Beranda Metropolis Week End Hindari Mampang

Week End Hindari Mampang

0
Week End Hindari Mampang
TERJEBAK KEMACETAN : Sejumlah kendaraan terjebak kemacetan saat melintas di perempatan Jembatan Mampang, Jalan Raya Sawangan, Kelurahan Mampang, Kecamatan Pancoranmas, imbas perbaikan jalan yang amblas, Jumat (5/7). Foto : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
TERJEBAK KEMACETAN : Sejumlah kendaraan terjebak kemacetan saat melintas di perempatan Jembatan Mampang, Jalan Raya Sawangan, Kelurahan Mampang, Kecamatan Pancoranmas, imbas perbaikan jalan yang amblas, Jumat (5/7). Foto : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Imbas dari amblasnya jembatan Mampang yang menghubungkan Jalan Raya Sawangan dan Jalan Pramuka di Kelurahan Mampang, Pancoranmas menyebabkan kemacetan akut. Bagaimana jika akhir pekan alias week end, tentu akan lebih parah.
Tepat satu pekan sejak amblasnya jembatan Mampang hingga mengakibatkan lubang menganga 2×3 meter menambah kemacetan di jalur sibuk. Volume kendaraan diprediksi bakal meningkat di akhir pekan ini.

Jalan amblas hampir separuh dari badan jalan, maka jalan yang sebelumnya bisa digunakan dua lajur mobil, saat ini hanya difungsikan satu lajur. Kendaraan harus lewat secara bergantian, sehingga kemacetan panjang tak terelakkan, baik dari arah Margonda-Sawangan dan sebaliknya, maupun rute Cipayung-Limo. Pantauan di jembatan Mampang, Jumat (5/7) sore, lubang yang menganga sudah ditutup seng untuk menghindari pengguna jalan terjeblos ke dalam lubang.
Di sisi lain, polisi lalu lintas dibantu petugas Dinas Perhubungan Kota Depok sibuk mengatur buka-tutup lalu lintas agar kendaraan lewat secara bergantian di lokasi jalan amblas.

Penilik Jalan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Karyo Probo selaku pihak yang berwenang menangani renovasi jalan nasional itu mengatakan, perbaikan jembatan Mampang memang butuh waktu karena prosesnya tergolong rumit.
Sejak Rabu (3/7) malam, jelas Karyo, pihaknya sudah memulai tahap pengeboran yang bertujuan mengetahui kedalaman tanah dasar atau tanah keras. “Tanah itu kan ada lapisan-lapisannya. Ada lumpur, setengah lumpur, sampai ketemu tanah kerasnya di kedalaman berapa meter. Tujuannya menentukan kedalaman tiang penyangga yang nantinya akan ditanam,” kata Karyo.

Setelah kedalaman tanah keras diketahui, hasilnya akan disampaikan kepada Tim Perencana Kementerian PUPR. Tim itu selanjutnya akan mengkaji jenis kontruksi yang diperlukan sebagai pondasi atau penyangga jembatan, entah itu bore pile, mini pile, box culvert, dan lain-lain. “Dilihat dari konstruksi yang lama kan hanya pasangan batu, makanya kita dari penilik pusat mau melihat konstruksi bawahnya existing itu seperti apa. Ternyata pada saat kita gali kemarin ternyata kosong, tidak ada mini pile atau apa,” bilang Karyo.

Dia berharap warga pengguna jalan sabar karena proses perbaikan jembatan itu tidak semudah yang dibayangkan. “Ternyata dalem banget ini. Saat ini saja sudah menggali tujuh meter tapi tanah kerasnya belum ketemu. Kan kelihatan ketika dibor, apakah tanahnya masih lumpur atau sudah tanah keras ketahuan,” jelas Karyo.

Sementara itu, salah satu warga kelurahan Mampang, Muhammad Adli mengeluhkan lambatnya pengerjaan perbaikan jembatan. Keluhan tersebut cukup beralasan, karena sebelum ambles pun kemacetan di titik itu terjadi hampir setiap saat akibat badan jalan yang sempit. “Sebagai warga biasa, tentu kita pinginnya cepat diperbaiki, jangan kita selalu disuruh sabar. Mau sampai sampai kapan?” kata Adli. (rub)