NAHAS : Suryati tergolek lemas di Rumah Sakit Bina Husada, Cibinong Bogor akibat disengat kalajengking sembari dijaga anaknya, Andri. Foto : IST
NAHAS : Suryati tergolek lemas di Rumah Sakit Bina Husada, Cibinong Bogor akibat disengat kalajengking sembari dijaga anaknya, Andri. Foto : IST

RADARDEPOK.COM, DEPOK-Umur memang tidak ada yang tahu. Begitu juga dengan cara ajal menjemputnya. Kemarin, Sodik masih tak menyangka, istri kesayangannya  Suryati meninggal begitu cepat. Kuat dugaan, perempuan berusia 55 tahun itu meninggal akibat disengat kalajengking setelah beres makan bersama, di RT4/4 Kelurahan Cimpaeun, Tapos, Rabu (3/7) pagi.

Ketua RW4 Kelurahan Cimpaeun, Riman menjelaskan, warganya itu memang meninggal akibat tersengat kalajengking. Peristiwa tersebut diketahui, setelah dia ikut saat prosesi penguburan istri Sodik, Suryati di Mondar Pemakaman Habib RT0/4 Kelurahan Cimpaeun. “Iya meninggal akibat disengat kalajengking, keluarganya ngomong sama saya,” tutur Riman kepada Harian Radar Depok, kemarin.

Sodik, kata Riman, membeberkan kenapa istrinya bisa meninggal. Rabu (3/7) pagi, saat makan bersama dengan keluarga tidak ada yang aneh. Setelah makan, istri Sodik langsung rebahan di lantai rumahnya. Tidak sadar, ternyata ada seekor kalajengking yang mendekat lalu menyengat kakinya. “Saat disengat istri Sodik menahan sakit hingga siang,” tuturnya.

Kemudian, siang harinya korban : Ucu -sapaan Suryati- langsung dilarikan ke Rumah Sakit Bina Husada, Cibinong Bogor. Ketika di rumah sakit Ucu terus mengalami drop hingga malam hari. Di rumah sakit, korban di jaga anaknya, Andri. “Malam harinya sempat koma, korban dijaga anaknya,” beber Riman.

Semakin pagi, lanjut Ketua RW4, kondisi korban semakin turun. Dan akhirnya, saat Kamis (4/7) pagi nyawa Ucu tidak tertolong. Korban langsung dikuburkan setelah terlebih dahulu disemayamkan di rumah duka. “Korban dimakamkan di Mondar Pemakaman Habib,” ujarnya.

Menimpali adanya kejadian yang baru pertama kali terjadi di Kota Depok ini, Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Desi Fitriani menyebut, bisa saja terjadi mematikan manusia  yang terdampak sengatan racun kalajengking. Namun, kebanyakan kasus minim berakhir dengan kematian.

“Seseorang yang tersengat racun kalajengking bisa saja meninggal, tetapi perlu ada pengecekan lebih lanjut di rumah sakit apakah penyebabnya dari racun atau ada hal lainnya,” kata dokter yang tugas di RS HGA ini.

Menurutnya, dengan kasus meninggalnya warga Tapos usai tersengat kalajengking perlu dilakuakn pengecekan. Tapi, dia menduga bukan disebabkan sepenuhnya karena racun kalajengking.

“Akses ke rumah sakit kan sekarang mudah dan cepat, obat anti radang juga pasti sudah diberikan ke pasien. Jadi kembali lagi perlu dilakukan pengecekan lebih dalam,” pungkas Desi.

Perlu diketahui, semua spesies kalajengking memiliki bisa. Pada umumnya, bisa kalajengking termasuk sebagai neurotoksin (racun saraf). Suatu pengecualian adalah Hemiscorpius lepturus yang memiliki bisa sitotoksik (racun sel). Neurotoksin terdiri dari protein kecil dan juga natrium dan kalium, yang berguna untuk mengganggu transmisi saraf sang korban. Kalajengking menggunakan bisanya untuk membunuh atau melumpuhkan mangsa mereka agar mudah dimakan.

Bisa kalajengking lebih berfungsi terhadap hexapoda lainnya dan kebanyakan kalajengking tidak berbahaya bagi manusia : sengatan menghasilkan efek lokal (seperti rasa sakit, pembengkakan). Namun, beberapa spesies kalajengking, terutama dalam keluarga Buthidae dapat berbahaya bagi manusia.

Salah satu yang paling berbahaya adalah Leiurus quinquestriatus, dan anggota dari genera Parabuthus, Tityus, Centruroides, dan terutama Androctonus. Kalajengking yang paling banyak menyebabkan kematian manusia adalah Mus muscullus.(dra/san)