangun penampungan air, tapi nggak ada airnya, pipa paralonnya mah sudah nyambung ke rumah, percuma juga. Itu juga baru di RT4 saja nggak menyuluruh di RW6,” jelas Atikah dikediamannya Kampung Benda No24 RT4/6.

Tak jauh berbeda dengan Atikah, salah satu warga Siti Anisa yang tinggalnya juga berada di RT4, membocorkan buntut dari pengeboran yang dilakukan warga setempat. Pernah terlalu dalam hingga mengeluarkan gas.

“Mungkin terlalu dalam, jadi tembus sampai mengeluarkan gas. Pernah dua kali terjadi, tapi hilang sendiri. Kata warga juga nggak terlalu berbahaya,” katanya di warung miliknya yang berada di RT3/6.

Tapi, kata Siti, ada satu mesin pompa milik warga RT4 yang dibuat sama ketua RT terdahulu. Disana warga masih dapat memperoleh air meski tidak layak konsumsi, tetap untuk kebutuhan kebersihan rumah tangga.

“Nggak buat diminum karena banyak rontokan pasir halus. Tapi nggak bau,” tambahnya.

Kampung Benda memang dibangun bak penampungan air yang rampung akhir tahun 2018 lalu. Namun hingga kini warga menilai keberadaan bak tersebut mubazir. Pasalnya tidak menjadi solusi untuk warga mendapatkan air bersih yang layak. Sudah empat bulan dari pemasangan paralon ke rumah-rumah tapi air belum keluar untuk dinikmati warga.

Menanggapi mulai maraknya kekeringan di beberapa wilayah Kota Depok. Direktur Umum PDAM Tirta Asasta EE Sulaeman mengatakan, pihaknya siap menyuplai air bersih ke wilayah kekeringan. Namun, harus berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Depok dan atau Pemerintah Kota Depok.

“Jadi harus ada koordinasi dulu dari wilayah terdampak kekeringan ke Pemkot Depok lalu meneruskan ke PDAM,” kata Sulaeman kepada Radar Depok, Rabu (3/7).

Dia menyebutkan PDAM Tirta Asasta memiliki 3 unit tanki air untuk menyalurkan air bersih. Apabila wilayah terdampak kekeringan meluas, terpaksa meminta bantuan tambahan armada mobil tanki air ke Kementerian PUPR.

“Kami siap membantu kapanpun dibutuhkan, pada prinsipnya memang seperti itu harus ada koordinasi dahulu dari BPDB atau Pemkot Depok,”

Terpisah, Gubernur Jabar Ridwan Kamil (RK) meminta, pemerintah daerah aktif mengantisipasi kekeringan dampak musim kemarau. “Saya sudah koordinasi dengan bupati dan walikota untuk mengantisipasi kekeringan. Pemerintah harus memastikan suplai air bersih tak terhalangi,” kata Ridwan Kamil di Gedung Pakuan, Kota Bandung, Rabu (3/7).

RK menginstruksikan, Pemda menyiapkan solusi kalau terjadi kesulitan air bersih di masyarakat. Salah satunya dengan menurunkan mobil tanki di setiap PDAM untuk memasok air bersih bagi masyarakat.

“Sediakan truk-truk PDAM untuk memberi air ke masyarakat. Itu harus dilakukan,” ungkap dia.

Tidak hanya soal air bersih, dia juga mengingatkan kebutuhan pengairan lahan pertanian. dia menyarankan para petani lebih menghemat penggunaan irigasi agar tak mengalami kekeringan.

“Untuk irigasi, kita akan menyesuaikan pengaturan debit air. Yang dulu gede, kita atur lebih efisien, sehingga persawahan-persawahan bisa mendapatkan air, walau tak semaksimal sebelumnya,” tutur dia.

Sebagai langkah antisipasi, Pemprov Jabar juga akan mengusulkan kepada pemerintah pusat untuk melakukan rekayasa iklim. Sehingga, kebutuhan untuk air bersih dan irigasi tetap terpenuhi di musim kemarau.(arn)