Beranda Politika Sempat Mogok, Ingin Dekat dengan Warga

Sempat Mogok, Ingin Dekat dengan Warga

0
Sempat Mogok, Ingin Dekat dengan Warga
AKRAB : Wakil Walikota Depok, Pradi Supriatna (kanan) saat mengendarai motor Vespa, kemarin (3/7). INSERT : Pradi Supriatna kala coba menyalakan Vespanya yang sempat mogok. Foto : JUNIOR/RADAR DEPOK
AKRAB : Wakil Walikota Depok, Pradi Supriatna (kanan) saat mengendarai motor Vespa, kemarin (3/7). INSERT : Pradi Supriatna kala coba menyalakan Vespanya yang sempat mogok. Foto : JUNIOR/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Bukan rahasia umum bila Pradi Supriatna memang menyukai otomotif, terutama kendaraan roda dua klasik asal Italia : Vespa. Beberapa kali dirirnya mengendarai motor saat berkantor di Balaikota Depok. Seperti halnya kemarin (3/7), dirinya mengendarai Vespa berwarna abu-abu. Tentu langsung menjadi pusat perhatian. Maklum saja, banyak juga penggemar Vespa.

Treng..teng.. teng..teng.. Vespa abu-abu memasuki Balaikota Depok, pagi kemarin (3/7). Pengendaranya bertubuh besar, lengkap dengan jaket lengan buntung khas anak bikers.

Kepalanya terlindung helm half face dengan masker menutupi muka, sepintas tidak ada yang mengenali sosok besar yang mengenakan kacamata tersebut. Bagi pegawai di lingkungan pemerintah tentu sudah tak asing dengannya. Lebih-lebih, meski mengendarai Vespa, namun tetap protokol pengawalan oleh Dishub Kota Depok dan Satpol PP tetap berlaku.

Makanya kalau di jalan, pasti mengundang perhatian warga. Siapa sih orang ini, kok bisa-bisanya Vespa dikawal moge ?

Begitu, helm dan masker di lepas, barulah sosok tinggi besar itu dikenali orang. Bukan hanya dikenal, tapi memang familiar di lingkungan ASN bahkan warga Depok. Maklum saja, pengendara itu adalah Wakil Walikota Depok, Pradi Supriatna.

“Lagi ingin bawa Vespa yang ini. Biasanya saya bawa yang Vespa putih. Sudah lima bulan motor yang ini diam saja di rumah. Makanya hari ini saya bawa kerja,” ungkap Pradi.

Menggunakan sepeda motor atau touring bukan hal yang baru bagi Ketua DPC Partai Gerindra Kota Depok ini. Bahkan ketika ada waktu senggang, ia kerap ikut touring atau keliling sekitar rumahnya menggunakan kuda besinya untuk menjumpai kerabat atau menunaikan Salat Jumat.

Ia beralasan, menggunakan sepeda motor lawas tersebut lantaran memiliki sejarah yang melekat di keluarganya, juga ingin merasakan situasi di jalan raya saat jam sibuk tanpa pengawalan dan prioritas. Sehingga, sama dengan yang dirasakan masyarakat ketika berangkat kerja.

“Saya selalu mencoba memahami masyarakat. Mungkin nantinya apa yang saya temukan di lapangan, bisa menjadi kajian bersama bapak Walikota untuk membuat kebijakan yang bermanfaat dan mengena di masyarakat,” ucap dia.

Sebelum petang menyambut, Pradi bersiap pulang. Motornya sudah diparkirkan tepat di depan Gedung Balaikota Depok. Beberapa kali engkolan (kick starter), si motor emoh menyala. Sempat beberapa kali hidup, kemudian mati lagi.

Petugas dishub dan satpol pp sudah berupaya mendorong. Motor tetap mati. Fix mogok. Ini seninya mengendarai Vespa. Mesti sabar menghadapi mogok mendadak. “Aduh padahal tadi pagi, masih enak kok motornya,” bebernya.

Ditengah hati yang mulai putus asa, dari arah Gedung Dibaleka muncul pengendara Vespa lain. Ia menghampiri. “Mogok ya pak?,” tanyanya. Pria berbaju Pangsi ini kemudian coba mengutak-utik motor Pradi.

“Businya nih pak yang bermasalah. Coba saya cek sebentar. Sepertinya saya punya busi cadangan di motor saya,” katanya.

Ia lantas memasangkan busi cadangannya itu ke motor Pradi. Bukan busi baru, namun sepertinya masih berfungsi dengan baik. Dan akhirnya, treng… teng.. teng.. teng. Motor kembali menyala. “Tuh kan pak. Memang businya yang rusak,” tambahnya.

“Terima kasih banyak ya Pak. Bapak kerja disini?,” tanya Pradi. “Iya pak. Di Bappeda,” jawabnya.

Yah begitulah. Sesama pengendara Vespa memang saling membantu. Tanpa banyak tanya, langsung dibantu. Hebatlah anak Vespa. Salute. Salam satu aspal. Satu Vespa, sejuta saudara. (jun)