LOKASI PERUSAHAAN: Jalan M Yusuf Kav 38A, Kelurahan Mekarjaya, Kecamatan Sukmajaya, Depok, yang menjadi alamat perusahaan PT. Inti Benua Indonesia milik Pablo Putera Benua yang saat ini sedang menjadi tranding topic karena tindak penipuan yang dilakukannya. Foto : ARNET/RADARDEPOK 
LOKASI PERUSAHAAN: Jalan M Yusuf Kav 38A, Kelurahan Mekarjaya, Kecamatan Sukmajaya, Depok, yang menjadi alamat perusahaan PT. Inti Benua Indonesia milik Pablo Putera Benua yang saat ini sedang menjadi tranding topic karena tindak penipuan yang dilakukannya. Foto : ARNET/RADARDEPOK

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Perusahaan milik atas nama Pablo Putera Benua dengan nama PT Inti Benua Indonesia diragukan keabsahannya. Ketika Radar Depok menelusuri ke alamat perusahaan di Jalan M Yusuf Kav 38 A, Kelurahan Mekarjaya, Kecamatan Sukmajaya, hanya ditemukan sebuah rumah.

Tetapi, pemilik rumah tidak berada di rumah. Karena ucapan salam awak media tidak ada jawaban dari sang pemilik rumah berpagar hitam tersebut.

Salah satu warga yang rumahnya satu kavling dengan rumah tersebut, Toni mengaku, tidak pernah mengetahui keberadaan perusahaan yang dimaksud. Padahal ia sudah bermukim di tempat itu sejak empat tahun lalu.

“Saya nggak tahu namanya, nggak tahu pernah ada perusahaan semenjak tinggal di sini. Yang tinggal keluarga semua setahu saya,” kata Toni kepada Radar Depok, saat ditanya keberdaan alamat yang terdapat dalam Surat Daftar Perusahaan milik Pablo.

Pantauan di lapangan tidak ada aktifitas kerja dalam skala besar yang bergerak di perdagangan umum dan jasa seperti yang tertulis dalam surat tersebut, bahkan alamat ini terdengar asing ditelinga warga saat penulusuran.

Perlu diketahui, Pablo Putera Benua saat ini sedang tersandung kasus ‘Ikan Asin’ bersama Rey Utami, dan Galih Ginanjar. Kasus ‘Ikan Asin’ bukan perkara pertama yang menimpa Pablo Benua. Dia juga pernah tersandung kasus investasi bodong.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Satgas Waspada Investasi pada 11 Januari 2017 pernah mengeluarkan daftar enam perusahaan investasi yang tak berizin. Salah satunya adalah PT Inti Benua Indonesia. Saat itu Pablo Benua sendiri berstatus sebagai pimpinan perusahaan. Perusahaan tercatat beralamat di Jalan M. Yusuf Raya I. Kav. 38A. Sukmajaya, Depok, Jawa Barat.

Mengutip siaran pers OJK dan Satgas Waspada Investasi 11 Januari 2017, Pablo Benua pernah dipanggil beberapa kali namun dia selalu mangkir. Pemanggilan pertama dilakukan pada 5 Oktober 2016. Saat itu Satgas Waspada Investasi mengundang PT Inti Benua Indonesia untuk menjelaskan mengenai produk dan proses bisnis PT Inti Benua Indonesia. Namun, Pablo selaku direksi PT Inti Benua Indonesia tidak hadir.

Lalu pada tanggal 31 Oktober 2016, Satgas Waspada Investasi kembali mengundang direksi PT Inti Benua Indonesia, namun kembali tidak hadir. Kegiatan yang dilakukan PT Inti Benua Indonesia adalah kegiatan yang menyerupai dengan lembaga pembiayaan. Untuk melakukan hal itu tentu diperlukan izin.

Modus operandi dari perusahaan bodong Pablo adalah menawarkan kepemilikan kendaraan kepada konsumen. Konsumen pertama kali harus membayar biaya administrasi. Besaran administrasi untuk mobil sebesar Rp5.000.000 dan untuk motor sebesar Rp750.000. Kemudian mengisi formulir pemesanan unit dan kelengkapan data pribadi.

Selanjutnya konsumen harus membayar deposit sebesar 54 persen dari harga OTR kendaraan yang diinginkan serta menandatangani kontrak HGP IBIS. Setiap tahun harus konsumen harus membayar deposit untuk mobil sebesar 10 persen dan untuk motor sebesar 15 persen. Maksimal jangka waktu yang diberikan satu kali melakukan kontrak tiga tahun. Di akhir kontrak selama tiga tahun, mobil dikembalikan dan dana deposit dikembalikan tapi dipotong 10 persen. Sedangkan untuk motor, dana deposit dikembalikan tetapi dipotong 15 persen atau menjadi hak milik dengan menambah biaya 15 persen.

Ketua Tim Satgas Waspada Investasi Tongam L Tobing menjelaskan, penetapan Inti Benua Indonesia berawal dari aduan masyarakat. Masyarakat yang mengadu itu mengaku telah menjadi korban.

“Dulu ada korbannya. Saya tidak ingat. Itu ada aduan masyarakat dulu,” ujarnya, Jumat (12/7).

Sayangnya Tongam mengaku lupa pelanggan Inti Benua Indonesia. Namun dia pastikan cukup banyak yang telah menjadi korban. (arn/dtc/**)