MENGISI BBM : Sejumlah warga saat mengisi Bahan Bakar Minyak (BBM) di salah satu SPBU di kawasan Jalan Tole Iskandar, Kecamatan Sukmajaya, Kamis (4/7). Foto : AHMAD FACJHRY/RADAR DEPOK
MENGISI BBM : Sejumlah warga saat mengisi Bahan Bakar Minyak (BBM) di salah satu SPBU di kawasan Jalan Tole Iskandar, Kecamatan Sukmajaya, Kamis (4/7). Foto : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Pada 2020 mendatang, terdapat dua rencana pemerintah yang menjadi sorotan. Mulai dari penaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), dan Tarif Dasar Listrik (TDL).

Dirjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Rida Mulyana menyebutkan, penyesuaian tarif listrik akan diberlakukan pada 2020 untuk 12 golongan pelanggan listrik non-subsidi. Di antaranya Rumah Tangga R-1/TR (1.300 VA dan 2.200 VA), R-2/TR 3.500 VA sampai dengan 5.500 VA dan R-3/TR 6.600 VA keatas, bisnis besar, industri besar, pemerintah, dan layanan khusus.

“Di 2020 untuk sementara sampai saat ini, agar mengurangi beban APBN, Menteri ESDM ambil kebijakan untuk terapkan tarif adjustment, artinya tidak ditahan lagi. Akan diterapkan tiap tiga bulan, sehingga beban APBN akan berkurang. Tarif adjusment mudah-mudahan lancar dan kompensasi jadi nol,” kata Rida.

Rida menegaskan, penyesuaian tarif ini bukan berarti tarif listrik akan naik, tetapi bisa juga turun. Sebab menyesuaikan pergerakan kurs dunia dan harga minyak. Terkait penyesuai harga kepada Rumah Tangga Mampu (RTM) 900 vA, dirinya mengaku masih dalam tahap diskusi. Karena terdapat 24,4 juta pelanggan golongan tersebut yang menjadi pertimbangan.

Menanggapi kebijakan tersebut, Manajer PLN UP3 Depok, Putu Eka Astawa menyebut akan mengikuti regulasi dan arahan dari pemerintah pusat. Sebab pihaknya dalam hal ini hanya operator penyelenggara. “Kami tetap mengikuti regulator yang dibuat pemerintah, PLN hanya operator pelaksana,” tutur Putu kepada Radar Depok, kemarin (4/7).

Sementara itu, Ekonom Indef Abra Talattov menyatakan, harga minyak mentah dunia tahun depan diperkirakan bisa melebihi Indonesian Crude Price (ICP) lantaran kondisi politik antara Amerika Serikat dan Iran belum kondusif. “Pemerintah mematok ICP tahun depan USD 60 per barel. Sementara itu, sekarang harga minyak di atas USD 60 per barel. Brent saja dari awal tahun sampai sekarang sudah naik lima persen,’’ terangnya.

Pihaknya memperkirakan harga minyak mentah tahun depan dapat menyentuh USD 70 per barel. Dalam kondisi tersebut, jika pemerintah mengurangi subsidi energi, dapat berdampak terhadap kenaikan harga BBM dan TDL. ’’Itu sudah pasti,’’ ucap Abra.

Selain itu, kenaikan harga BBM dan TDL dipengaruhi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Dalam RAPBN 2020, pemerintah mematok nilai tukar rupiah di angka Rp14.000 sampai Rp14.200 per dolar AS.

Terpisah, Kepala SPBU 34-16416, Ahmad Zaki Thohir mengaku belum ada imbauan dan pemberitahuan dari Pertamina. Apabila memang terjadi kenaikan harga BBM, pihaknya akan menaikkan harga per 00:00 WIB. “Biasanya kami hanya akan ganti papan Totem SPBU dan mesin bensinnya,” paparnya.

Karena letak SPBU 34-16416 di Jalan Tole Iskandar, Sukmajaya sangat strategis. Dalam sehari dapat menjual 16.000 liter untuk bahan bakar jenis Pertalite, sedangkan 11.000 liter untuk Pertamax. “Kalau Solar 8.000 liter, dan Pertamina Dex sekitar 2.000 liter perharinya,” pungkas Thohir. (san)