BAHAS HOAKS: VOKASI Komunikasi UI menggelar seminar bersama kampung digital, para akademisi, Rektor IKJ, IKW UI, Sutradara, dan para aktor aktris tanah air, di Auditorium VOKASI UI, kemarin. Foto : VOKASI UI FOR RADAR DEPOK
BAHAS HOAKS: VOKASI Komunikasi UI menggelar seminar bersama kampung digital, para akademisi, Rektor IKJ, IKW UI, Sutradara, dan para aktor aktris tanah air, di Auditorium VOKASI UI, kemarin. Foto : VOKASI UI FOR RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM, DEPOK-Maraknya informasi yang kental dengan kebohongan alias hoaks, begitu banyak dan mudah ditemui di media sosial. Guna meminimalisir penyebaran hoaks, Vokasi Universitas Indonesia (UI) melalui kegiatan Kampung Digital menyerukan prasangka baik dalam diri masing-masing.

Ketua HM Vokasi UI, Danurifqi mengatakan, kampung digital didirikan untuk membantu masyarakat memiliki banyak keterampilan, memahaminya hingga mampu menghasilkan hal positif. Namun, terjadi kendala dengan adanya informasi yang tidak benar diterima masyarakat, melalui alat informasi seperti hoaks yang merugikan banyak pihak.

“Berita-berita positif yang menimbulkan prasangka baik tentu saja perlu dipelihara, sebaliknya berita negatif yang menghasilkan prasangka buruk harus buru-buru dihapus supaya hoaks tidak masuk dalam diri kita semua,” kata Danu kepada Harian Radar Depok, kemarin.

Ketua IWK VOKASI UI, Riana Herlina Hadiwardoyo menuturkan, kegiatan ini sebagai bentuk dukungan pihaknya kepada kaum perempuan, supaya semakin mawas diri terhadap pesan-pesan yang beredar di media sosial.

“Kami berharap giat ini dapat menggugah kaum ibu agar mampu menahan diri dan menyeleksi setiap berita sebelum membagikannya kepada orang lain,” tuturnya.

Sedangkan Founder Klinik Digital, Devie Rahmawati menambahkan, prasangka merupakan embrio yang lahir dari stigma, dan berujung pada pembunuhan karakter melalui penyebaran berita bohong. Studi modern telah menemukan, bahwa terdapat beberapa faktor yang menyebabkan manusia dengan mudah berprasangka, baik yang positif maupun negatif. Karena prasangka merupakan salah satu faktor biologis yang dihadirkan Tuhan, untuk membantu manusia dalam mempersiapkan diri mengantisipasi tantangan yang akan dihadapi.

“Sedangkan secara psikologis, prasangka membantu manusia mengatasi kecemasan dan keraguan dalam berbagai situasi. Sebagai ilustrasi, ketika berada di lingkungan baru, prasangka terhadap gender, ras, agama dan sebagainya, membantu individu untuk bersikap. Ketika bertemu dengan laki-laki misalnya, seorang individu pasti sudah memiliki prasangka tertentu, yang akan membantu bagaimana individu untuk berkomunikasi,” tambah Devie.

Kehadiran Seno Gumira dan para selebritis adalah terkait dengan karya kreatif yang mereka hasilkan, berupa cerpen dan film yang mengangkat isu prasangka dalam kemasan program ringan namun cerdas. Pesan-pesan bahwa imajinasi liar yang merasuki pikiran yang berbuah menjadi prasangka negatif merupakan hal yang perlu dikelola dengan baik.

Menurut Devie, perlu diberikan resep 3K untuk mengatasi prasangka dalam diri manusia. Di antaranya, Keterbukaan pikiran, Komunikasi Sosial, dan Konfrontasi. Studi ilmiah semenjak era 50-an menemukan bahwa individu dengan karakter yang tertutup dan linier, memiliki peluang untuk terjebak dalam prasangka. Ditambah keengganan melakukan komunikasi, membuat seorang individu tidak pernah memiliki kesempatan untuk melakukan konfirmasi terhadap prasangka ya tersebut.

Komunikasi menjadi cara yang efektif untuk membongkar prasangka. Sedangkan temuan 10 tahun terakhir. Menunjukkan kemampuan melakukan konfrontasi terhadap sebuah prasangka yang melahirkan label-label, menjadi senjata ampuh membuat orang yang menyebarkan hoaks tentang sesuatu menjadi berpikir ulang. “Hingga membuat orang lain, menjadi memiliki tambahan informasi baru tentang seseorang atau sesuatu, yang pada akhirnya mampu merubah prasangka,” tutup Devie yang juga menjabat sebagai Kaprodi VOKASI Komunikasi UI. (san)