Oleh : K. H. A. Mahfudz Anwar

Ketua Komisi Dakwah MUI Kota Depok

 

TIDAK sedikit orang memahami bahwa berjuang itu identik dengan perang. Sehingga pikirannya selalu terfokus pada perang. Dan yang namanya perang pasti ada musuh. Sehingga pikiran dan sikapnya selalu memposisikan orang lain yang tidak sejalan dengan nya dianggap musuh. Apapun keberadaannya harus diperangi dengan berbagai taktik dan cara. Pada hal yang namanya perang itu ada waktunya. Kapan dikatakan perang dan kapan dikatakan damai. Dan yang menentukan serta memutuskan kondisi perang atau damai adalah Pemimpin pemegang kekuasaan tertinggi di negeri ini.

Jadi di saat situasi damai -seperti sekarang ini- maka tidak ada perang dan tidak boleh memposisikan diri untuk berperang. Rasulullah saw bersabda, artinya :Jangan kamu sekalian mencari musuh. Tapi kalau ada musuh (yang menyerangmu) maka kamu sekalian hendaknya menghadapi / pantang mundur.” Itu artinya saat damai kita tidak boleh menganggap kelompok lain sebagai musuh. Tapi semua adalah bersahabat dan bersaudara. Sehingga bisa hidup berdampingan tanpa ada gesekan. Maka para Ulama menggariskan konsep persaudaraan : Pertama. persaudaraan sesama muslim (internal). Kedua, persaudaraan sebangsa dan setanah air. Ketiga , persaudaraan sesama manusia.

Jika suasana damai berlangsung terus, maka berjuang harus diartikan lebih luas (cakupannya) dari perang. Misalnya berjuang melawan kebodohan, berjuang melawan kemiskinan, memakmurkan desa dan masih banyak lagi. Pelajar atau mahasiswa –misalnya- yang belajar (menuntut ilmu) dengan bersungguh-sungguh dengan niat yang ikhlas karena Allah swt, maka ia bisa disebut pejuang. Tapi sebaliknya jika ada pelajar atau mahasiswa yang belajar tidak sungguh-sunguh, yang hidupnya hanya berfoya-foya menghabiskan uang orang tuanya, apa lagi sampai melibatkan diri dalam narkoba, maka itu disebut pecundang, bukan pejuang. Bahkan penghancur perjuangan bangsa ini. Ingat bahwa Pemuda hari ini adalah Pemimpin masa depan. Hanya mereka yang giat belajar lah yang bisa memegang Kepemimpinan kelak.

Petani yang bekerja sunguh-sungguh menanam dan merawat tanamannya dengan baik, sehingga menghasilkan panen yang melimpah, itu juga bisa disebut pejuang. Asal dia bekerja ikhlash karena Allah swt. Pedagang yang menjajakan dagangannya dengan sungguh-sungguh dan jujur, sehingga menghasilkan keuntungan yang banyak, yang bisa mencukupi kebutuhan keluarganya dan juga berbagi kepada sesama adalah termasuk pejuang juga. Demikian juga orang muslim yang rajin beribadah dan memakmurkan masjid di lingkungannya, sehingga banyak tetangga kanan kiri yang mengikuti ibadahnya, maka dia juga bisa disebut sebagai pejuang.

Jadi Pejuang itu meliputi banyak hal.Segala kegiatan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh itu bisa dikategorikan sebagai pejuang. Tidak seperti sebagian orang yang selalu menganggap bahwa perang itu ya berhadapan dengan musuh, kapan pun dan di mana pun. Tidak mengenal situasi damai. Mereka selalu menganggap orang lain yang tidak sejalan dengan nya adalah musuh. Sungguh itu adalah pemahaman yang sempit dalam pemahaman konsep jihad dalam Islam.

Oleh karena itu melalui tulisan singkat ini kita berharap semoga semakin hari, semakin banyak orang yang memahami perjuangan itu dengan makna yang sangat luas. Sehingga negara kita ini terasa damai dan benar-benar aman dari berbagai ancaman. Sehingga negara kita menjadi negara “Baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur”, Negara yang makmur, damai dan diampuni oleh Allah swt. Dan itu dapat tercapai dengan warganya yang menjadi SDM-SDM unggul yang semua bekerja dengan sungguh-sungguh sesuai dengan posisinya masing-masing. Wallahu a’lam. (*)