RIANG : Sejumlah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) sedang melakukan kegiatan belajar di SLB Negeri Kota Depok, Kelurahan Ratujaya, Kecamatan Cipayung. FOTO : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
RIANG : Sejumlah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) sedang melakukan kegiatan belajar di SLB Negeri Kota Depok, Kelurahan Ratujaya, Kecamatan Cipayung. FOTO : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Pemerintah pusat sudah mengeluarkan aturan untuk anak-anak Indonesia wajib menempuh pendidikan selama 12 tahun atau setara sekolah menengah atas (SMA). Tidak terkecuali untuk anak berkebutuhan khusus (ABK).

Pemerintah Kota Depok juga mengeluarkan aturan bahwa sekolah negeri tidak boleh menolak ABK untuk belajar bersama anak normal lainnya.

Karena pada dasarnya sekolah inklusi adalah memberikan fasilitas pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) bersama dengan anak-anak normal untuk mengoptimalkan potensi mereka.

Walaupun sudah berjalan beberapa tahun kebelakang, sekolah negeri yang dinobatkan menjadi sekolah inklusi, belum juga memiliki guru linier dari lulusan Pendidikan Luar Biasa (PLB).

Kepala Dinas Pendidikan Kota Depok, Mohamad Thamrin mengatakan, Kota Depok belum memiliki sumber daya manusia (SDM) atau guru khusus untuk menangani anak inklusi di sekolah negeri. Guna memenuhi kebutuhan ABK, Disdik memberikan kesempatan sekolah untuk merekrut guru dari lembaga psikolog.

“Sekolah inklusi baik SD dan SMP Negeri memang belum memiliki guru linier inklusi, tapi tidak masalah kalau sekolah ingin rekrut guru dari lembaga luar,” kata Thamrin kepada Radar Depok, Rabu (28/8).

Dia menjelaskan, bahwa ada 14 sekolah inklusi di Kota Depok yang tersebar di 11 kecamatan. Di antaranya 11 Sekolah Dasar Negeri (SDN) dan tiga Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN). Guru pendamping atau shadow teacher juga di sesuaikan dengan kebutuhan sekolah.

Dinas Pendidikan Kota Depok menganggarkan sebesar Rp50 juta per tahun dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) untuk sekolah rujukan inklusi. Dimana uang tersebut digunakan untuk membayar honor guru pendamping, serta kebutuhan anak seperti terapi.

“Uang sebesar Rp50 juta itu digunakan untuk seluruh anak inklusi bukan perorangan dan cuman di sekolah rujukan. Kalau ada ABK di sekolah lain yang masih satu kecamatan dengan sekolah rujukan, bisa bergabung pada saat terapi. Jadi terapinya tidak berjalan masing-masing,” terang Thamrin.

Adapun daftar rujukan sekolah inklusi di Kota Depok, di antaranya SDN Depok Baru 8, SDN Cilangkap 2, SDN Beji 2, SDN Bojongsari 1, SDN Palsigunung, SDN Cipayung 4, SDN Kalibaru 3, SDN Sawangan 2, SDN Cisalak 3, SDN Meruyung, SDN Gandul 1, SMPN 8, SMPN 18, dan SMPN 19.

Guna memenuhi kebutuhan SDM di sekolah negeri, Thamrin melanjutkan, bahwa tidak menutup kemungkinan Pemkot Depok akan merekrut guru honorer lulusan Pendidikan Luar Biasa (PLB).

“Kalau untuk jadi Pegawai Negeri Sipil mungkin sulit karena itu kewenangan pemerintah pusat. Mungkin untuk antisipasina rekrut guru honorer yang liniernya PLB. Supaya kebutuhan ABK terpenuhi dengan yang memiliki kompetennya langsung,” pungkas Thamrin. (rd)

 

Tentang Sekolah Inklusi di Depok :

– Depok belum juga memiliki guru linier dari lulusan Pendidikan Luar Biasa (PLB)

– Guna memenuhi kebutuhan ABK, Disdik memberikan kesempatan sekolah untuk merekrut guru dari lembaga psikolog.

– Ada 14 sekolah inklusi di Kota Depok yang tersebar di 11 kecamatan.

– Guru pendamping atau shadow teacher juga di sesuaikan dengan kebutuhan sekolah.

– Dinas Pendidikan Kota Depok menganggarkan sebesar Rp50 juta per tahun dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) untuk sekolah rujukan inklusi

– Uang tersebut digunakan untuk membayar honor guru pendamping, serta kebutuhan anak seperti terapi.

– Adapun daftar rujukan sekolah inklusi di Kota Depok :

  1. SDN Depok Baru 8
  2. SDN Cilangkap 2
  3. SDN Beji 2
  4. SDN Bojongsari 1
  5. SDN Palsigunung
  6. SDN Cipayung 4
  7. SDN Kalibaru 3
  8. SDN Sawangan 2
  9. SDN Cisalak 3
  10. SDN Meruyung
  11. SDN Gandul 1
  12. SMPN 8
  13. SMPN 18
  14. SMPN 19

– Tidak menutup kemungkinan Pemkot Depok akan merekrut guru honorer lulusan Pendidikan Luar Biasa (PLB).

 

Jurnalis : Nur Aprida Sani

Editor : Pebri Mulya