CIPTAAN SENDIRI : Kosasih sedang memamerkan ikan hias golden black balon ciptaanya yang banyak disukai warga Thailand dan Singapura. FOTO : INDRA SIREGAR/RADAR DEPOK
CIPTAAN SENDIRI : Kosasih sedang memamerkan ikan hias golden black balon ciptaanya yang banyak disukai warga Thailand dan Singapura. FOTO : INDRA SIREGAR/RADAR DEPOK

 

Hanya bermodalkan lahan sempit di sekitar rumahnya, Kosasih bisa membudidayakan ribuan ikan hias dari berbagai jenis hingga mengekspornya ke luar negeri.

LAPORAN : INDRA ABERTNEGO SIREGAR

RADARDEPOK.COM – Di sebuah rumah berukuran minimalis, di sudut sempit padatnya rumah–rumah penduduk, di Gang 1000, RT05/05, Kelurahan Sukamaju Baru, Tapos, Kosasih memanfaatkan lahan yang tersisah di sekitar rumahnya sebagai lahan budidaya ikan hias.

“Saya punya 36 kolam semen yang saya buat di samping rumah dan di atap rumah ini,” katanya saat menunjukan kolam yang berada di samping rumahnya.

Kosasih juga naik ke atap rumahnya untuk memantau perkembangan ikan hiasnya di kolam atas rumah. Satu persatu dinaikinya tangga kecil yang dibuatnya untuk mencapai kolam–kolam yang dia buat di atas rumahnya.

Sesampainya di atap rumah, hamparan kolam ikan yang terbuat dari coran semen dengan berhiaskan tumbuhan eceng gondok menyambutnya. Satu persatu kolam itu di intipnya untuk melihat ikan–ikan yang ada di sana.

“Saya pelihara ikan simson, gapih, cupang hias dan adu, palmas, kalidoras, lele hias, manfish, serta ikan black tail,” tutur pria yang sudah menekuni budidaya ikan hias sejak tahun 1983 ini.

Dia mengungkapkan, ikan – ikan tersebut sudah dipesan oleh seorang suplaiyer di sekitar tempat tinggalnya untuk diekspor ke mancanegara. “Biasanya ikan saya diekspor ke Tahiland, Singapur, Malaysia, dan berbagai negara lain di Asia Tenggara ini,” katanya.

Per ekornya, dia menjual ikan dengan harga yang bervariatif tergantung jenis dan ukuran ikan tersebut. Dia mencontohkan, saat ini ikan yang paling mahal yang dia jual adalah ikan palmas.

Untuk ukuran dua setengah inci saja per ekornya ikan palmas dia hargai Rp 2500. Sedangkan yang paling murah adalah ikan  black tail. Untuk ukuran sebesar satu inci, ikan black tail dia hargai Rp180 perak.

“Biasanya saya menjual ribuan ekor ikan ke suplaier karena memang sudah di kontrak oleh para pembeli dari Thailand dan Singapura,” bebernya.

Dia mengakui, lewat budidaya ikan hias sangat membantu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya. Lewat kegiatan tersebut setiap bulannya dia bisa menerima keuntungan bersih paling sedikit Rp. 6 Juta.

“Alhamdulilah rejeki ada saja dari budidaya ikan hias ini,” ucapnya.

Selain untung yang cukup besar, budidaya ikan hias juga sudah mengharumkan namanya di kancah internasional lewat ekperimenya melahirkan varietas ikan hias baru yang dia  namai golden black balon.

Dia mengatakan, golden black yang saat ini ada di kolam miliknya merupakan satu –satunya farietas ikan yang ada di pasaran karena memang dia belum menjualnya kepada kalangan umum hanya di ekspor ke luar negeri.

“Waktu pertama saya menawarkan iklan ini ke suplaiyer saya, rekanan suplaiyer saya orang Thailand sama orang Singapura langsung memuji ikan cetakan saya. Kata mereka sangat bagus dan mereka tertarik untuk membelinya,” kenang Kosasih.

Dia menjelaskan, untuk melahirkan varietas ikan hias golden black balon tersebut, dia menghabiskan waktu selama sembilan bulan lamanya untuk mencoba mengawinkan ikan golden black dari berbagai jenis hingga akhirnya terlahir ikan kebanggaanya tersebut.

“Ikan golden black balon saya ini punya keindahan tersendiri diantara ikan lainnya, yaitu warna badannya sangat keemasan, badanya lebih bulat, ekornya pendek dan cagak membentuk bulan sabit,” ungkapnya. (bersambung)