Tim Abdimas FKM UI kampanye Sekolah Zero Waste di SDN Sukatani 6, Kelurahan Sukatani, Kecamatan Tapos. FOTO : SANI/RADAR DEPOK
Tim Abdimas FKM UI kampanye Sekolah Zero Waste di SDN Sukatani 6, Kelurahan Sukatani, Kecamatan Tapos. FOTO : SANI/RADAR DEPOK

 

RADARDEPOK.COM, TAPOS – Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM UI) mengkampanyekan Sekolah Zero Waste kepada warga SDN Sukatani 6, Kelurahan Sukatani, Kecamatan Tapos. Dalam kampanyenya, Tim Abdimas melakukan penyuluhan tentang cara pemilahan sampah berdasarkan jenis, pengurangan sampah plastik, pemanfaatan sampah organik dan anorganik, serta dampak lingkungan dari pengelolaan sampah yang tidak tepat.

“Penyuluhan ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan praktik untuk meningkatkan keterampilan warga sekolah dalam mengelola sampah di sekolah. Selain itu, Abdimas juga memberikan materi peningkatan keterampilan berupa pembuatan lubang biopori sampah. Sebagai upaya pemanfaatan sampah organik dan pembuatan vertical garden sebagai upaya pelestarian lingkungan sekolah,” kata ketua Abdimas, Haryoto Kusnoputranto.

Pada kegiatan ini, perwakilan guru dan siswa dilatih menjadi agen of change dan motivator untuk rekan sejawatnya dalam upaya implementasi program pengurangan sampah menuju Sekolah Zero Waste di sekolah secara berkesinambungan. Ada dua metode yang digunakan dalam menyampaikan informasi kepada guru dan siswa.

Untuk gurunya Abdimas menggunakan metode ceramah dan tanya jawab. Sedangkan untuk Siswa menggunakan metode belajar sambil bermain dengan instrumen ular tangga sebagai media penyuluhan.

“Kita harus berupaya untuk mewujudkan sekolah yang bersih, nyaman, dan bebas dari tumpukan sampah. perwakilan guru dan siswa merupakan penggerak, motivator, agen perubahan, yang harus mengimplementasikan ilmu yang didapatkan hari ini. Untuk mengajak warga sekolah lainnya untuk melakukan hal yang sama, agar sekolah kita bersih, bagus, dan bebas dari masalah lingkungan”, sambutan Kepala SDN Sukatani 6.

Murid-murid antusias menerima materi penyuluhan sambil bermain ular tangga. Tak khayal siswa aktif menimpali, bertanya, dan menjawab umpan-umpan informasi yang diberikan Abdimas. “Main ular tangganya seru, trus aku juga menang main ular tangganya jadi dapat hadiah bibit tanaman deh”, ujar salah satu siswa yang turut terlibat dalam kegiatan penyuluhan.

Setelah materi penyuluhan selesai, Abdimas mengajak semua guru dan siswa ke taman sekolah untuk membuat lubang biopori sampah. Lubang biopori merupakan upaya dalam pemanfaatan sampah organik agar sekolah terbebas dari timbulan sampah organik, seperti dedaunan dan sisa-sisa jajanan siswa.

Guru dan Siswa terlihat sangat bersemangat membuat lubang biopori dan mengisi lubang tersebut dengan sampah dedaunan yang ditemukan di sekitar taman. Abdimas juga menyampaikan bahwa sampah organik yang dimasukkan ke dalam lubang biopori sampah dapat dipanen sebagai kompos untuk menyuburkan tanaman setelah satu bulan. (rd)

 

Jurnalis : Nur Aprida Sani

Editor : Pebri Mulya